<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231</id><updated>2011-12-20T19:20:13.667-08:00</updated><category term='kalimantan Timur'/><category term='Minahasa'/><category term='Jawa Barat'/><category term='Jambi'/><category term='Kalimantan Tengah'/><category term='Sumatra Barat'/><category term='sulawesi tengah'/><category term='Madura'/><category term='dongeng'/><category term='batam'/><category term='Jakarta'/><category term='Maluku'/><category term='Lampung'/><category term='Nusa Tenggara timur'/><category term='sulawesi utara'/><category term='Jawa Tengah'/><category term='rembang'/><category term='Kalimantan selatan'/><category term='Bali'/><category term='Jawa Timur'/><category term='melayu sambas'/><category term='Nusa Tenggara Barat'/><category term='sumatra utara'/><category term='yogyakarta'/><category term='Bintan'/><category term='Aceh'/><category term='Bangka Belitung'/><category term='Irian Jaya'/><category term='Halmahera'/><category term='Sumatra Selatan'/><category term='Bengkulu'/><category term='Riau'/><category term='Kalimantan Barat'/><title type='text'>Dongeng Nusantara I Indonesian Folktales</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>180</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-3648912533153332312</id><published>2011-12-20T19:19:00.002-08:00</published><updated>2011-12-20T19:20:13.684-08:00</updated><title type='text'>Ali Baba dan 40 Penyamun</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande'; font-size: 11px; "&gt;&lt;div class="post-body entry-content" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; "&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; margin-bottom: 10px; line-height: 15px; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Dahulu kala, dikota Persia, hidup 2 orang bersaudara yang bernama Kasim dan Alibaba. Alibaba adalah adik Kasim yang hidupnya miskin dan tinggal didaerah pegunungan. Ia mengandalkan hidupnya dari penjualan kayu bakar yang dikumpulkannya. Berbeda dengan abangnya, Kasim, seorang yang kaya raya tetapi serakah dan tidak pernah mau memikirkan kehidupan adiknya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Suatu hari, ketika Alibaba pulang dari mengumpulkan kayu bakar, ia melihat segerombol penyamun yang berkuda. Alibaba segera bersembunyi karena takut jika ia terlihat, ia akan dibunuh. Dari tempat persembunyiannya, Alibaba memperhatikan para penyamun yang sedang sibuk menurunkan harta rampokannya dari kuda mereka. Kepala penyamun tiba-tiba berteriak, "Alakazam ! Buka…..". Pintu gua yang ada di depan mereka terbuka perlahan-lahan. Setelah itu mereka segera memasukkan seluruh harta rampokan mereka. "Alakazam ! tutup… " teriak kepala penyamun, pintu gua pun tertutup. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Setelah para penyamun pergi, Alibaba memberanikan diri keluar dari tempat sembunyinya. Ia mendekati pintu gua tersebut dan meniru teriakan kepala penyamun tadi. "Alakazam! Buka….." pintu gua yang terbuat dari batu itu terbuka. "Wah… Hebat!" teriak Alibaba sambil terpana sebentar karena melihat harta yang bertumpuk-tumpuk seperti gunung. "Gunungan harta ini akan Aku ambil sedikit, semoga aku tak miskin lagi, dan aku akan membantu tetanggaku yang kesusahan". Setelah mengarungkan harta dan emas tersebut, Alibaba segera pulang setelah sebelumnya menutup pintu gua. Istri Alibaba sangat terkejut melihat barang yang dibawa Alibaba. Alibaba kemudian bercerita pada istrinya apa yang baru saja dialaminya. "Uang ini sangat banyak… bagaimana jika kita bagikan kepada orang-orang yang kesusahan.." ujar istri Alibaba. Karena terlalu banyak, uang emas tersebut tidak dapat dihitung Alibaba dan istrinya. Akhirnya mereka sepakat untuk meminjam kendi sebagai timbangan uang emas kepada saudaranya, Kasim. Istri Alibaba segera pergi meminjam kendi kepada istri Kasim. Istri Kasim, seorang yang pencuriga, sehingga ketika ia memberikan kendinya, ia mengoleskan minyak yang sangat lengket di dasar kendi. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Keesokannnya, setelah kendi dikembalikan, ternyata di dasar kendi ada sesuatu yang berkilau. Istri Kasim segera memanggil suaminya dan memberitahu suaminya bahwa di dasar kendi ada uang emas yang melekat. Kasim segera pergi ke rumah Alibaba untuk menanyakan hal tersebut. Setelah semuanya diceritakan Alibaba, Kasim segera kembali kerumahnya untuk mempersiapkan kuda-kudanya. Ia pergi ke gua harta dengan membawa 20 ekor keledai. Setibanya di depan gua, ia berteriak "Alakazam ! Buka…", pintu batu gua bergerak terbuka. Kasim segera masuk dan langsung mengarungkan emas dan harta yang ada didalam gua sebanyak-banyaknya. Ketika ia hendak keluar, Kasim lupa mantra untuk membuka pintu, ia berteriak apa saja dan mulai ketakutan. Tiba-tiba pintu gua bergerak, Kasim merasa lega. Tapi ketika ia mau keluar, para penyamun sudah berada di luar, mereka sama-sama terkejut. "Hei maling! Tangkap dia, bunuh!" teriak kepala penyamun. "Tolong… saya jangan dibunuh", mohon Kasim. Para penyamun yang kejam tidak memberi ampun kepada Kasim. Ia segera dibunuh. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Istri Kasim yang menunggu dirumah mulai kuatir karena sudah seharian Kasim tidak kunjung pulang. Akhirnya ia meminta bantuan Alibaba untuk menyusul saudaranya tersebut. Alibaba segera pergi ke gua harta. Disana ia sangat terkejut karena mendapati tubuh kakaknya sudah terpotong. Setibanya dirumah, istri Kasim menangis sejadi-jadinya. Untuk membantu kakak iparnya itu Alibaba memberikan sekantung uang emas kepadanya. Istri Kasim segera berhenti menangis dan tersenyum, ia sudah lupa akan nasib suaminya yang malang. Alibaba membawa tubuh Kasim ke tukang sepatu untuk menjahitnya kembali seperti semula. Setelah selesai, Alibaba memberikan upah beberapa uang emas. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Dilain tempat, di gua harta, para penyamun terkejut, karena mayat Kasim sudah tidak ada lagi. "Tak salah lagi, pasti ada orang lain yang tahu tentang rahasia gua ini, ayo kita cari dan bunuh dia!" kata sang kepala penyamun. Merekapun mulai berkeliling pelosok kota. Ketika bertemu dengan seorang tukang sepatu, mereka bertanya,"Apakah akhir-akhir ini ada orang yang kaya mendadak ?". "Akulah orang itu, karena setelah menjahit mayat yang terpotong, aku menjadi orang kaya". "Apa! Mayat! Siapa yang memintamu melakukan itu?" Tanya mereka. "Tolong antarkan kami padanya!". Setelah menerima uang dari penyamun, tukang sepatu mengantar mereka ke rumah Alibaba. Si penyamun segera memberi tanda silang dipintu rumah Alibaba. "Aku akan melaporkan pada ketua, dan nanti malam kami akan datang untuk membunuhnya," kata si penyamun. Tetangga Alibaba, Morijana yang baru pulang berbelanja melihat dan mendengar percakapan para penyamun. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Malam harinya, Alibaba didatangi seorang penyamun yang menyamar menjadi seorang pedagang minyak yang kemalaman dan memohon untuk menginap sehari dirumahnya. Alibaba yang baik hati mempersilakan tamunya masuk dan memperlakukannya dengan baik. Ia tidak mengenali wajah si kepala penyamun. Morijana, tetangga Alibaba yang sedang berada diluar rumah, melihat dan mengenali wajah penyamun tersebut. Ia berpikir keras bagaimana cara untuk memberitahu Alibaba. Akhirnya ia mempunyai ide, dengan menyamar sebagai seorang penari. Ia pergi kerumah Alibaba untuk menari. Ketika Alibaba, istri dan tamunya sedang menonton tarian, Morijana dengan cepat melemparkan pedang kecil yang sengaja diselipkannya dibajunya ke dada tamu Alibaba. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Alibaba dan istrinya sangat terkejut, sebelum Alibaba bertanya, Morijana membuka samarannya dan segera menceritakan semua yang telah dilihat dan didengarnya. "Morijana, engkau telah menyelamatkan nyawa kami, terima kasih". Setelah semuanya berlalu, Alibaba membagikan uang peninggalan para penyamun kepada orang-orang miskin dan yang sangat memerlukannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 15px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-3648912533153332312?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/3648912533153332312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/12/ali-baba-dan-40-penyamun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3648912533153332312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3648912533153332312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/12/ali-baba-dan-40-penyamun.html' title='Ali Baba dan 40 Penyamun'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-7306313699131319176</id><published>2011-12-20T19:19:00.001-08:00</published><updated>2011-12-20T19:19:33.114-08:00</updated><title type='text'>Entong Gendut</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande'; font-size: 18px; "&gt;Pajak seyogianya diambil seperlima dari hasil panen. Bagian itu bisa berwujud padi, palawija, atau hasil pertanian lainnya, semuanya harus diserahkan kepada tuan tanah. Setelah tahun 1912, tuan tanah tidak mau lagi menerima bagian pajaknya. Dia minta kenaikan dua kali lipat. Alasannya, antara lain karena hasil panen jauh lebih bagus dari musim lalu. Dengan perbaikan sistem irigasi dari sungai ke sawah-sawah membuat hasil panen berlipat ganda, serta akibat pengukuran ulang. Tidak diremehkan pula kegigihan para mandor melakukan kontrol menjelang potong padi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande'; "&gt;&lt;div class="separator" style="text-align: justify;clear: both; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; "&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_sAjB_jH-eXU/S9I9PBLdONI/AAAAAAAAALo/iJxbydNzTJg/s1600/entong.jpg" imageanchor="1" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; color: rgb(59, 89, 152); text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;img border="0" height="338" src="http://2.bp.blogspot.com/_sAjB_jH-eXU/S9I9PBLdONI/AAAAAAAAALo/iJxbydNzTJg/s400/entong.jpg" width="400" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Umumnya para petani keberatan. Kenaikan 20% bukan hal ringan. Pajak yang berat. Para petani usul agar pajak itu diganti dengan sewa tanah. Akan tetapi, tuan tanah menolak sebab dialah yang berkuasa. Jadi, dia pulalah yang menentukan. Mereka yang merasa keberatan lebih baik pindah ke gunung saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Praktek-praktek busuk para mandor beserta centeng-centengnya di sawah waktu menimbang padi sangat meresahkan para petani. Kalau menimbang padi untuk pajak tuan tanah dilebih-lebihkan. Pihak petani dirugikan terus. Merekalah yang selalu menerima bagian paling buruk dan paling sedikit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegiatan lain yang meresahkan para petani adatah “kompenian”, yaitu kerja bakti tanpa upah untuk kepentingan para tuan tanah. Para petani dan warga desa, laki-laki dewasa pada umumnya, bersungut-sungut. Mereka sering berbisik-bisik atau berunding sembunyi-sembunyi untuk melakukan perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Patahkan saja lehernya!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah seorang petani dan warga desa lainnya menyambut dengan bersemangat, “Ya, nanti kita patahkan lehernya!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suasana makin panas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuan tanah tahu suasana panas itu. Para petani dan warga desa tidak main-main. Oleh karena itu, permintaan agar pajak diganti dengan sewa tanah diluluskan. Akan tetapi, banyak petani yang akhirnya tidak mampu membayar. Barang-barang mereka dirampas mandor dan diserahkan kepada tuannya. Kalau tetap tidak bisa membayar sewa tanah, atau tidak ada lagi barang untuk menutup, rumah harus dijual. Pembelinya tuan tanah juga dengan harga amat murah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuan tanah sering hanya mendapat rumah rusak. Dia lalu memerintahkan mandor dan para centeng untuk membakar. Petani-petani malang itu makin sengsara. Sejak itu suasana semakin buruk.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tanggal 14 Mei 1914 ada suatu peristiwa, yaitu Taha dihadapkan ke pengadilan. Dia petani dari Batuampar. Dia diputuskan pengadilan harus membayar pajak sebesar 7 gulden. Kalau tidak bisa membayar, rumahnya akan segera disita.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian, Taha bercerita kepada kawan-kawannya. Mereka berkumpul di kebun Jaimin, tidak jauh dari rumah Taha, Orang-orang itu diberi semangat oleh Entong Gendut. Lalu, mereka berteriak bahwa putusan itu tidak adil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenyataannya, tiga hari kemudian rumah Taha disita, Tuan tanah hanya membayar 4 1/2 gulden. Untuk melunasi utang pajak saja masih kurang. Gema tidak puas melanda Batuampar, Entong Gendut dan kawan-kawannya marah sekali. Namun, untuk melakukan perlawanan terhadap tuan tanah, Para mandor, dan centengnya, masih dirasa berat bagi Entong Gendut. Dia dan kawan-kawannya harus mempersiapkan din terlebih dulu, antara lain dengan belajar dan berlatih silat. Entong Gendut sebagai pelatih karena sejak dulu dia dikenal sebagai pendekar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entong Gendut dibantu Modin dan Maliki. Mereka dari Batuampar juga. Anggota perkumpulan silatnya semula hanya beberapa gelintir orang, tetapi akhirnya bertambah, mencapai lebih dari 400 orang. Di antaranya yang bersungguh-sungguh adalah Haji Amat Awab, Said Keramat, Nadi, dan Dullah. Orang-orang Arab ada juga yang ikut, antara lain Ahmad Alhadat, Said Muksin Alatas dari Cawang, dan Alaidrus dari Cililitan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa berikutnya terjadi di Vila Nova, rumah mewah milik Lady Rollinson di Cililitan Besar. Malam itu tanggal 5 April 1916 berlangsung pesta amat meriah. Hiburan untuk rakyat sekitar juga semarak. Tuan Ament pemilik tanah luas di Tanjung Timur datang dengan mobilnya. Sebelum sampai di jembatan, sekelompok orang tidak dikenal melempari mobilnya dengan batu. Tuan Ament tidak mempersoalkan kaca belakang mobilnya yang pecah dan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;penyok-penyok itu. Dia bergegas masuk ke pelataran rumah Lady Rollinson. Di situ dia bergabung dengan tamu-tamu terhormat lainnya. Dia ikut menyaksikan hidangan seni berupa musik dan tari-tarian yang menyenangkan. Dia merasakan nikmatnya wiski, gurihnya daging kalkun, dan semerbaknya panggang babi. Dia bertukar pengalaman dengan kawan-kawannya yang sederajat. Ada tuan tanah Kemayoran, tuan tanah Pondok Gede, para wedana, serta tidak ketinggalan pula noni-noni bermata biru berambut pirang dan sinyo-sinyo yang tertawa-tawa kecil dan agak malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di luar halaman berpagar tinggi itu rakyat menonton hiburan gratis seperti topeng dan wayang kulit. Mereka berjubel. Sekali-sekali mereka yang berada di luar pagar itu memperhatikan pemandangan pesta di halaman rumah Lady Rollinson.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pesta di dalam makin menghangat. Pasangan-pasangan berdansa diiringi musik. Lalu, mendekatlah seorang pelayan kepada Lady Rollinson.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bagaimana, Tija?” tanya nyonya majikannya. “Saya sudah tahu, Nyonya.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jadi, benar Entong Gendut pimpinannya?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tidak salah, Nyonya.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dia pula yang menggerakkan orang untuk melempari mobil tuan Ament?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ya, Nyonya.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lady Rollinson mendekati Tuan Ament dan menganjurkan agar dia melapor ke komandan polisi dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tentu saja, Lady Rollinson,” jawab Tuan Ament, “pada waktu yang diperlukan saya bisa bertindak cepat. Sekarang tenang saja dulu.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba tetabuhan di luar pagar berhenti. Orang-orang yang berjualan makanan dan minuman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;menutup kegiatannya. Para penonton bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Seketika sepi dan lampu-lampu keramaian dimatikan. Hal itu membuat tamu-tamu yang berpesta di rumah Lady Rollinson mulai berpikir, jangan-jangan bahaya mengancam. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik mereka minta diri kepada nyonya rumah. Mereka tergesa-gesa pulang dengan bendi atau mobil. Lady Rollinson ikut gelisah dan marah. Dia segera lapor kepada komandan polisi dan berkeluh kesah kepada residen.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, pengaruh Entong Gendut dan pembantu-pembantu dekatnya makin kuat. Apa yang dikatakan Entong Gendut diikuti semua oleh warga Batuampar dan sekitarnya. Wedana Meester Cornelis didatangi bawahannya yang menyampaikan laporan. Ia mengatakan bahwa pengaruh bek di kelurahan tidak bermanfaat lagi. Telinga dan mulut Entong Gendut ada di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wedana Meester Cornelis dikawal komandan pasukan serta polisi melakukan peninjauan ke Batuampar. Di depan rumah yang diduga milik Entong Gendut, dia langsung memerintahkannya keluar, kalau tidak pintu akan didobrak. Entong Gendut menjawab dari dalam akan bersembahyang dulu. Selesai sembahyang, Entong Gendut menampakkan diri. Dia berjubah putih, di dadanya tersembul keris, dan tangannya memegang tombak panjang. Para pengawalnya bersorban dan bertombak berdiri di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku raja dan aku tidak mau tunduk kepada siapa pun. Aku tidak mau mengikuti pimpinan hukum, apalagi buatan Belanda.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wedana Meester Cornelis berunding dengan opsir-opsir polisi. Sementara itu Entong Gendut meneruskan bicaranya, “Wedana, ketahuilah. Aku amat malu kepada kawan-kawanku para tuan tanah. Mereka telah membakar rumah penduduk miskin. Apa salah mereka? Hanya karena mereka petani miskin dan tidak mampu membayar pajak serta sewa tanah yang mahal, lalu rumah mereka dihanguskan? Amat disayangkan!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para pengikut Entong Gendut lainnya keluar dari semak-semak. Mereka bersenjatakan panah dan tombak. Wedana dan para pengawalnya kaget sekali. Dia lalu memerintahkan untuk melepaskan tembakan, ramailah kampung Batuampar. Tidak sedikit polisi kena bacok dan tertembus anak pariah. Entong Gendut bersuara lantang. Teriakan-teriakan Allahu Akbar menggema.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Amuk, amuk!” teriak anak buah Entong Gendut sambil melemparkan tombak dan mengayunkan pedang. Serdadu Bala bantuan datang. Anak buah Entong Gendut banyak yang bergelimpangan. Beberapa rumah terbakar, penduduk yang tua, kaum perempuan, dan anak-anak diungsikan. Akan tetapi, korban warga Batuampar semakin banyak juga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entong Gendut terluka. Dadanya tertembus peluru, darah segar mewarnai jubahnya yang putih. Anak buahnya mengerumuninya. Wedana Meester Cornelis memerintahkan komandan pasukan untuk mengikat tangan Entong Gendut. Lalu, dia dinaikkan ke tandu dan diangkut ke Rumah Sakit Kwini. Namun, di tengah perjalanan, Entong Gendut tidak bernapas lagi. Para pengikutnya dikejar-kejar polisi. Mereka terus dicari sampai ke Condet dan Tanjung Timur. Setelah tertangkap, mereka dimasukkan ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-7306313699131319176?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/7306313699131319176/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/12/entong-gendut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7306313699131319176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7306313699131319176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/12/entong-gendut.html' title='Entong Gendut'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_sAjB_jH-eXU/S9I9PBLdONI/AAAAAAAAALo/iJxbydNzTJg/s72-c/entong.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-7728413347917865797</id><published>2011-12-20T19:17:00.001-08:00</published><updated>2011-12-20T19:17:49.136-08:00</updated><title type='text'>Gadis Penjual Korek Api</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande'; font-size: 11px; "&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; margin-bottom: 10px; line-height: 15px; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 18px; "&gt;Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api. "Mau beli korek api?" "Ibu, belilah korek api ini." "Aku tidak butuh korek api, sebab di rumah ada banyak." Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="text-align: justify;clear: both; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; "&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_8CWBcntPKMc/SDTru1y9z7I/AAAAAAAAAI8/PZ3mCTMl-48/s1600/gadis+penjual+korek+api.jpg" imageanchor="1" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; color: rgb(59, 89, 152); text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;img border="0" src="http://bp2.blogger.com/_8CWBcntPKMc/SDTru1y9z7I/AAAAAAAAAI8/PZ3mCTMl-48/s320/gadis+penjual+korek+api.jpg" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan dipukuli oleh ayahnya. Ketika akan menyeberangi 'alan. Grek! Grek! Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya. "Hyaaa! Awaaaaas!" Gadis itu melompat karena terkejut. Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan. Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak lakilaki memungut sepatu itu lalu melarikan diri. "Wah, aku menemukan barang yang bagus." &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan diterima dari ayahnya. Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya. Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan natal yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata. "Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan natal seperti ini." Dari jendela terlihat pohon natal berkelipkelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah. Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salju yang dingin terus turun. Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya. "Kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan sedikit terasa hangat." Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Crrrs Lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat. "Oh, hangatnya." Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padaamtungku pemanaspun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat. "Wow! Kelihatannya enak." Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi. Crrrs! &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon natal yang besar. "Wow! Lebih indah daripada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi." Pada pohon natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar. "Wah! Indah sekali!" Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin. Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih. "Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan,ya... Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya." Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada Neneknya yang baik hati. Kemudian gadis itu menyalakan sebatang lilin la i. Lalu di dalam cahaya api muncul wujud Nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, Nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Nenek!" Serasa mimpi gadis itu melo ' mpat ke dalam pelukan Nenek. "Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu' " Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan Nenek yang disayanginya. "Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek." Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam. "Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi..." &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang harl. Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit dengan perlahanlahan. "Nenek, kita mau pergi ke mana?" "Ke tempat Tuhan berada." &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, "Kalau sampai di surga, Ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita." Gadis itu tertawa senang. Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju. "Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini." "Cepat panggil dokter!" &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu. Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata, "Kasihan kamu, Nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah." Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada Tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-7728413347917865797?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/7728413347917865797/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/12/gadis-penjual-korek-api.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7728413347917865797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7728413347917865797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/12/gadis-penjual-korek-api.html' title='Gadis Penjual Korek Api'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_8CWBcntPKMc/SDTru1y9z7I/AAAAAAAAAI8/PZ3mCTMl-48/s72-c/gadis+penjual+korek+api.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-5735310079676059448</id><published>2011-12-20T19:16:00.000-08:00</published><updated>2011-12-20T19:17:09.586-08:00</updated><title type='text'>Cinderalla</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'lucida grande'; font-size: 11px; "&gt;&lt;div class="post-body entry-content" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; "&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; margin-bottom: 10px; line-height: 15px; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px; "&gt;Di sebuah kerajaan, ada seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya "Cinderela". Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. "Nama yang cocok buatmu !" kata mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. "Asyik… kita akan pergi dan berdandan secantik-cantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira", kata mereka. Hari yang dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderela mulai berdandan dengan gembira. Cinderela sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana. "Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?", kata kakak Cinderela. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras-kerasnya karena hatinya sangat kesal. "Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi.." Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. "Cinderela, berhentilah menangis." Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum dengan ramah. "Cinderela bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal." Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. "Sim salabim!" sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir, Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena gembiranya, Cinderela mulai menari berputar-putar dengan sepatu kacanya seperti kupu-kupu. Peri berkata,"Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam. "Ya Nek. Terimakasih," jawab Cinderela. Kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderela menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela. Mereka sangat kagum dengan kecantikan Cinderela. "Cantiknya putrid itu! Putri dari negara mana ya ?" Tanya mereka. Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderela. "Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?" katanya. "Ya…," kata Cinderela sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di situ tidak menyangka kalau putrid yang cantik itu adalah Cinderela. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. "Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini," kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. "Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,". Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana. Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak Cinderela. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. "Aku akan mencarimu," katanya bertekad dalam hati. Meskipun Cinderela kembali menjadi gadis yang penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela. "Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini," kata para pengawal. Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderela. "Hai kamu, cobalah sepatu ini," katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi marah," tidak akan cocok dengan anak ini!". Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. "Ah! Andalah Putri itu," seru pengawal gembira. "Cinderela, selamat..," Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. "Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.," katanya. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="text-align: justify;clear: both; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; "&gt;&lt;a href="http://images.easyart.com/i/prints/rw/lg/7/2/Maxi-Posters-Disney-Princess---Cinderella-72366.jpg" imageanchor="1" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; color: rgb(59, 89, 152); text-decoration: none; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://images.easyart.com/i/prints/rw/lg/7/2/Maxi-Posters-Disney-Princess---Cinderella-72366.jpg" width="213" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin. "Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali", kata sang peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana, Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia. Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; margin-bottom: 10px; line-height: 15px; "&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="clear: both; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; outline-width: 0px; outline-style: initial; outline-color: initial; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-5735310079676059448?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/5735310079676059448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/12/cinderalla.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5735310079676059448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5735310079676059448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/12/cinderalla.html' title='Cinderalla'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-3156986379347615262</id><published>2011-11-15T06:27:00.001-08:00</published><updated>2011-11-15T06:27:43.356-08:00</updated><title type='text'>Asal Usul Danau Lipan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota  Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang  terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah  tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu  merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu kala  kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika  itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan  nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya  sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkenallah  pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita.  Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak  lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya  maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui  kerongkongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih  ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera berangkat dengan  Jung besar beserta bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji  Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri  jelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang  Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi  malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh  Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana.  Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan  bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara  menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut  seperti anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia  pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati  dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai  santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak  dengan penuh murka sambil berkata, "Betapa hinanya seorang putri  berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti  anjing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan  kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak  mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan  murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan  untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke  jungnya untuk kembali dengan segenap bala tentara yang kuat guna  menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang dahsyat pun  terjadilah antara bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang  dari laut melawan bala tentara Aji Bedarah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata  tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan bala tentara  Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya  pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah  membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina.  Karena itu timbullah kemurkaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri pun segera makan sirih  seraya berucap, "Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah  sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta  seluruh bala tentaranya." Selesai berkata demikian, disemburkannyalah  sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu.  Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu  ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang bala  tentara Cina yang sedang mengamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bala tentara Cina yang  berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara  yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari  lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud  akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu,  tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu  untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah  diucap untuk membinasakan Raja dan bala tentara Cina, maka dengan  bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap  bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya  mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara  itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan  bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani,  sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang  tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan  dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan  nama Danau Lipan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disadur dari Masdari Ahmad, Kumpulan Cerita  Rakyat Kutai, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1979)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-3156986379347615262?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/3156986379347615262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/asal-usul-danau-lipan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3156986379347615262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3156986379347615262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/asal-usul-danau-lipan.html' title='Asal Usul Danau Lipan'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-6082942290336632734</id><published>2011-11-15T06:26:00.002-08:00</published><updated>2011-11-15T06:27:16.451-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><title type='text'>Telaga Pasir</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kyai Pasir dan Nyai Pasir adalah  pasangan suami isteri yang hidup di hutan gunung Lawu. Mereka berteduh  di sebuah rumah (pondok) di hutan lereng gunung Lawu sebelah timur.  Pondok itu dibuat dari kayu hutan dan beratapkan dedaunan. Dengan pondok  yang sangat sederhana ini keduanya sudah merasa sangat aman dan tidak  takut akan bahaya yang menimpanya, seperti gangguan binatang buas dan  sebagainya. Lebih-lebih mereka telah lama hidup di hutan tersebut  sehingga paham terhadap situasi lingkungan sekitar dan pasti dapat  mengatasi segala gangguan yang mungkin akan menimpa dirinya.Pada suatu  hari pergilah Kyai Pasir ke hutan dengan maksud bertanam sesuatu di  ladangnya, sebagai mata pencaharian untuk hidup sehari-hari. Oleh karena  ladang yang akan ditanami banyak pohon-phon besar, Kyai Pasir terlebih  dahulu menebang beberapa pohon besar itu satu demi satu. &lt;/span&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tiba-tiba Kyai Pasir terkejut karena  mengetahui sebutir telur ayam terletak di bawah salah sebuah pohon yang  hendak ditebangnya. Diamat-amatinya telur itu sejenak sambil bertanya di  dalam hatinya, telur apa gerangan yang ditemukan itu. Padahal di  sekitarnya tidak tampak binatang unggas seekorpun yang biasa bertelur.  Tidak berpikir panjang lagi, Kyai Pasir segera pulang membwa telur itu  dan diberikan kepada isterinya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kyai Pasir menceritakan ke Nyai Pasir awal  pertamanya menemukan telur itu, sampai dia bawa pulang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Akhirnya  kedua suami isteri itu sepakat telur temuan itu direbus. Setelah masak,  separo telur masak tadi oleh Nyai Pasir diberikan ke suaminya.  Dimakannya telur itu oleh Kyai Pasir dengan lahapnya. Kemudian Kyai  Pasir berangkat lagi keladang untuk meneruskan pekerjaan menebang pohon  dan bertanam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam perjalanan kembali ke ladang, Kyai  Pasir masih merasakan nikmat telur yang baru saja dimakannya. Namun  setelah tiba di ladang, badannya terasa panas, kaku serta sakit sekali.  Mata berkunang-kunang, keringat dingin keluar membasahi seluruh  tubuhnya. Derita ini datangnya secara tiba-tiba, sehingga Kyai Pasir  tidak mampu menahan sakit itu dan akhirnya rebah ke tanah. Mereka sangat  kebingungan sebab sekujur badannya kaku dan sakit bukan kepalang. Dalam  keadaan yang sangat kritis ini Kyai Pasir berguling-guling di tanah,  berguling kesana kemari dengan dahsyatnya. Gaib menimpa Kyai Pasir.  Tiba-tiba badanya berubah wujud menjadi ular naga yang besar, bersungut,  berjampang sangat menakutkan. Ular Naga itu berguling kesana kemari  tanpa henti-hentinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Alkisah, Nyai Pasir yang tinggal di rumah  dan juga makan separo dari telur yang direbus tadi, dengan tiba-tiba  mengalami nasib sama sebagaimana yang dialami Kyai Pasir. Sekujur  badannya menjadi sakit, kaku dan panas bukan main. Nyai Pasir menjadi  kebingungan, lari kesana kemari, tidak karuan apa yang dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Karena  derita yang disandang ini akhirnya Nyai Pasir lari ke ladang bermaksud  menemui suaminya untuk minta pertolongan. Tetapi apa yang dijuumpai.  Bukannya Kyai Pasir, melainkan seekor ular naga yang besar sekali dan  menakutkan. Melihat ular naga yang besar itu Nyai Pasir terkejut dan  takut bukan kepalang. Tetapi karena sakit yang disandangnya semakin  parah, Nyai Pasir tidak mampu lagi bertahan dan rebahlah ke tanah. Nyai  Pasir mangalami nasib gaib yang sama seperti yang dialami suaminya.  Demikian ia rebah ke tanah, badannya berubah wujud menjadi seekor ular  naga yang besar, bersungut, berjampang, giginya panjang dan runcing  sangat mengerikan. Kedua naga itu akhirnya berguling-guling kesana  kemari, bergeliat-geliat di tanah ladang itu, menyebabkan tanah tempat  kedua naga berguling-guling itu menjadi berserakan dan bercekung-cekung  seperti dikeduk-keduk. Cekungan itu makin lama makin luas dan dalam,  sementara kedua naga besar itu juga semakin dahsyat pula  berguling-guling dan tiba-tiba dari dalam cekungan tanah yang dalam  serta luas itu menyembur air yang besar memancar kemana-mana. Dalam  waktu sekejap saja, cekungan itu sudah penuh dengan air dan ladang Kyai  Pasir berubah wujud mejadi kolam besar yang disebut Telaga. Telaga ini  oleh masyarakat setempat terdahulu dinamakan Telaga Pasir, karena telaga  ini terwujud disebabakan oleh ulah Kyai Pasir dan Nyai Pasir.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-6082942290336632734?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/6082942290336632734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/telaga-pasir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6082942290336632734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6082942290336632734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/telaga-pasir.html' title='Telaga Pasir'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-1031512668812322840</id><published>2011-11-15T06:26:00.001-08:00</published><updated>2011-11-15T06:26:41.577-08:00</updated><title type='text'>Asal usul Bunga Teratai</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Diceritakan  kembali oleh : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Devi Mega&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu kala ditepi gunung  Semeru ada raja yang arif dan bijaksana serta perhatian kepada  rakyatnya.Raja itu memimpin kerajaan disana.Raja itu bernama Raja  Ranubanu.Raja Ranubanu memiliki putri yang amat cantik yang bernama Dewi  Arum.Sang putri memiliki kebiasaan mandi serta senang sekali bermain  air.&lt;br /&gt;Pada suatu hari,negara UmbulWenig terserang penyakit.Penduduk  desa banyak yang terserang penyakit itu dan banyak penduduk yang  tewas.Raja sedih dengan keadaan itu.Sudah banyak tabib yang didatangkan  namun tidak berhasil.&lt;br /&gt;Disaat raja sudah pasrah datanglah seorang laki  laki yang menghadap raja.Laki laki itu bercerita bahwa dia dapat  isyarat bahwa penyakit itu disebabkan oleh salah satu bunga dan bunga  itu tumbuh ditenggah danau dan harus diambil oleh putri raja.Raja pun  terdiam seketika.&lt;br /&gt;SEtalah memikirkan nasib putrinya,akhirnya putri  dipanggil oleh raja.Berangkatlah putri bersama penggawak kesayanggannya.&lt;br /&gt;Setelah  menempuh perjalanan yang amat meneganggkan akhirnya sampailah dia  disana.Melihat air danau yang sangat jernih dansegar,putri tidak dapat  menahan hasratnya untuk berrenang.akhirnya dia mandi sampai lupa wakyu.&lt;br /&gt;Raja  dan rakyat setia menunggu kedatangan putri dan pengawalnya.Akhirnya  raja menjemput putri dengan perasaaan binggung.&lt;br /&gt;Sesampai disana raja  terkejut dan mengumpat putri “Tidak selayaknya kamu menjadi anak  raja!!Lebih baik kamu menjadi penunggu danau ini” .Akhirnya putri hilang  dan saat itu muncullah bunga teratai yang indah.Dengan persaan menyesal  raja membawa pulang bunga itu,dan sembuhlah semua rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;AMANAT:JANGANLAH MENYALAHGUNAKAN  KEPERCAYAAN ORANG LAIN KEPADA DIRIMU..&lt;br /&gt;NILAI SOSIAL:MENGORBANKAN  PUTRI DEMI KESEJATERAAN RAKYATNYA…&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;!-- http://sunarno.co.cc/id/?p=80 --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-1031512668812322840?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/1031512668812322840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/asal-usul-bunga-teratai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1031512668812322840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1031512668812322840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/asal-usul-bunga-teratai.html' title='Asal usul Bunga Teratai'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-6695937662530726771</id><published>2011-11-15T06:25:00.000-08:00</published><updated>2011-11-15T06:26:02.073-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangka Belitung'/><title type='text'>Datuk Temiang Belah</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Cerita Legenda dari Belitong &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman dahulu kala,sekitar abad ke-18, ditepi  aliran Sungai Letang, Dusun Burung Mandi Desa Mengkubang Kecamatan  Manggar,pulau Belitong,hiduplah sepasang suami istri yang terkenal  dengan gelar “DATUK LETANG”. Untuk kelangsungan hidupnya mereka atasi  dengan berladang padi dan menangkap ikan disungai dengan memakai alat  penangkap ikan dari bambu yang disebut BUBU.Pasangan suami istri  tersebut sampai menjelang usia lanjut belum juga memperoleh seorang  anak.Segala cara dan daya upaya telah mereka lakukan,akan tetapi belum  juga berhasil,akhirnya mereka hanya bisa pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu  hari,Datuk Letang pergi kesungai untuk melihat hasil tangkapan ikan dari  bubunya.Tapi apa yang didapatnya hanyalah sepotong bambu yang  tersangkut pada bubu.Datuk letangpun berpikir, mungkin bukan rejekinya  hari ini untuk bisa makan ikan. Maka batang bambu tersebut beliau  singkirkan dari bubunya, lalu dipasangkannya kembali bubu kedalam  sungai. Tetapi anehnya,berkali-kali bambu tersebut masuk kembali kedalam  bubunya, walaupun setiap kali setelah sekian kali disingkirkan, sekian  kali pula bambu tersebut kembali tersangkut pada bubu beliau.Akhirnya  bambu tersebut beliau ambil dan dibawa pulang kerumah dan diserahkannya  pada istrinya.Oleh istrinya bamboo tersebut dipergunakan untuk alat  penindih tikar tempat menjemur padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian hari bamboo  tersebut dipergunakan oleh istri Datuk Letang (Tuk Letang) untuk  menindih tikar penjemur padi, pada suatu ketika saat istri tuk Letang  sendirian berada dirumah sambil menunggu jemuran padi dengan memegang  sepotong kayu kecil sebagai alat untuk mengusir ayam yang hendak memakan  padi, tanpa sengaja bamboo tersebut terpukul olehnya dan terbelah  menjadi dua bagian. Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang sangat  keras melengking yang sempat membuat istri Tuk Letang terperanjat.  Setelah belaiau dekati bamboo yang terbelah dua tadi, terlihatlah  sesosok bayi yang terbungkus 2 lapis kain. Lapisan Luarnya disebut  CINDAI dan lapisan dalamnya disebut CUKIN. Selanjutnya bayi tersebut  beliau gendong dan ditimang-timang dengan suka citanya. Kegembiraan  beliau mendapatkan bayi yang sudah lama diinginkannya akhirnya terkabul,  sehingga kegembiraan beliau pada hari itu tidak terkirakan.Tanpa tersa  menjelang sore hari baru beliau sadar akan tugas-tugasnya yg terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  sekian hari bayi tersebut dipelihara. Pertumbuhan bayi tersebut sangat  cepat sekali, tidak seperti bayi biasanya.Hal itu membuat suami istri  tersebut semakin gembira dan sangat menyayanginya.Demikian pula dalam  waktu singkat anak tersebut telah pandai berbicara dan bahkan pandai  mengaji dan melaksanakan sholat tanpa ada yang mengajarinya. Sedangkan  pada waktu itu, penyebaran agama Islam belum sampai ke daerah tempat  kediaman mereka. Semua tidak lain karena kekuasaan serta atas kehendak  ALLAH SWT.Melihat keadaan demikian, membuat istri Tuk Letang semakin  bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datung Letangpun sangat berbahagia atas kehadiran anak  yg sudah lama diimpikannya. Namun ada hal yang membuat datuk letang  bersedih. Kehidupannya pada saat itu masih sangat primitif sekali.  karena beliau adalah bukan orang sembarangan. Beliau adalah seseorang  yang sakti serta disegani oleh orang-orang disekitarnya. Kehebantannya  antara lain beliau dapat pergi kepulai jawa hanya 2 kali mengayuh dayung  dengan duduk diatas kayu apung hanya untuk membali garam dapur, dapat  menguusir perompak/bajak laut tanpa memakai senjata . Karena kesaktian  serta kehebatan beliaulah yang membuat tuk letang tidak dapat mengikuti  perilaku anak angkatnya tersebut untuk melaksanakan ajaran islam. Beliau  merasa malu kepada anak angkatnya dan kepada dirinya sendiri. Untuk  mengikuti perbuatan anak angkatnya bagi tuk letang adalah hal yang tidak  mungkin.Karena rasa malunya yang tidak dapat dihilangkannya, akhirnya  tuk letang berniat meninggalkan istri dan anak angkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  itu beliau telah mempersiapkan sebuah perahu yang dibuatnya diam-diam  disebuah pulau kecil yang terletak dipantai Burung mandi.&lt;br /&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 220px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SUuxZkavn7I/AAAAAAAAACo/hU70QEDSeQs/s400/pantai+burung+maindi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281510040852733874" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  merasa persiapan telah rampung, tanpa berpamitan pada istri dan anak  angkatnya, Tuk letang pergi meninggalkan kampung halamannya dan juga  anak angkat dan istrinya. Dan sejak saat itu tidak pernah lagi terdengar  kabar berita tentang Datuk Letang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepergian tuk letang membuat  istri dan anak angkatnya sangat bersedih. Keadaan demikian dirasakannya  pada tahun-tahun pertama kepergian tuk letang, selanjutnya berjalan  dengan waktu mereka dapat melupakan kesedihan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal  Tuk Letang, kehidupan Istri Tuk Letang dan anak angkatnya berjalan  normal. Sang anak angkat telah menjadi seorang pemuda gagah dan tampan  serta taat menjalankan perintah agama islam, Untuk mengatasi kebutuhan  hidupnya, mereka masih berladang padi serta mengankap ikan di sungai dan  dilaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menambah ilmu agamanya, sesekali pemuda gagah dan  tampan tersebut pergi merantau kepelosok negeri meninggalkan ibu &amp;amp;  kampung halamannya,sambil terus menyebarkan agama islam kenegeri-negeri  yang disinggahinya.Akhirnya pemuda tampan dan gagah itu terkenal  diseluruh pelosok negeri dan mendapat gelar ”DATUK TEMIANG BELAH”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  perantauannya beliau menikah dan memperoleh anak.Dan salah satu anak  Datuk Temiang belah bernama ”DALIP” yang nantinya akan menjadi seorang  RAJA disuatu daerah yang terletak dimuara sungai Lenggang yang terkenal  dengan nama ”TANAH GENTING” atau lebih terkenal dengan nama ”KERAMAT  GENTING” Sedangkan sang Raja ”DALIP” dikenal dengan gelar ”KERIA  LENGGANG BERDARAH PUTE”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Temiang Belah yg terkenal  diseluruh pelosok negeri sebagai penyebar agama Islam, semakin sering  meninggalkan kampung halamannya. Ketenaran nama beliau disamping sebagai  penyebar agama Islam adalah karena kesaktian beliau antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  beliau dapat Memotong batu gunung tanpa menggunakan alat pemotong  menjadi 3 bagian. Hal tersebut beliau lakukan ketika menyelesaikan  perselisihan tiga penganut agama agama (islam, kristen dan Kong Fu Tju)  karena masing-masing mereka mengakui batu yang dikeramatkan sebagai  milik mereka. 3 bagian batu gunung tersebut saat ini masih terdapat di  ”PANTAI SAMAK MANGGAR”, yang dianggap keramat oleh masyarakat  sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Belau yang memadamkan kebakaran yang melanda  KERAJAAN MATARAM yang telah berlangsung lama hanya dengan secerek air  yang belaiu kucurkan disekeliling kerajaan. Atas keberhasilannya,  kerajaan Mataram memberikan hadiah sebuah "PARANG KUTING" yang beliau  rubah bentuknya menjadi "KERIS BERLOK TUJUH".keris ini bergagang dan  bersarung emas seberat 2 kg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Beliau juga dapat membuat benda  benda pusaka seperti PEDANG (41 macam)dari yang ukuran sepanjang 1.5  meter sampai hanya sebesar batang lidi. Ada yang diberi nama SUNDANG,  BADIK, KEDIK dan PEDANG LIDI. Ada lagi GONG TULI (2 buah)yang Jika  dipukul oleh keturunannya akan mengeluarkan suara nyaring dan  bergaung.Ada lagi KELINANG (12 buah)yg bentuknya seperti gong dan  besarnya 1/3nya. Ada lagi TOMBAK BERAMBU yaitu Sebuah tombak yang  diujungnya terdapat bulu-bulu/ rambut. Dan juga BATU PETUNANG (1 bh) yg  berbentuk seperti buah kentang terbuat dari kuningan (sebagai alat  membunuh jarak jauh) ada dan lain-lainnya. Benda-benda tersebut sampai  hari ini sebagian dititipkan di MUSIUM TANJUNG PANDAN di BELITUNG. Ahli  waris terakhir yang menyimpan benda-benda pusaka tersebut sebelum  diserahkan ke MUSIUM Tanjung Pandan adalah: Bapak Said bin Unus bin  Mohd.Saleh bin Dalip. Saat ini berusia 80 tahun, dan bertempat tinggal  di Desa Sukamandi Desa Mengkubang Kecamatan Manggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  cerita orang-orang tua, Datuk Temiang Belah dimakamkan secara simbolis  di PUNCAK GUNUNG TAJAM,Belitung.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 206px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SUuxZX0lmmI/AAAAAAAAACg/3YrJvwL-g6g/s400/gunung+tajam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281510037471468130" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakamannya  dipuncak gunung tajam sesuia dengan permintaannya pada saat belaiu  terakhir sekali akan menginggalkan kampung halamannya. Belaiu berpesan,  jika beliau meninggal agar dimakamkan disuatu tempat yang terletak  diantara langit dan bumi.&lt;br /&gt;mengapa disebutkan secara simbolik, karena  yang dimakamkan ditempat tersebut hanyalah TIKAR dan BANTAL beserta  binatang peliharaan beliau seekor kucing yang di kubur berada disamping  makan beliau, dan sampai hari ini makam belau itu dikenal oleh penduduk  Belitong dengan nama KERAMAT GUNUNG TAJAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga berpesan  kepada SELURUH KETURUNANNYA agar melaksanakan Upacara Adat TURUN TANGGA  TEBU. Pelaksanaan upacara adat tersebut saat masih berlaku dan  dilaksanakan oleh para Keturunan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan pelaksanaan  upacara adat tsb antara lain :&lt;br /&gt;1.Bagi anak laki-laki dan turunannya  dari anak laki-lakinya berlangsung seterusnya, mempergunakan 7 tingkatan  tangga tebu.&lt;br /&gt;2.Untuk anak perempuan turunan pertama, mempergunakan 3  tingkat anak tangga tebu, sedangkan untuk selanjutnya turunannya tidak  melaksanakan upacara adat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantangan bagi seluruh  keturunan dari Datuk Temiang Belah antara lain :&lt;br /&gt;1.Dilarang memakan  sayuran yang berasal dari REBUNG BAMBU&lt;br /&gt;2.Dilarang Dipukul dengan  banbu ataupun barang yg beruas atau berbuku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah secara  singkat Legenda sejarah leluhur Datuk Temiang Belah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;Ditulis  ulang &amp;amp; diedit oleh Heldinia tgl 1 Desember 2006&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Buku  Silsilah Keluarga Keturunan Datuk Temiang Belah&lt;br /&gt;Penyusun Bapak Pak  Long SAYUTI bin M.SALEH.A&lt;br /&gt;Dusun Baru Selatan, Manggar Mei 1997&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-6695937662530726771?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/6695937662530726771/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/datuk-temiang-belah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6695937662530726771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6695937662530726771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/datuk-temiang-belah.html' title='Datuk Temiang Belah'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SUuxZkavn7I/AAAAAAAAACo/hU70QEDSeQs/s72-c/pantai+burung+maindi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-2180012152726667837</id><published>2011-11-15T06:24:00.000-08:00</published><updated>2011-11-15T06:25:12.011-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatra Barat'/><title type='text'>Si Malin Kundang</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Dahulu kala di Padang Sumatera Barat  tepatnya di Perkampungan Pantai Air Manis ada seorang janda bernama  Mande Rubayah. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Malin  Kundang. Malin sangat disayang oleh ibunya, karena sejak kecil Malin  Kundang sudah ditinggal mati oleh ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Malin dan  ibunya tinggal di perkampungan nalayan. Ibunya suah tua ia hanya bekerja  sebagai penjual kue. Pada suatu hari Malin jatuh sakit. Tubuhnya  mendadak panas sekali. Mande Rubayah tentu saja sangat bingung. Tidak  pernah Malin jatuh sakit seperti ini. Mande Rubayah berusaha sekuatnya  unuk mengabobati Malin dengan mendatangkan tabib.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Nyawa Malin yang hampir melayang  itu akhirnya dapat diselamatkan berkat usaha keras ibunya. Setelah  sembuh dari sakitnya ia makin disayang. Demikianlah Mande Rubayah sangat  menyayangi anaknya. Sebaliknya Malin juga amat sayang kepada ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Ketika sudah dewasa, Malin  berpamitan kepada ibunya untuk pergi merantau. Pada saat itu memang ada  kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“Bu, ini kesempatan yang baik  bagi saya,” kata Malin. “Belum tentu setahun sekali ada kapal besar  merapat di pantai ini. Saya berjanji akan merubah nasib kita sehingga  kita akan menjadi kaya raya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Meski dengan berat hati akhirnya Mande Rubayah  mengijinkan anaknya pergi. Malin dibekali dengan nasi berbungkus daun  pisang sebanyak tujuh bungkus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Hari-hari berlalu terasa lambat bagi Mande  Rubayah. Setiap pagi dan sore Mande Rubayah memandang ke laut. Ia  bertanya-tanya dalam hati, sampai di manakah anaknya kini? Jika ada  ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dadanya berdebar-debar. Ia  mengadahkan kedua tangannya ke aas sembari berdo’a agar anaknya selamat  dalam pelayaran. Jika ada kapal yang datang merapat ia selalu menanyakan  kabar tentang anaknya. Tetapi semua awak kapal atau nahkoda tidak  pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Malin tidak pernah menitipkan  barang atau pesan apapun kepada ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Itulah yang dilakukan Mande  Rubayah setiap hari selama bertahun-tahun. Tubuhnya semakin tua dimakan  usia. Jika berjalan ia mulai terbungkuk-bungkuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Pada suatu hari Mande Rubayah  mendapat kabar dari nakhoda yang dulu membawa Malin bahwa sekarang malin  telah menikah dengan seorang gadis cantik putri seorang bangsawan kaya  raya. Ia turut gembira mendengar kabar itu. Ia selalu berdo’a agar  anaknya selamat dan segera kembali menjenguknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“Ibu sudah tua Malin, kapan kau  pulang...” rintih MANDE RUBAYAH tiap malam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Namun hingga berbulan – bulan  semenjak ia menerima kabar malin belum juga datang menengoknya. Namun ia  yakin bahwa pada suatu saat Malin pasti akan kembali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Harapannya terkabul. Pada suatu  hari yang cerah dari kejauhan tampak sebuah kapal yang indah berlayar  menuju pantai. Kapal itu megah dan bertingkat – tingkat. Orang kampung  mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka  menyambutnya dengan gembira.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Ketika  kapal itu mulai merapat, tampak sepasang muda mudi berdiri di anjungan.  Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah  dihiasi senyum. Mereka nampak bahagia karena disambut dengan meriah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Mande Rubayah ikut berdesakan  melihat dan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras. Dia sangat yakin  sekali bahwa lelaki muda itu adalah anak kesayangannya si Malin  Kundang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Belum lagi  tetua desa sempat menyambut, Ibu Malin terlebih dahulu menghampiri  Malin. Ia langsung memeluk malin erat – erat. Seolah takut kehilangan  anaknya lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“Malin,  anakku,” katanya menahan isak tangis karena gembira.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;“Mengapa begitu lamanya kau tidak  memberi kabar?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Malin  terpana karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang –  camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Seingat  Malin, ibunya adalah seorang wanita berbadan tegar yang kuat  menggendongnya kemana saja. Sebelum dia sempat berpikir dengan tenang,  istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, “Cuih! Wanita buruk  inikah ibumu? Mengapa kau membohongi aku?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;lalu dia meludah lagi. “Bukankah  dulu kau katakan ibumu adalah seorang bangsawan sederajad dengan kami?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Mendengar kata – kata istrinya,  Malin Kundang mendorong wanita itu hingga terguling ke pasir. Mande  Rubayah hampir tidak percaya pada perikau anaknya, ia jatuh terduduk  sambil berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, nak!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Malin Kundang tidak menghiraukan  perkataan ibunya. Pikirannya kacau karena ucapan istrinya. Seandainya  wanita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu benar ibunya, dia tidak akan  mengakuinya. Ia malu kepada istrinya. Melihat wanita itu beringsut  hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, “Hai,  perempuan tua! Ibuku tidak seperti engkau! Melarat dan dekil!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Wanita tua itu terkapar di pasir.  Orang banyak terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Tak  disangka Malin yang dulu disayangi tega berbuat demikian. Mande Rubayah  pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah  sepi. Dilaut dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Hatinya perih  seperti ditusuk-tusuk. Tangannya ditadahkannya ke langit. Ia kemudian  berseru dengan hatinya yang pilu,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“Ya, Allah Yang  Maha Kuasa, kalau dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi  kalau memang dia benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu, Ya  Tuhan ...!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Tidak lama  kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah  menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Entah  bagaimana awalnya tiba-tiba datanglah badai besar. Menghantam kapal  malin kundang. Disusul sambaran petir yang menggelegar. Seketika kapal  itu hancur berkeping-keping. Kemudian terhempas ombak hingga ke pantai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Ketika mathari pagi memancarkan  sinarnya, badai telah reda. Di kaki bukit terlihat kepingan kapal yang  telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang. Tak jauh dari tempat itu  nampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Konon itulah tubuh  Malin Kundang anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu.  Disela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak dan ikan  tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang  terus mencari Malin Kundang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Demikianlah  sampai sekarang jika ada ombak besar menghantam batu-batu yang mirip  kapal dan manusia itu, terdengar bunyi seperti lolongan jeritan manusia.  Sungguh memilukan kedengarannya. Kadang-kadang bunyinya seperti orang  meratap menyesali diri. “Ampuuuun, Bu ... ! Ampuuuun... Buuuuu ... !”  konon itulah suara si Malin Kundang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Orang yang durhaka kepada orang tuanya terutama  kepada ibunya, orang tersebut tidak akan bisa masuk surga kecuali  setelah mendapat pengampunan dari ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-2180012152726667837?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/2180012152726667837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/si-malin-kundang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/2180012152726667837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/2180012152726667837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/si-malin-kundang.html' title='Si Malin Kundang'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-8066485812519902269</id><published>2011-11-15T06:21:00.002-08:00</published><updated>2011-11-15T06:24:15.821-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sulawesi utara'/><title type='text'>Asal Usul Terjadinya Danau Toba</title><content type='html'>Pada zaman dahulu ada seorang petani bernama Toba yang menyendiri di  sebuah lembah yang landai dan subur. Petani itu mengerjakan sawah dan  ladang utnuk keperluan hidupnya.&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Selain mengerjakan  ladangnya, kadang-kadang lelaki itu pergi memancing ikan ke sungai yang  berada tak jauh dari rumahnya. Setiap kali dia memancing, mudah saja  ikan didapatnya karena di sungai yang jernih itu memang banyak sekali  ikan. Ikan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang lelaki itu  langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tetapi sudah cukup lama dia  memancing, tak seekor ikan pun didapatnya. Kejadian yang begitu belum  pernah dia alami. Sebab biasanya ikan di sungai itu mudah saja dia  pancing. Karena sudah terlalu lama tak ada juga kan yang memakan umpan  pancingnya, dia jadi kesal dan memutuskan untuk berhenti saja memancing.  Tetapi ketika dia hendak menarik pancingnya, tiba-tiba pancing itu  disambar ikan yang langsung menarik pancing itu jauh ke tengah sungai.  Hatinya yang tadi sudah kesal berubah menjadi gembira, karena dia tahu  bahwa ikan yang menyambar pancingnya itu adalah ikan yang besar. Setelah  beberapa lama ia biarkan pancingnya ditarik ikan itu kesana kemari,  barulah pancing itu ditariknya perlahan-lahan. Ketika pancing itu  disentakkannya tampaklah seekor ikan besar tergantung dan  menggelepar-gelepar di ujung tali pancingnya. Dengan cepat ikan itu  ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira mata  pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Pada saat dia sedang  melepaskan mat apancing itu, ikan tersebut memandangnya dengan penuh  arti. Kemudian, setelah ikan itu diletakkannya ke satu tempat dia pun  masuk ke dalam sungai untuk mandi. Perasaannya gembira sekali karena  belum pernah dia mendapat ikan sebesar itu. Dia tersenyum sambil  membayangkan betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau sudah  dipanggang. Ketikan dia meninggalkan sungai utnuk pulang ke rumahnya  hari sudah mulai senja. Setibanya di rumah, lelaki itu langsung membawa  ikan besar hasil pancingannya itu ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan  api untuk memanggang ika itu, ternyata kayu bakar di dapurnya sudah  habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong  rumahnya. Kemudian, sambil membawa bbeapa potong kayu bakar dia naik  kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Pada saat lelaki itu tiba di dapur, dia terkejut  sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan  itu tadi diletakkan tempat erhampar bebeapa keping uang emas. Karena  terkejut dan heran mengalami keadaan yang aneh itu, dia meninggalkan  dapur dan masuk ke kamar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Ketika lelaki itu  membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap karena di dalam kamar  itu berdiri seorang perempuan dengan rambut yang panjang terurai.  Perempuan itu sedang menyisir rambutnya sambil berdiri menghadap cermin  yang tergantung pada dinding kamar. Sesaat kemudian, perempuan itu  tiba-tiba membalikkan badannya dan memandang lelaki itu yang tegak  kebingungan di mulut pintu kamar. Lelaki itu menjadi sangat terpesona  karena wajah perempuan yang berdiri di hadapannya luar biasa cantiknya.  Dia belum pernah melihat perempuan secantik itu meskipun dahulu dia  sudah jaun mengembara ke berbagai negeri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Karena hari  sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah lelaki  itu menyalakan lampu, dia diajak perempuan itu mengawaninya ke dapur  karena dia hendak memasak nasi untuk mereka. Sambil menunggu nasi masak,  diceritakan oleh perempuan itu bahwa dia adalah penjelmaan dari iakn  besar yang tadi didapat lelaki itu ketika memancing di sungai. Kemudian  dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di  dapur itu adalah penjelmaan sisiknya. Setelah beberapa minggu perempuan  cantik itu tinggal serumah bersamanya, pada suatu hari lelaki itu  melamar perempuan tersebut untuk jadi istrinya. Perempuan tersebut  menyatakan bersedia menerima lamarannya dengan syarat lelaki itu harus  bersumpah bahwa seumur hidupnya dia tidak akan pernah mengungkit asal  usul istrinya yang menjelma jadi ikan. Setelah lelaki itu bersumpah  demikian, kawinlah mereka.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Setahun kemudian,  mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama samosir.  Anak itu sangat dimanjakan ibunya yang mengakibatkan anak itu berabiat  kurang baik dan pemalas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Seelah cukup besar,  anak itu disuruh ibunya mengantar nasi setiap hari untuk ayahnya yang  bekerja di ladang. Namun, sering dia menolak mengerjakan tugas itu  sehingga terpaksalah ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Suatu hari, anak itu disuruh ibunya lagi mengantarkan  nasi ke ladang utnuk ayahnya. Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena  terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah dia mengantarkan nsi itu. Di  tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauknya dia makan. Setibanya  di laang, sisa nasi yang hanya tinggal sedikit dia berikan kepada  ayahnya. Saat menerimanya, si ayah sudah sangat lapar karena nasinya  sudah sangat erlambat sekali diantarkan. Oelh karena itu, maka si ayah  jadi sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya adalah  sisa-sisa. Amarahnyamakin bertambah ketika anak nya mengaku bahwa dia  yang memakan sebagian besar dari nasi itu. Kesabaran si ayah menjadi  hilang dan dia pukuli anaknya sambil mengatakan “Anak yang tak bisa  diajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan  yang berasal dari ikan!”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Sambil menangis, anak  itu berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia adukan  bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan  ayahnya kepadanya diceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu  sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan  kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu. Si ibu menyuruh  anaknya agar segra pergi mendaki bukit yang terletak tak begitu jauh  dari rumah mereka dan memanjat pohon kayu tertinggi yang erdapat di  puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, si anak segera melakukan prinah  ibunya itu. Dia berlari-lari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;Ketika tampak oleh si ibu anaknya sudah hampir sampai  ke puncak pohon kayu yan dipanjatnya di atas bukit, dia pun berlari  menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dirumah mereka itu. Ketika  di tiba ditepi sungai itu kilat menyamar disertai bunyi guruh yang  menggelegar. Sesaat kemudian dia melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba  berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itupun  banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Bebrapa waktu  kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tenggelamlah  lembah tempat sungai itu mengalir. Pak Toba tidak bisa menyelamatkan  dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelaman, genangan air  itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar yang  kemudian hari dinakaan orang danau toba. Sedang pulau kecil di  tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-8066485812519902269?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/8066485812519902269/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/asal-usul-terjadinya-danau-toba.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/8066485812519902269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/8066485812519902269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/asal-usul-terjadinya-danau-toba.html' title='Asal Usul Terjadinya Danau Toba'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-8826927834897668292</id><published>2011-11-15T06:21:00.001-08:00</published><updated>2011-11-15T06:21:54.044-08:00</updated><title type='text'>Raja yang Culas</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dahulu kala ada sebuah kerajaan yang disebut kerajaan Tiangkerarasen.  Negeri itu aman dan tenteram karena sang raja memerintah dengan  bijaksana. Beliau mempunyai beberapa orang putra dan putri dari seorang  permaisuri yang cantik jelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Namun ketentraman  dan kebahagiaan keluarga itu tak berlangsung lama. Pada suatu hari, raja  berjalan – jalan dengan menunggang kuda kesayangannya. Di tengah  perjalanan ia bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita. Setelah  berkenalan, raja mengajak gadis itu pulang ke istana. Gadis itu selain  cantik ternyata mempunyai perangai yang lembut dan tuturkata yang halus.  Raja jatuh cinta dan menikahi gadis tersebut. Tindakan raja ini  ditentang oleh permaisuri dan putra – putrinya. Namun raja terlalu  mencintai gadis itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Setelah beberapa bulan berlalu, gadis yang telah menjadi istri  muda raja itupun hamil. Permaisuri dan putra – putrinya makin marah.  Mereka betul – betul menunjukan sikap benci kepada Raja. Putra –  putrinyapun sudah berani melawan. Keadaan ini sangat menekan Sang Raja.  Lalu terpikir oleh Sang Raja untuk menyingkirkan istri mudanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Pada suatu hari Raja mengajak  istri mudanya berjalan – jalan dihutan. Keduanya menyusuri sebuah sungai  yang besar dengan sebuah perahu. Ketika sang istri sedang asyik  menikmati pemandangan, tiba – tiba Sang Raja mendorongnya ke sungai.  Istrinya sangat terkejut, lalu berteriak – teriak minta tolong.  Sebenarnya hati Sang Raja sangat iba, tetapi apa boleh buat ia ingin  mengakhiri hubungannya yang tegang dengan permaisuri dan putra –  putrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Sementara  itu dihilir sungai seorang pengail melihat perempuan hanyut. Ia segera  menyelamatkan perempuan itu yang tak lain adalah istri muda Raja  Tiangkerarasen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Bulan berganti bulan tahun berganti tahun. Putra raja yang lahir  dari istri muda telah berangkat remaja. Ibunya memberi nama Aji Bonar.  Pemuda itu mempunyai kegemaran bermain gasing dan mengail. Suatu hari ia  ingin pergi ke negeri Tiangkerarasen. Sebab, ia mendengar kabar bahwa  putra raja Tiangkerarasen suka bermain gasing dengan taruhan. Suatu hari  ia bisa bermain gangsing dengan putra raja. Gasing Aji Bonar menang,  lalu membawa ayam jago taruhan ke rumah. Kemenangan gasing Aji Bonar ini  membuat putra raja makin penasaran. Lalu ia bertaruh yang lebih besar  lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Begitulah  taruhan itu terjadi berulang – ulang. Dari taruhan yang kecil – kecil  sampai taruhan sebuah rumah yang besar lengkap dengan isinya.  Pertandingan inipun dimenangkan aji bonar. Kekalahan putra raja yang  terus menerus ini tidak membuatnya jera. Justru ia makin penasaran dan  bertekad harus dapat mengalahkan gasing Aji Bonar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Suatu hari putra raja mengumpulkan  seluruh rakyat negeri Tiangkerarasen di gelanggang permainan gasing.  Tidak lupa ia mengundang Sang Raja, ayahnya. Setelah semua berkumpul,  putra raja berseru:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“Hai rakyatku, hari ini aku mempertaruhkan negeri ini beserta  isinya kepada Si Aji Bonar. Jika ia kalah, ia akan mengembalikan seluruh  kemenangan yang diperoleh dariku. Jika aku yang kalah maka negeri ini  akan kuberikan kepadanya. Ia akan memerintah seluruh negeri ini. Apakah  kalian setuju?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;“Setujuuuuuuu!”,  jawab yang hadir serentak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Tak lama kemudian pertandingan dimulai. Seluruh hadirin  bersorak – sorai menjagoi pilihan masing – masing. Gasing Aji Bonar  berputar – putarcepat sekali dan dengan cepat mematikan gasing Aji  Bonar. Hari ini juga Aji Bonar menjadi raja negeri itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Beberapa hari kemudian ia  menjemput ibunya dengan pasukan kerajaan. Seluruh rakyat menyaksikan  iring – iringan itu. Juga putra raja yang kalah bertaruh. Di sampingnya  berdiri Sang Raja semula. Sang Raja merasa sangat malu, sebab putra yang  disayangnya telah menggadaikannya. Sedang putra yang dibuang telah  menjadi rajanya. Kedua orang itu menyaksikan Raja Aji Bonar dengan rasa  malu yang tak terhingga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-8826927834897668292?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/8826927834897668292/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/raja-yang-culas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/8826927834897668292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/8826927834897668292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/raja-yang-culas.html' title='Raja yang Culas'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-74113616640174092</id><published>2011-11-15T06:18:00.000-08:00</published><updated>2011-11-15T06:20:33.739-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Barat'/><title type='text'>SEMANGKA EMAS</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-family: Verdana,Arial; font-size: 78%;"&gt;(CERITA                               RAKYAT MELAYU SAMBAS)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;                                                      &lt;div style="text-align: justify;"&gt;                                                                                                                   &lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255); font-family: Times; font-size: 180%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="background-color: rgb(0, 153, 0);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="background-color: rgb(0, 153, 0);"&gt;P&lt;i&gt;                         &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;ada                          zaman dahulu kala, di Sambas hiduplah seorang saudagar                          yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang                          anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama  Muzakir, dan                         yang bungsu bernama Dermawan.  Muzakir sangat loba dan                         kikir. Setiap hari  kerjanya hanya mengumpulkan uang                         saja. Ia tidak  perduli kepada orang-orang miskin.                         Sebaliknya  Dermawan sangat berbeda tingkah lakunya. Ia                          tidak rakus dengan uang dan selalu bersedekah kepada                          fakir miskin.&lt;/span&gt;                          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Sebelum                         meninggal, saudagar  tersebut membagi hartanya sama rata                         kepada kedua  anaknya. Maksudnya agar anak-anaknya tidak                          berbantah dan saling iri, terutama bila ia telah                          meninggal kelak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Muzakir langsung                          membeli peti besi. Uang bagiannya dimasukkan ke  dalam                         peti tersebut, lalu dikuncinya. Bila ada  orang miskin                         datang, bukannnya ia memberi  sedekah, melainkan ia                         tertawa terbahak-bahak  melihat orang miskin yang                         pincang, buta dan  lumpuh itu. Bila orang miskin itu                         tidak mau  pergi dari rumahnya, Muzakir memanggil orang                          gajiannya untuk mengusirnya. Orang-orang miskin kemudian                          berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Dermawan selalu                         menyambut  orang-orang miskin dengan senang hati. Mereka                          dijamunya makan dan diberi uang karena ia merasa iba                          melihat orang miskin dan melarat. Lama kelamaan uang                          Dermawan habis dan ia tidak sanggup lagi membiayai                          rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih                          kecil dan harus bekerja. Gajinya tidak seberapa,  sekedar                         cukup makan saja. Tetapi ia sudah merasa  senang dengan                         hidupnya yang demikian.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Muzakir                          tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang                          dianggapnya bodoh itu. Muzakir telah membeli rumah  yang                         lebih bagus dan kebun kelapa yang luas.  Tetapi Dermawan                         tidak menghiraukan tingkah laku  abangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Suatu hari                          Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan                          rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di                          hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan                          "Kasihan," kata Dermawan. "Sayapmu patah,                          ya?" lanjut Dermawan seolah-olah ia berbicara                          dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut,                          lalau diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung                          itu patah. "Biar kucoba mengobatimu," katanya.                          Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya                          perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit                          itu diberinya makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Burung itu                         menjadi jinak dan  tidak takut kepadanya. Beberapa hari                         kemudian,  burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan                          sayapnya, dan sesaat kemudian ia pun terbang. Keesokan                          harinya ia kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada                          sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan                          Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu biji                          biasa saja. Meskipun demikian, senang juga  hatinya                         menerima pemberian burung itu. Biji itu  ditanam di                         belakang rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Tiga hari                         kemudian tumbuhlah  biji itu. Yang tumbuh adalah pohon                         semangka.  Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga                          tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka                          akan banyak buahnya. Tentulah ia akan kenyang makan buah                          semangka dan selebihnya akan ia sedekahkan. Tetapi aneh,                          meskipun bunganya banyak, yang menjadi buah hanya  satu.                          Ukuran semangka ini luar biasa besarnya,  jauh lebih dari                         semangka umumnya. Sedap  kelihatannya dan harum pula                         baunya. Setelah  masak, Dermawan memetik buah semangka                         itu.  Amboi, bukan main beratnya. Ia terengah-engah                          mengangkatnya dengan kedua belah tangannya. Setelah                          diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Ia                          membelah semangka itu. Setelah semangka terbelah, betapa                          kagetnya Dermawan. Isi semangka itu berupa pasir  kuning                         yang bertumpuk di atas meja. Ketika  diperhatikannya                         sungguh-sungguh, nyatalah bahwa  pasir itu adalah emas                         urai murni. Dermawan pun  menari-nari karena girangnya.                         Ia mendengar  burung mencicit di luar, terlihat burung                         pipit  yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak.                          "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan.                          Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Keesokan harinya                         Dermawan  memberli rumah yang bagus dengan pekarangan                         yang  luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke                          rumahnya diberinya makan. Tetapi Dermawan tidak akan                          jatuh miskin seperti dahulu, karena uangnya amat banyak                          dan hasil kebunnya melimpah ruah. Rupanya hal ini                          membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui                          rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Dermawan. Di  sana                         Dermawan menceritakan secara jujur  kepadanya tentang                         kisahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Mengetahui hal                         tersebut,  MUzakir langsung memerintahkan orang-orang                          gajiannya mencari burung yang patah kaki atau patah                          sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya,                          seekor burung yang demikian pun tak ditemukan. MUzakir                          sungguh marah dan tidak dapat tidur. Keesokan  paginya,                         Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya  seorang                         gajiannya untuk menangkap burung dengan  apitan. Tentu                         saja sayap burung itu menjadi  patah. Muzakir kemudian                         berpura-pura kasihan  melihatnya dan membalut luka pada                         sayap burung.  Setelah beberapa hari, burung itu pun                         sembuh dan  dilepaskan terbang. Burung itu pun kembali                          kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir                          sungguh gembira.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Biji pemberian                          burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di                          kebunnya. Tumbuh pula pohon semangka yang subur dan                          berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu,  ukurannya lebih                         besar dari semangka Dermawan.  Ketika dipanen, dua orang                         gajian Muzakir dengan  susah payah membawanya ke dalam                         rumah karena  beratnya. Muzakir mengambil parang. Ia                         sendiri  yang akan membelah semangka itu. Baru saja                          semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu                          lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya                          busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani                          di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur  dan                         kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir  berlari ke jalan                         raya sambil menjerit-jerit.  Orang yang melihatnya dan                         mencium bau yang busuk  itu tertawa terbahak-bahak sambil                         bertepuk  tangan dengan riuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                            &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 78%;"&gt;diceritakan kembali  oleh Hendy Lie&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 78%;"&gt;(diolah dari                          Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat 2, Syahzaman,                          PT.Grasindo, 1995)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-74113616640174092?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/74113616640174092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/semangka-emas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/74113616640174092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/74113616640174092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2011/11/semangka-emas.html' title='SEMANGKA EMAS'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-1632205809313646626</id><published>2010-10-20T02:34:00.001-07:00</published><updated>2010-10-20T02:34:46.685-07:00</updated><title type='text'>Arti Sebuah Persahabatan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada dahulu kala hiduplah seekor kura-kura dan seekor burung elang. Walaupun sang kura-kura dan elang jarang bertemu karena sang kura-kura lebih banyak menghabiskan waktu disemak-semak sedangkan sang elang lebih banyak terbang, namun tidak menghalangi sang elang untuk selalu mengunjungi teman kecilnya yang baik hati, sang kura-kura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga sang kura-kura sangat ramah dan selalu menyambut kedatangan sang elang dengan gembira. Mereka juga selalu memberi sang elang makanan dengan sangat royalnya. Sehingga sang elang selalu berkali-kali datang karena makanan gratis dari keluarga kura-kura tersebut. Setiap kali sehabis makan dari keluarga kura-kura sang elang selalu menertawakan sang kura-kura : "ha ha betapa bodohnya si kura-kura, aku dapat merasakan kenikmatan dari makanan yang selalu dia berikan, namun tidak mungkin dia dapat merasakan nikmatnya makananku karena sarangku yang terletak jauh diatas gunung"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu seringnya sang elang menertawakan dan dengan egoisnya menghabiskan makanan sang kura-kura, maka seluruh hutan mulai menggunjingkan sikap sang elang tersebut. Para penghuni hutan tersebut merasa tidak suka dengan sikap seenaknya sang elang kepada sang kura-kura yang baik hati. Suatu hari seekor kodok memanggil kura-kura yang sedang berjalan dekat sungai. "Hai temanku sang kura-kura, berilah aku semangkok kacang polong, maka aku akan memberikan kata-kata bijak untukmu" seru sang kodok. Setelah menghabiskan semangkuk kacang polong dari sang kura-kura, sang kodok berkata lagi: "kura-kura, sahabatmu sang elang telah menyalahgunakan persahabatan dan kebaikan hatimu. Setiap kali sehabis bertamu di sarangmu, selalu saja dia mengejekmu dengan berkata " ha ha betapa bodohnya si kura-kura, aku dapat merasakan kenikmatan dari makan yang selalu dia berikan, namun tidak mungkin dia dapat merasakan nikmatnya makananku karena sarangku yang terletak jauh diatas gunung". Pada suatu hari nanti sang elang akan datang kembali dan akan meminta sekeranjang makanan darimu dan berjanji akan memberikan makanan kepadamu dan anak-anakmu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah yang dikatakan oleh sang kodok, sang elang datang dengan membawa keranjang dan seperti biasanya sang elang menikmati makanan dari sang kura-kura. Sang elang berkata: "hai temanku kura-kura, ijinkan aku mengisi keranjangku dengan makanan darimu, maka akan kukirimkan kepada anak istriku dan istriku akan memberimu makanan buatannya untuk istri dan anakmu". Kemudian sang elang terbang dan kembali menertawakan sang kura-kura. Maka segeralah sang kura-kura masuk kedalam keranjang tersebut dan ditutupi dengan sayuran buah-buahan oleh istrinya, sehingga tidak terlihat. Ketika sang elang kembali, istri sang kura-kura mengatakan bahwa suaminya baru saja pergi dan memberikan keranjang penuh berisi makanan kepada sang elang. Sang elang segera bergegas terbang sambil membawa keranjang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dia menertawakan kebodohan sang kura-kura. Namun kali ini sang kura-kura mendengar sendiri perkataannya. Sampailah mereka di sarang sang elang, dan sang elang segera memakan isi keranjang tersebut sampai habis. Betapa terkejutnya melihat sang kura-kura keluar dari keranjang tersebut. "Hai temanku sang elang, engkau sudah sering mengunjungi sarangku namun belum pernah sekalipun aku mengunjungi sarangmu. Kelihatannya akan sangat berbahagianya aku kalau dapat menikmati makananmu seperti engkau menikmati makananku." Betapa marahnya sang elang karena merasa tersindir. Dengan marah ia mematuk sang kura-kura.Namun berkat batok rumah sang kura-kura yang keras, kura-kura tidak dapat dipatuk oleh sang elang. Dengan sedihnya sang kura-kura berkata: "Aku telah melihat persahabatan macam apa yang engkau tawarkan padaku hai sang elang. Betapa kecewanya aku. Baiklah antarkan aku kembali ke sarangku dan persahabatan kita akan berakhir." Sang elangpun berkata :"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan membawamu pulang" Namun timbul pikiran jahat pada diri sang elang. "Aku akan menjatuhkanmu dan memakan sisa-sisa dirimu" pikirnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, sang kura-kura memegang kaki sang elang yang terbang tinggi. "lepaskan kakiku" seru sang elang marah. Dengan sabar sang kura-kura menjawab: "Aku akan melepaskan kakimu apabila engkau sudah mengantarkanku pulang ke sarangku" dengan kesal sang elang pun terbang tinggi, menungkik dan menggoyang-goyangkan kakinya dengan harapan sang kura-kura akan jatuh. Namun tidak ada gunanya. Akhirnya dia menurunkan sang kura-kura di sarangnya, dan segera terbang tinggi dengan perasaan malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sang elang terbang, sang kura-kura berseru : " Hai temanku persahabatan membutuhkan rasa saling membagi satu dengan lainnya. Aku menghargaimu dan kaupun menghargaiku. Namun bagaimanapun, sejak engkau menjadikan persahabatan kita hanya permainan, mentertawakan keramahan keluargaku dan aku maka sebaiknya engkau tidak usah lagi datang kepadaku".&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-1632205809313646626?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/1632205809313646626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/arti-sebuah-persahabatan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1632205809313646626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1632205809313646626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/arti-sebuah-persahabatan.html' title='Arti Sebuah Persahabatan'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-1585794404514602752</id><published>2010-10-20T02:32:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T02:33:21.666-07:00</updated><title type='text'>Kera Jadi Raja</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang Raja hutan "Singa" ditembak pemburu, penghuni hutan rimba jadi gelisah. Mereka tidak mempunyai Raja lagi. Tak berapa seluruh penghuni hutan rimba berkumpul untuk memilih Raja yang baru. Pertama yang dicalonkan adalah Macan Tutul, tetapi macan tutul menolak. "Jangan, melihat manusia saja aku sudah lari tunggang langgang," ujarnya. "Kalau gitu Badak saja, kau kan amat kuat," kata binatang lain. "Tidak-tidak, penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali." "Oh…mungkin Gajah saja yang jadi Raja, badan kau kan besar..", ujar binatang-binatang lain. "Aku tidak bisa berkelahi dan gerakanku amat lambat," sahut gajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang-binatang menjadi bingung, mereka belum menemukan raja pengganti. Ketika hendak bubar, tiba-tiba kera berteriak, "Manusia saja yang menjadi raja, ia kan yang sudah membunuh Singa". "Tidak mungkin," jawab tupai. "Coba kalian semua perhatikan aku…, aku mirip dengan manusia bukan ?, maka akulah yang cocok menjadi raja," ujar kera. Setelah melalui perundingan, penghuni hutan sepakat Kera menjadi raja yang baru. Setelah diangkat menjadi raja, tingkah laku Kera sama sekali tidak seperti Raja. Kerjanya hanya bermalas-malasan sambil menyantap makanan yang lezat-lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni binatang menjadi kesal, terutama srigala. Srigala berpikir, "bagaimana si kera bisa menyamakan dirinya dengan manusia ya?, badannya saja yang sama, tetapi otaknya tidak". Srigala mendapat ide. Suatu hari, ia menghadap kera. "Tuanku, saya menemukan makanan yang amat lezar, saya yakin tuanku pasti suka. Saya akan antarkan tuan ke tempat itu," ujar srigala. Tanpa pikir panjang, kera, si Raja yang baru pergi bersama srigala. Di tengah hutan, teronggok buah-buahan kesukaan kera. Kera yang tamak langsung menyergap buah-buahan itu. Ternyata, si kera langsung terjeblos ke dalam tanah. Makanan yang disergapnya ternyata jebakan yang dibuat manusia. "Tolong…tolong," teriak kera, sambil berjuang keras agar bisa keluar dari perangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hahahaha! Tak pernah kubayangkan, seorang raja bisa berlaku bodoh, terjebak dalam perangkap yang dipasang manusia, Raja seperti kera mana bisa melindungi rakyatnya," ujar srigala dan binatang lainnya. Tak berapa lama setelah binatang-binatang meninggalkan kera, seorang pemburu datang ke tempat itu. Melihat ada kera di dalamnya, ia langsung membawa tangkapannya ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Moral : Perlakukanlah teman-teman kita dengan baik, janganlah sombong dan bermalas-malasan. Jika kita sombong dan memperlakukan teman-teman semena-mena, nantinya kita akan kehilangan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-1585794404514602752?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/1585794404514602752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/kera-jadi-raja.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1585794404514602752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1585794404514602752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/kera-jadi-raja.html' title='Kera Jadi Raja'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-5379047672411948958</id><published>2010-10-20T02:31:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T02:32:12.765-07:00</updated><title type='text'>Kutukan Raja Pulau Mintin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada zaman dahulu, terdapatlah sebuah kerajaan di Pulau Mintin daerah Kahayan Hilir. Kerajaan itu sangat terkenal akan kearifan rajanya. Akibatnya, kerajaan itu menjadi wilayah yang tenteram dan makmur.&lt;span class="fullpost"&gt; Pada suatu hari, permaisuri dari raja tersebut meninggal dunia. Sejak saat itu raja menjadi murung dan nampak selalu sedih. Keadaan ini membuatnya tidak dapat lagi memerintah dengan baik. Pada saat yang sama, keadaan kesehatan raja inipun makin makin menurun. Guna menanggulangi situasi itu, raja berniat untuk pergi berlayar guna menghibur hatinya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk melanjutkan pemerintahan maka raja itu menyerahkan tahtanya pada kedua anak kembarnya yang bernama Naga dan Buaya. Mereka pun menyanggupi keinginan sang raja. Sejak sepeninggal sang raja, kedua putranya tersebut memerintah kerajaan. Namun sayangnya muncul persoalan mendasar baru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedua putra raja tersebut memiliki watak yang berbeda. Naga mempunyai watak negatif seperti senang berfoya-foya, mabuk-mabukan dan berjudi. Sedangkan buaya memiliki watak positif seperti pemurah, ramah tamah, tidak boros dan suka menolong. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Melihat tingkah laku si Naga yang selalu menghambur-hamburkan harta kerajaan, maka si Buayapun marah. Karena tidak bisa dinasehati maka si Buaya memarahi si Naga. Tetapi rupaya naga ini tidak mau mendengar. Pertengkaran itu berlanjut dan berkembang menjadi perkelahian. Prajurit kerajaan menjadi terbagi dua, sebahagian memihak kepada Naga dan sebagian memihak pada Buaya. Perkelahian makin dahsyat sehingga memakan banyak korban.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam pelayarannya, Sang raja mempunyai firasat buruk. Maka ia pun mengubah haluan kapalnya untuk kembali ke kerajaanya. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa putera kembarnya telah saling berperang. Dengan berang ia pun berkata,"kalian telah menyia-nyiakan kepercayaanku. Dengan peperangan ini kalian sudah menyengsarakan rakyat. Untuk itu terimalah hukumanku. Buaya jadilah engkau buaya yang sebenarnya dan hidup di air. Karena kesalahanmu yang sedikit, maka engkau akan menetap di daerah ini. Tugasmu adalah menjaga Pulau Mintin. Sedangkan engkau naga jadilah engkau naga yang sebenarnya. Karena kesalahanmu yang besar engkau akan tinggal di sepanjang Sungai Kapuas. Tugasmu adalah menjaga agar Sungai Kapuas tidak ditumbuhi Cendawan Bantilung."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah mengucapkan kutukan itu, tiba-tiba langit gelap dan petir menggelegar. Dalam sekejap kedua putranya telah berubah wujud. Satu menjadi buaya. Yang lainnya menjadi naga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-5379047672411948958?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/5379047672411948958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/kutukan-raja-pulau-mintin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5379047672411948958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5379047672411948958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/kutukan-raja-pulau-mintin.html' title='Kutukan Raja Pulau Mintin'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-3972441042390223177</id><published>2010-10-20T02:30:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T02:31:11.037-07:00</updated><title type='text'>La Dana dan Kerbaunya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada suatu hari ia bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di tanah toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki belakang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan daging-daging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup. Alasannya adalah mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seminggu setelah itu La Dana mulai tidak sabar menunggu agar kerbaunya gemuk. Pada suatu hari ia mendatangi rumah temannya, dimana kerbau itu berada, dan berkata "Mari kita potong hewan ini, saya sudah ingin makan dagingnya." Temannya menjawab, "Tunggulah sampai hewan itu agak gemuk." Lalu La Dana mengusulkan, "Sebaiknya kita potong saja bagian saya, dan kamu bisa memelihara hewan itu selanjutnya." Kawannya berpikir, kalau kaki belakang kerbau itu dipotong maka ia akan mati. Lalu kawannya membujuk La Dana agar ia mengurungkan niatnya. Ia menjanjikan La Dana untuk memberinya kaki depan dari kerbau itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seminggu setelah itu La Dana datang lagi dan kembali meminta agar bagiannya dipotong. Sekali lagi kawannya membujuk. Ia dijanjikan bagian badan kerbau itu asal La Dana mau menunda maksudnya. Baru beberapa hari berselang La Dana sudah kembali kerumah temannya. Ia kembali meminta agar hewan itu dipotong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kali ini kawannya sudah tidak sabar, dengan marah ia pun berkata, "Kenapa kamu tidak ambil saja kerbau ini sekalian! Dan jangan datang lagi untuk mengganggu saya." La dana pun pulang dengan gembiranya sambil membawa seekor kerbau gemuk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-3972441042390223177?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/3972441042390223177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/la-dana-dan-kerbaunya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3972441042390223177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3972441042390223177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/la-dana-dan-kerbaunya.html' title='La Dana dan Kerbaunya'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-5749298031963297379</id><published>2010-10-20T02:29:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T02:30:25.188-07:00</updated><title type='text'>Cindelaras</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. "Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri," pikirnya&lt;span class="fullpost"&gt; Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. "Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri," pikirnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. "Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku." Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pesan moral : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kebaikan akan berbuah kebaikan sedang kejahatan akan mendatangkan penderitaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-5749298031963297379?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/5749298031963297379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/cindelaras.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5749298031963297379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5749298031963297379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/cindelaras.html' title='Cindelaras'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-6184792034537907332</id><published>2010-10-20T02:23:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T02:29:21.038-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><title type='text'>Batu Golog</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: "Ibu batu ini makin tinggi." Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, "Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya. Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-6184792034537907332?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/6184792034537907332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/batu-golog.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6184792034537907332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6184792034537907332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/batu-golog.html' title='Batu Golog'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-3466010811983962800</id><published>2010-10-20T02:21:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T02:22:46.471-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Tengah'/><title type='text'>Aji Saka</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia&lt;span class="fullpost"&gt; Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-3466010811983962800?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/3466010811983962800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/aji-saka.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3466010811983962800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3466010811983962800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/aji-saka.html' title='Aji Saka'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-6775975680288995109</id><published>2010-10-20T02:15:00.000-07:00</published><updated>2010-10-20T02:21:25.925-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><title type='text'>Sangkuriang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu.&lt;span class="fullpost"&gt; Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembaraSetelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya. Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-6775975680288995109?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/6775975680288995109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/sangkuriang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6775975680288995109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6775975680288995109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/sangkuriang.html' title='Sangkuriang'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-8875342952907149715</id><published>2010-10-19T20:40:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:41:24.028-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatra Barat'/><title type='text'>Asal Usul Danau Maninjau</title><content type='html'>Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * * * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Alkisah, di sebuah daerah di Sumatra Barat ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya ikut serta bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Sudah lama merendam selasih&lt;br /&gt;Barulah kini mau mengembang&lt;br /&gt;Sudah lama kupendam kasih&lt;br /&gt;Barulah kini bertemu pandang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah lama orang menekat&lt;br /&gt;Membuat baju kebaya lebar&lt;br /&gt;Sudah lama abang terpikat&lt;br /&gt;Hendak bertemu dada berdebar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rupa elok perangaipun cantik&lt;br /&gt;Hidupnya suka berbuat baik&lt;br /&gt;Orang memuji hilir dan mudik&lt;br /&gt;Siapa melihat hati tertarik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Buah nangka dari seberang&lt;br /&gt;Sedap sekali dibuat sayur&lt;br /&gt;Sudah lama ku nanti abang&lt;br /&gt;Barulah kini dapat menegur”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika roboh kota Melaka&lt;br /&gt;Papan di Jawa saya tegakkan&lt;br /&gt;Jika sungguh Kanda berkata&lt;br /&gt;Badan dan nyawa saya serahkan”&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia karena cintahnya bersambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin hubungan kasih. Pada mulanya, keduanya berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena khawatir akan menimbulkan fitnah, akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga mereka masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa senang dan bahagia, karena hal tersebut dapat mempererat hubungan kekeluargaan mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran seringkali berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering membantu Bujang Sembilan bekerja di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan, yaitu adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong pertanda acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama tampil bersama seorang lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk saling adu ketangkasan. Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia akan melawan peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. Mulanya, Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, namun semua serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat kemudian, keadaan jadi terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus menyerang Giran dengan jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari serangannya. Pada saat yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras kaki kirinya ke arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa menangkisnya dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, sakit...! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun tidak mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam gelanggang tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni ketika cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Kedatangan orangtua Giran tersebut bukan untuk mengajari mereka cara bercocok tanam atau tata cara adat, melainkan ingin menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga kita, kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban dengan ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah. Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun menjelma menjadi ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat, Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama gunung itu kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau. Sementara nama-nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu diabadikan menjadi nama nagari di sekitar Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik, yaitu akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat dendam. Dendam telah menjadikan Kukuban tega menfitnah Giran dan Sani telah melakukan perbuatan terlarang. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat dendam dapat mendorong seseorang berbuat aniaya terhadap orang lain, demi membalaskan dendamnya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat dendam ini sangat dipantangkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;siapa tak tahu kesalahan sendiri,&lt;br /&gt;lambat laun hidupnya keji&lt;br /&gt;kalau suka berdendam kesumat,&lt;br /&gt;alamat hidup akan melarat&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Ivan Adillah. Cerita Rakyat Dari Agam (Sumatra Barat). Jakarta: Grasindo. 2004.&lt;br /&gt;photo danau maninjau : http://empimuslion.wordpress.com/2008/07/07/9-keajabain-alam-minangkabau/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-8875342952907149715?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/8875342952907149715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-usul-danau-maninjau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/8875342952907149715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/8875342952907149715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-usul-danau-maninjau.html' title='Asal Usul Danau Maninjau'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-5955983897691175380</id><published>2010-10-19T20:39:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:40:01.216-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak</title><content type='html'>Danau Singkarak dengan luas 107,8 m2 merupakan danau terluas kedua setelah Danau Toba di Pulau Sumatra, Indonesia. Danau yang berada di ketinggian 36,5 meter dari permukaan laut ini terletak di dua kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Menurut cerita, danau yang juga merupakan hulu Sungai Batang Ombilin ini dahulu memang merupakan lautan luas. Namun karena terjadi sebuah peristiwa yang luar biasa, air laut tersebut menyusut. Peristiwa Apakah yang menyebabkan air laut tersebut menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sumatra Barat, hiduplah keluarga Pak Buyung. Ia tinggal di sebuah gubuk di pinggir laut bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil bernama Indra. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut. Setiap pagi mereka pergi ke hutan di Bukit Junjung Sirih untuk mencari manau, rotan, dan damar untuk dijual ke pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut menangkap ikan dengan menggunakan pancing, bubu ataupun jala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sudah berumur sepuluh tahun, Indra sering membantu kedua orangtuanya ke hutan maupun ke laut. Betapa senang hati Pak Buyung dan istrinya mempunyai anak yang rajin seperti Indra. Namun, ada satu hal yang membuat mereka risau, karena si Indra memiliki suatu keanehan, yaitu selera makannya amatlah berlebihan. Dalam sekali makan, ia dapat menghabiskan nasi setengah bakul dengan lauk beberapa piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, musim paceklik tiba. Baik hasil hutan maupun hasil laut sangat sulit diperoleh. Untuk itu, keluarga Pak Buyung harus berhemat terutama menahan selera makan. Mereka harus makan apa adanya. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau pun keladi (talas). Cukup lama musim paceklik berlangsung, sehingga mereka semakin kesulitan mendapatkan makanan. Hal itu rupanya membuat mereka lebih peduli pada diri sendiri daripada terhadap anaknya. Kesulitan mendapatkan makanan itu juga membuat mereka hampir berputus asa. Mereka sering bermalas-malasan pergi mencari rotan ke hutan dan mencari ikan ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa hari keluarga Pak Buyung hanya makan ubi bakar. Tentu hal itu tidak mengenyangkan perut si Indra. Suatu hari, Indra menangis minta makanan kepada kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, carikan saya makanan! Saya sangat lapar,” keluh Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, anak malas! Kalau kamu lapar carilah sendiri makanan ke hutan atau ke laut sana!” seru ayahnya dengan nada kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak! Bukankah anak kita masih kecil? Tentu dia belum bisa mencari makanan sendiri,` sahut sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, dia memang masih anak-anak. Tapi, dia yang paling banyak makannya,” bantah sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar bantahan suaminya itu, sang Istri pun diam. Ia kemudian membujuk Indra agar berangkat sendiri ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil-hasil hutan di Bukit. Indra pun menuruti nasehat ibunya. Sebelum berangkat ke hutan, Indra terlebih dahulu memberi makan seekor ayam piaraannya yang bernama Taduang. Si Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap kali tuannya (si Indra) pulang dari hutan, ia selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang, Indra pulang dari hutan tanpa membawa hasil. Keesokan harinya, ayahnya memerintahkannya pergi ke laut untuk memancing ikan. Saat Indra pergi ke laut, ayah dan ibunya hanya tidur-tiduran di gubuk. Tampaknya, mereka benar-benar sudah putus asa menghadapi kesulitan hidup. Keadaan demikian berlangsung selama sebulan, sehingga Indra merasa tubuhnya sangat lelah dan berniat untuk beristirahat beberapa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, sepulang dari laut mencari ikan, Indra berkata kepada ayahnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah! Badanku terasa sangat letih. Bolehkah saya beristirahat untuk beberapa hari?” pinta Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa katamu? Dasar anak malas! Kamu tidak boleh beristirahat. Besok kamu harus tetap kembali ke laut mencari ikan,” ujar sang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena tidak ingin membatah perintah ayahnya, keesokan harinya Indra pergi ke laut mencari ikan. Ketika Indra berangkat ke laut, secara diam-diam ibunya juga berangkat ke laut. Tapi, ia menuju ke sebuah tanjung, agak jauh dari tempat Indra mencari ikan. Sementara ayahnya pergi ke hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang, Pak Buyung kembali dari hutan dengan membawa seikat ijuk. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang membersihkan pensi (sejenis kerang berukuran kecil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang apa, Bu?” tanya  Pak Buyung kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang membersihkan pensi, Pak! Tadi ketika hendak mencari ikan di laut, aku melihat banyak warga dari kampung tetangga sedang mencari pensi. Akhirnya aku pun ikut mencari pensi bersama mereka,” jawab istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana cara memasaknya? Bukankah Ibu belum pernah memasak pensi sebelumnya? ” tanya Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang, Pak! Kata seorang warga dari kampung tetangga, daging pensi enak jika dimasak pangek[1],” jelas istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kalau begitu, kita makan enak siang ini,” ucap Pak Buyung sambil mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membersihkan pensi itu, sang Istri pun segera membuatkan bumbu dan memasaknya. Tak lama kemudian, aroma masakan pangek pun tercium oleh Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, harum sekali aromanya. Istriku memang pintar memasak,” puji Pak Buyung seraya mendekati istrinya yang sedang masak di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, apakah pangek ini cukup kita makan bertiga?” tanya Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja cukup,” jawab istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Ibu sudah lupa kalau si Indra makannya banyak? Pangek ini pasti tidak cukup dia makan sendiri,” kata Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita makan diam-diam, selagi si Indra masih berada di laut,” saran Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, sebentar lagi dia pulang,” kata istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dia pulang, pasti akan ketahuan.,” ucap Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya!” tanya istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika si Taduang berkokok, berarti si Indra telah pulang,” jawab Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Istri pun mengangguk-angguk mendengar jawaban suaminya. Keduanya pun menyantap pangek itu dengan lahapnya. Namun, baru makan beberapa suap, tiba-tiba ayam peliharaan Indra berkokok. Mendengar kokok ayam itu, kedua suami-istri itu segera mencuci tangan, lalu membereskan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke gubuk, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Kedua orangtuanya terlihat tenang, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Indra! Mana ikan yang kamu peroleh?” tanya ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Ayah! Hari ini aku tidak memperoleh ikan?” jawab Indra dengan wajah kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu pulang kalau belum memperoleh ikan?” tanya ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Ayah! Saya sangat letih dan lapar,” jawab Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, apa yang bisa kamu makan kalau tidak memperoleh ikan?” sang Ayah kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah berusaha, Ayah. Tapi belum berhasil,” jawab Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, Ibu! Adakah sesuatu yang bisa saya makan. Sekedar pengganjal perut,” pinta Indra kepada kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Hari ini tidak ada makanan untuk anak pemalas,” kata ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Ayah! Saya lapar sekali,” keluh Indra sambil memegang perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah! Kamu boleh makan, tapi kamu harus mencuci ijuk ini sampai bersih,” sahut ibunya sambil menyerahkan ijuk yang tadi dibawa suaminya dari hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra pun segera pergi ke laut mencuci ijuk itu karena ingin mendapatkan makanan dari kedua orangtuanya. Ketika Indra berangkat ke laut, kedua orangtuanya kembali melanjutkan acara makan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, meskipun baru kali ini Ibu memasak pangek pensi, tapi rasanya lezat sekali,” sanjung Pak Buyung kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Istri tersenyum mendengar sanjungan suaminya. Kemudian sepasang suami istri itu makan pangek dengan lahapnya. Mereka baru berhenti makan setelah perut mereka benar-benar sudah penuh. Selesai makan, mereka kembali menyembunyikan makanan yang masih tersisa di bawah tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, si Taduang terdengar berkokok, pertanda tuannya telah kembali dari laut. Ketika masuk ke dalam gubuk, Indra melihat kedua orangtuanya masih sedang duduk bersantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana? Apakah ijuk itu sudah bersih kamu cuci?” tanya ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, Bu,” jawab Indra sambil meletakkan ijuk itu di depan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah! Kenapa masih hitam begini? Kamu harus mencucinya hingga berwarna putih,” ujar ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Bu! Aku sudah berusaha mencucinya berkali-kali, bahkan aku menggosoknya dengan campuran pasir, tapi masih tetap berwarna hitam,” sanggah Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, alasan saja! Cuci lagi ijuk itu ke laut!” seru ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah sempoyongan, Indra pun kembali ke laut. Sesampainya di laut, ia terus berusaha mencuci dan menggosok ijuk itu hingga berkali-kali, tetapi tetap saja berwarna hitam. Rupanya Indra yang masih anak-anak tidak mengetahui jika ijuk itu memang pada dasarnya berwarna hitam. Meskipun ijuk itu berkali-kali dicuci dan digosok, tentu tidak akan pernah berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang senja, Indra kembali ke gubuknya. Ketika masuk ke ruang tengah gubuknya, ia tidak lagi melihat kedua orangtuanya duduk-duduk. Dengan pelan-pelan, ia melangkah menuju ke ruang dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orangtuanya sedang tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan panci pangek pensi yang telah kosong. Hanya kuah dengan beberapa cuil daging pensi yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Kini ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah menipu dan membohonginya. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia tidak ingin marah kepada mereka yang telah melahirkannya. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. Saat berada di luar gubuk, ia langsung menangkap ayam kesayangannya, si Taduang. Kemudian ia duduk di atas batu di samping gubuknya sambil mengusab-usap bulu si Taduang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taduang! Rupanya Ayah dan Ibuku telah menipuku. Untuk apalagi aku tinggal bersama mereka di sini, kalau mereka sudah tidak menyayangiku lagi,” kata Indra kepada ayamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pernyataan Indra, ayam itu pun berkokok berkali-kali, pertanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Si Taduang kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya. Indra pun mengerti bahwa ayam kesayangannya itu akan mengajaknya pergi meninggalkan kampung itu. Dengan cepat, Indra pun segera berpegangan pada kaki si Taduang. Beberapa saat kemudian, si Taduang terbang ke udara, sementara Indra tetap berpegangan pada kakinya. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk itu juga ikut terangkat. Anehnya, semakin tinggi mereka terbang, batu itu semakin membesar. Akhirnya, si Taduang pun sudah tidak kuat lagi membawa terbang si Indra bersama batu besar itu. Melihat hal itu, Indra pun segera menyentakkan kakinya, sehingga batu besar itu melesat menuju ke bumi dan menghantam salah satu bukit yang ada di sekitar lautan. Hantaman batu itu membentuk sebuah lubang memanjang. Dengan cepat, air laut pun mengalir ke arah lubang itu dan menembus bukit, sehingga membentuk aliran sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin, yang bermuara ke daerah Riau. Semakin lama air laut itu semakin menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi Danau Singkarak yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat Solok. Sementara Indra yang diterbangkan oleh ayam kesayangannya, si Taduang, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-5955983897691175380?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/5955983897691175380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-mula-sungai-ombilin-dan-danau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5955983897691175380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5955983897691175380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-mula-sungai-ombilin-dan-danau.html' title='Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-7777938754329894327</id><published>2010-10-19T20:38:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:39:01.223-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Si Kelingking</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Si Kelingking adalah seorang pemuda miskin yang tinggal di sebuah kampung di daerah Jambi, Indonesia. Ia dipanggil Kelingking karena ukuran tubuhnya hanya sebesar jari kelingking. Walaupun demikian, ia mempunyai istri seorang putri raja yang cantik jelita. Bagaimana si Kelingking dapat mempersunting seorang putri raja? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Si Kelingking berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah, di sebuah dusun di Negeri Jambi, ada sepasang suami-istri yang miskin. Mereka sudah puluhan tahun membina rumah tangga, namun belum dikaruniai anak. Segala usaha telah mereka lakukan untuk mewujudkan keinginan mereka, namun belum juga membuahkan hasil. Sepasang suami-istri itu benar-benar dilanda keputusasaan. Suatu ketika, dalam keadaan putus asa mereka berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tuhan Yang Maha Tahu segala yang ada di dalam hati manusia. Telah lama kami menikah, tetapi belum juga mendapatkan seorang anak. Karuniankanlah kepada kami seorang anak! Walaupun hanya sebesar kelingking, kami akan rela menerimanya,” pinta sepasang suami-istri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, sang Istri mengandung. Mulanya sang Suami tidak percaya akan hal itu, karena tidak ada tanda-tanda kehamilan pada istrinya. Di samping karena umur istrinya sudah tua, perut istrinya pun tidak terlihat ada perubahan. Meski demikian, sebagai seorang wanita, sang Istri benar-benar yakin jika dirinya sedang hamil. Ia merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam perutnya. Ia pun berusaha meyakinkan suaminya dengan mengingatkan kembali pada doa yang telah diucapkan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Abang lupa pada doa Abang dulu. Bukankah Abang pernah memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar diberikan seorang anak walaupun sebesar kelingking?” tanya sang Istri mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan itu, sang Suami pun termenung dan mengingat-ingat kembali doa yang pernah dia ucapkan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O iya, kamu benar, istriku! Sekarang Abang percaya bahwa kamu memang benar-benar hamil. Pantas saja perutmu tidak kelihatan membesar, karena bayi di dalam rahimmu hanya sebesar kelingking,” kata sang Suami sambil mengelus-elus perut istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Tak terasa usia kandungan istrinya telah genap sembilan bulan. Pada suatu malam, sang Istri benar-benar melahirkan seorang bayi laki-laki sebesar kelingking. Betapa bahagianya sepasang suami-istri itu, karena telah memperoleh seorang anak yang sudah lama mereka idam-idamkan. Mereka pun memberinya nama Kelingking. Mereka mengasuhnya dengan penuh kasih sayang hingga menjadi dewasa. Hanya saja, tubuhnya masih sebesar kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Negeri Jambi didatangi Nenek Gergasi. Ia adalah hantu pemakan manusia dan apa saja yang hidup. Kedatangan Nenek Gergasi itu membuat penduduk Negeri Jambi menjadi resah, termasuk keluarga Kelingking. Tak seorang pun warga yang berani pergi ke ladang mencari nafkah. Melihat keadaan itu, Raja Negeri Jambi pun segera memerintahkan seluruh warganya untuk mengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anakku! Ayo bersiap-siaplah! Kita harus pindah dari tempat ini untuk mencari tempat lain yang lebih aman,” ajak ayah Kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ajakan ayahnya itu, Kelingking terdiam dan termenung sejenak. Ia berpikir mencari cara untuk mengusir Nenek Gergasi itu. Setelah menemukan caranya, Kelingking pun berkata kepada ayahnya, “Tidak, Ayah! Aku tidak mau pergi mengungsi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu tidak takut ditelan oleh Nenek Gergasi itu?” tanya ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah dan Emak jangan khawatir. Aku akan mengusir Nenek Gergasi itu dari negeri ini,” jawab si Kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana cara kamu mengusirnya, sedangkan tubuhmu kecil begitu?” tanya emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru karena itulah, aku bisa mengusirnya,” jawab si Kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu, Anakku?” tanya emaknya bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini Ayah, Emak. Tubuhku ini hanya sebesar kelingking. Jadi, aku mudah bersembunyi dan tidak akan terlihat oleh hantu itu. Aku mohon kepada Ayah agar membuatkan aku lubang untuk tempat bersembunyi. Dari dalam lubang itu, aku akan menakut-nakuti hantu itu. Jika hantu itu telah mati, akan aku beritakan kepada Ayah dan Emak serta semua penduduk,” kata Kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ayah pun memenuhi permintaan Kelingking. Ia membuat sebuah lubang kecil di dekat tiang rumah paling depan. Setelah itu, ayah dan emak Kelingking pun berangkat mengungsi bersama warga lainnya. Maka tinggallah sendiri si Kelingking di dusun itu. Ia pun segera masuk ke dalam lubang untuk bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hari menjelang sore, Nenek Gergasi pun datang hendak memakan manusia. Alangkah marahnya ketika ia melihat kampung itu sangat sepi. Rumah-rumah penduduk tampak kosong. Begitu pula dengan kandang-kandang ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, manusia, kambing, kerbau, dan ayam, di mana kalian? Aku datang ingin menelan kalian semua. Aku sudah lapar!” seru Nenek Gergasi dengan geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelingking yang mendengar teriakan itu pun menyahut dari dalam lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku di sini, Nenek Tua.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek Gergasi sangat heran mendengar suara manusia, tapi tidak kelihatan manusianya. Ia pun mencoba berteriak memanggil manusia. Betapa terkejutnya ia ketika teriakannya dijawab oleh sebuah suara yang lebih keras lagi. Hantu itu pun mulai ketakutan. Ia mengira ada manusia yang sangat sakti di kampung itu. Beberapa saat kemudian, si Kelingking menggertaknya dari dalam lubang persembunyiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarilah Nenek Geragasi. Aku juga lapar. Dagingmu pasti enak dan lezat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar suara gertakan itu, Nenek Gergasi langsung lari tungganglanggang dan terjerumus ke dalam jurang dan mati seketika. Si Kelingking pun segera keluar dari dalam lubang tempat persembunyiannya. Dengan perasaan lega, ia pun segera menyampaikan berita gembira itu kepada kedua orangtuanya dan para warga, kemudian mengajak mereka kembali ke perkampungan untuk melaksanakan keseharian seperti biasanya. Mereka pun sangat kagum pada kesaktian Kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang keberhasilan Kelingking mengusir Nenek Gergasi itu sampai ke telinga Raja. Kelingking pun dipanggil untuk segera menghadap sang Raja. Kelingking ditemani oleh ayah dan emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Kelingking! Benarkah kamu yang telah mengusir Nenek Gergasi itu?” tanya sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Tuanku! Untuk apa hamba berbohong,” jawab si Kelingking sambil memberi hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Kelingking. Aku percaya pada omonganmu. Tapi, ingat! Jika hantu pemakan manusia itu datang lagi, maka tahu sendiri akibatnya. Kamu akan kujadikan makanan tikus putih peliharaan putriku,” acam sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Tuanku! Jika hamba terbukti berbohong, hamba siap menerima hukuman itu. Tapi, kalau hamba terbukti tidak berbohong, Tuanku berkenan mengangkat hamba menjadi Panglima di istana ini,” pinta Kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun permintaan Kelingking itu sangatlah berat, sang Raja menyanggupinya dengan pertimbangan bahwa mengusir hantu Nenek Gergasi tidaklah mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Kelingking bersama kedua orangtuanya memohon diri untuk kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, ayah dan emaknya selalui dihantui rasa cemas dan takut kalau-kalau Nenek Gergasi kembali lagi. Hal itu berarti nyawa anaknya akan terancam. Sesampainya di rumah, mereka pun meminta kepada Kelingking agar menceritakan bagaimana ia berhasil mengusir hantu itu. Kelingking pun menceritakan semua peristiwa itu dari awal kedatangan hantu itu hingga lari tungganglanggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu yakin Nenek Gergasi tidak akan kembali lagi ke sini?” tanya ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan itu, Kelingking terdiam. Hatinya tiba-tiba dihinggapi rasa ragu. Jangan-jangan hantu itu kembali lagi. Rupanya, si Kelingking tidak mengetahui bahwa Nenek Gergasi itu telah mati karena terjerumus ke dalam jurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu telah berlalu, Nenek Gergasi tidak pernah muncul lagi. Namun, hal itu belum membuat hati Kelingking tenang. Suatu hari, ketika pulang dari ladang bersama ayahnya, ia menemukan mayat Nenek Gergasi di jurang. Maka yakinlah ia bahwa Nenek Gergasi telah mati dan tidak akan lagi mengganggu penduduk Negeri Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Kelingking bersama kedua orangtuanya segera menghadap raja untuk membuktikan bahwa ia benar-benar tidak berbohong. Dengan kesaksian kedua orangtuanya, sang Raja pun percaya dan memenuhi janjinya, yakni mengangkat Kelingking menjadi Panglima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa bulan menjadi Panglima, Kelingking merasa perlu seorang pendamping hidup. Ia pun menyampaikan keinginannya itu kepada kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, Emak! Kini aku sudah dewasa. Aku menginginkan seorang istri. Maukah Ayah dan Emak pergi melamar putri Raja yang cantik itu untukku?” pinta Kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah terkejutnya kedua orangtuanya mendengar permintaan Kelingking itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kamu ini ada-ada saja Kelingking! Tidak mungkin Baginda Raja mau menerima lamaranmu. Awak kecil, selera gedang (besar),” sindir ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, kita belum mencobanya, Ayah! Siapa tahu sang Putri mau menerima lamaranku,” kata Kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya kedua orangtuanya enggan memenuhi permintaan Kelingking. Tapi, setelah didesak, akhirnya mereka pun terpaksa menghadap dan siap menerima caci maki dari Raja. Ternyata benar, ketika menghadap, mereka mendapat cacian dari Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar anakmu si Kelingking itu tidak tahu diuntung! Dikasih sejengkal, minta sedepa. Sudah diangkat menjadi Panglima, minta nikah pula!” bentak sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar bentakan itu, kedua orangtua Kelingking tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun pulang tanpa membawa hasil. Mendengar berita itu, Kelingking tidak berputus asa. Ia meminta agar mereka kembali lagi menghadap Raja, namun hasilnya pun tetap nihil. Akhirnya, Kelingking memutuskan pergi menghadap bersama ibunya. Sesampainya di istana, mereka tetap disambut oleh keluarga istana. Sang Putri pun hadir dalam pertemuan itu. Kelingking menyampaikan langsung lamarannya kepada Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Tuanku! Izinkanlah hamba menikahi putri Tuanku,” pinta Kelingking kepada sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui bahwa ayahandanya pasti akan marah kepada Kelingking, sang Putri pun mendahului ayahnya berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Ayahanda! Perkenankanlah Ananda menerima lamaran si Kelingking. Ananda bersedia menerima Kelingking apa adanya,” sahut sang Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nanti engkau menyesal, Putriku. Masih banyak pemuda sempurna dan gagah di negeri ini. Apa yang kamu harapkan dari pemuda sekecil Kelingking itu,” ujar sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Ayahanda! Memang banyak pemuda gagah di negeri ini, tapi apa jasanya kepada kerajaan? Sementara si Kelingking, meskipun tubuhnya kecil, tapi ia telah berjasa mengusir dan membunuh hantu Nenek Gergasi,” tandas sang Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pernyataan putrinya, sang Raja tidak berkutik. Ia baru menyadari bahwa ternyata si Kelingking telah berjasa kepada kerajaan dan seluruh penduduk di negeri itu. Akhirnya, sang Raja pun menerima lamaran si Kelingking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian. Pesta pernikahan Kelingking dengan sang Putri dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam dengan dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni dan tari. Tamu undangan berdatangan dari berbagai penjuru Negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan, tampak hanya sang Putri yang duduk sendirian di pelaminan. Si Kelingking tidak kelihatan karena tubuhnya terlalu kecil. Di antara tamu undangan, ada yang berbisik-bisik membicarakan tentang kedua mempelai tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sang Putri mau menikah dengan si Kelingking? Bagaimana ia bisa mendapatkan keturunan, sementara suaminya hanya sebesar kelingking?” tanya seorang tamu undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah! Tapi, yang jelas, sang Putri menikah dengan si Kelingking bukan karena ingin mendapatkan keturunan, tapi ia ingin membalas jasa kepada si Kelingking,” jawab seorang tamu undangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pesta pernikahan putrinya, sang Raja memberikan sebagian wilayah kekuasaannya, pasukan pengawal, dan tenaga kerja kepada si Kelingking untuk membangun kerajaan sendiri. Setelah istananya jadi, Kelingking bersama istrinya memimpin kerajaan kecil itu. Meski hidup dalam kemewahan, istri Kelingking tetap menderita batin, karena si Kelingking tidak pernah mengurus kerajaan dan sering pergi secara diam-diam tanpa memberitahukan istrinya. Namun, anehnya, setiap Kelingking pergi, tidak lama kemudian seorang pemuda gagah menunggang kuda putih datang ke kediaman istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke mana suamimu si Kelingking?” tanya pemuda gagah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suamiku sedang bepergian. Kamu siapa hai orang muda?” tanya sang Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, bolehkah saya masuk ke dalam?” pinta pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan, orang muda! Tidak baik menurut adat,” cegat sang Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu pun tidak mau memaksakan kehendaknya. Dia pun berpamitan dan pergi entah ke mana. Melihat gelagat aneh pemuda itu, sang Putri pun mulai curiga. Pada malam berikutnya, ia berpura-pura tidur. Si Kelingking yang mengira istrinya sudah tidur pulas pergi secara diam-diam. Namun, ia tidak menyadari jika ternyata istrinya membututinya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di tepi sungai, si Kelingking pun langsung membuka pakaian dan menyembunyikannya di balik semak-semak. Kemudian ia masuk berendam ke dalam sungai seraya berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebentar setelah membaca doa, tiba-tiba seorang pemuda gagah berkuda putih muncul dari dalam sungai. Alangkah, terkejutnya sang Putri menyaksikan peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, bukankah pemuda itu yang sering datang menemuiku?” gumam sang Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan peristiwa itu, sadarlah sang Putri bahwa pemuda gagah itu adalah suaminya, si Kelingking. Dengan cepat, ia pun segera mengambil pakaian si Kelingking lalu membawanya pulang dan segera membakarnya. Tidak berapa lama setelah sang Putri berada di rumah, pemuda berkuda itu datang lagi menemuinya lalu berpamitan seperti biasanya. Namun, ketika sang Putri akan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba pemuda gagah itu kembali lagi menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan Kanda, Istriku! Percayalah pada Kanda, Dinda! Kanda ini adalah si Kelingking. Kanda sudah tidak bisa lagi menjadi si Kelingking. Pakaian Kanda hilang di semak-semak. Selama ini Kanda hanya ingin menguji kesetiaan Dinda kepada Kanda. Ternyata, Dinda adalah istri yang setia kepada suami. Izinkanlah Kanda masuk, Dinda!” pinta pemuda gagah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan senang dan gembira, sang Putri pun mempersilahkan pemuda itu masuk ke dalam rumah, karena ia tahu bahwa pemuda gagah itu adalah suaminya, si Kelingking. Setelah itu, sang Putri pun bercerita kepada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan Dinda, Kanda! Dindalah yang mengambil pakaian Kanda di semak-semak dan sudah Kanda bakar. Dinda bermaksud melakukan semua ini karena Dinda ingin melihat Kanda seperti ini, gagah dan tampan,” kata sang Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelingking pun merasa senang melihat istrinya bahagia karena mempunyai suami yang gagah dan tampan. Akhirnya, mereka pun hidup bahagia. Si Kelingking memimpin negerinya dengan arif dan bijaksana, dan rakyatnya hidup damai dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian cerita Si Kelingking dari daerah Jambi, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pelajaran moral yang dapat dipetik dari cerita di atas bahwa bentuk dan ukuran tubuh seseorang tidak dapat dijadikan pedoman rendah atau luhurnya kepribadian seseorang. Hal ini tampak pada diri si Kelingking, meskipun ukuran tubuhnya kecil, tapi ia telah berjasa kepada rakyat dan negerinya, karena telah mengusir Nenek Gergasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kaslani. Buku  Cerita Rakyat dari Jambi 2.  Jakarta, Grasindo. 1998.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-7777938754329894327?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/7777938754329894327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/si-kelingking.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7777938754329894327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7777938754329894327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/si-kelingking.html' title='Si Kelingking'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-3954787798844744853</id><published>2010-10-19T20:37:00.001-07:00</published><updated>2010-10-19T20:37:58.281-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Putri Tangguk</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Putri Tangguk adalah seorang petani yang tinggal di Negeri Bunga Tanjung, Kecamatan Danau Kerinci, Provinsi Jambi, Indonesia. Ia memiliki sawah hanya seluas tangguk, [1] tetapi mampu menghasilkan padi yang sangat melimpah. Pada suatu hari, Putri Tangguk dikejutkan dengan sebuah peristiwa aneh di sawahnya. Ia mendapati tanaman padinya telah berubah menjadi rerumputan tebal. Mengapa tanaman padi Putri Tangguk secara ajaib berubah menjadi rumput? Temukan jawabannya dalam cerita Putri Tangguk berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah, di Negeri Bunga, Kecamatan Danau Kerinci Jambi, ada seorang perempuan bernama Putri Tangguk. Ia hidup bersama suami dan tujuh orang anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia bersama suaminya menanam padi di sawahnya yang hanya seluas tangguk. Meskipun hanya seluas tangguk, sawah itu dapat menghasilkan padi yang sangat banyak. Setiap habis dipanen, tanaman padi di sawahnya muncul lagi dan menguning. Dipanen lagi, muncul lagi, dan begitu seterusnya. Berkat ketekunannya bekerja siang dan malam menuai padi, tujuh lumbung padinya yang besar-besar sudah hampir penuh. Namun, kesibukan itu membuatnya lupa mengerjakan pekerjaan lain. Ia terkadang lupa mandi sehingga dakinya dapat dikerok dengan sendok. Ia juga tidak sempat bersilaturahmi dengan tetangganya dan mengurus ketujuh orang anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, saat ketujuh anaknya sudah tidur, Putri Tangguk berkata kepada suaminya yang sedang berbaring di atas pembaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang! Adik sudah capek setiap hari menuai padi. Adik ingin mengurus anak-anak dan bersilaturahmi ke tetangga, karena kita seperti terkucil,” ungkap Putri Tangguk kepada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, apa rencanamu, Dik?” tanya suaminya dengan suara pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini Bang! Besok Adik ingin memenuhi ketujuh lumbung padi yang ada di samping rumah untuk persediaan kebutuhan kita beberapa bulan ke depan,” jawab Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu. Besok anak-anak kita ajak ke sawah untuk membantu mengangkut padi pulang ke rumah,” jawab suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Bang!” jawab Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, mereka pun tertidur lelap karena kelelahan setelah bekerja hampir sehari semalam. Ketika malam semakin larut, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Hujan itu baru berhenti saat hari mulai pagi. akibatnya, semua jalan yang ada di kampung maupun yang menuju ke sawah menjadi licin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai sarapan, Putri Tangguk bersama suami dan ketujuh anaknya berangkat ke sawah untuk menuai padi dan mengangkutnya ke rumah. Dalam perjalanan menuju ke sawah, tiba-tiba Putri Tangguk terpelesat dan terjatuh. Suaminya yang berjalan di belakangnya segera menolongnya. Walau sudah ditolong, Putri Tangguk tetap marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jalanan kurang ajar!” hardik Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah! Padi yang aku tuai nanti akan aku serakkan di sini sebagai pengganti pasir agar tidak licin lagi,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menuai padi yang banyak, hampir semua padi yang mereka bawa diserakkan di jalan itu sehingga tidak licin lagi. Mereka hanya membawa pulang sedikit padi dan memasukkannya ke dalam lumbung padi. Sesuai dengan janjinya, Putri Tangguk tidak pernah lagi menuai padi di sawahnya yang seluas tangguk itu. Kini, ia mengisi hari-harinya dengan menenun kain. Ia membuat baju untuk dirinya sendiri, suami, dan untuk anak-anaknya. Akan tetapi, kesibukannya menenun kain tersebut lagi-lagi membuatnya lupa bersilaturahmi ke rumah tetangga dan mengurus ketujuh anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Putri Tangguk keasyikan menenun kain dari pagi hingga sore hari, sehingga lupa memasak nasi di dapur untuk suami dan anak-anaknya. Putri Tangguk tetap saja asyik menenun sampai larut malam. Ketujuh anaknya pun tertidur semua. Setelah selesai menenun, Putri Tangguk pun ikut tidur di samping anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat tengah malam, si Bungsu terbangun karena kelaparan. Ia menangis minta makan. Untungnya Putri Tangguk dapat membujuknya sehingga anak itu tertidur kembali. Selang beberapa waktu, anak-anaknya yang lain pun terbangun secara bergiliran, dan ia berhasil membujuknya untuk kembali tidur. Namun, ketika anaknya yang Sulung bangun dan minta makan, ia bukan membujuknya, melainkan memarahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kamu itu sudah besar! Tidak perlu dilayani seperti anak kecil. Ambil sendiri nasi di panci. Kalau tidak ada, ambil beras dalam kaleng dan masak sendiri. Jika tidak ada beras, ambil padi di lumbung dan tumbuk sendiri!” seru Putri Tangguk kepada anak sulungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena sudah kelaparan, si Sulung pun menuruti kata-kata ibunya. Namun, ketika masuk ke dapur, ia tidak menemukan nasi di panci maupun beras di kaleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu! Nasi dan beras sudah habis semua. Tolonglah tumbukkan dan tampikan padi!” pinta si Sulung kepada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa katamu? Nasi dan beras sudah habis? Seingat ibu, masih ada nasi dingin di panci sisa kemarin. Beras di kaleng pun sepertinya masih ada untuk dua kali tanak. Pasti ada pencuri yang memasuki rumah kita,” kata Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sudahlah kalau begitu. Tahan saja laparnya hingga besok pagi! Ibu malas menumbuk dan menampi beras, apalagi malam-malam begini. Nanti mengganggu tetangga,” ujar Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berkata begitu, Putri Tangguk tertidur kembali karena kelelahan setelah menenun seharian penuh. Si Sulung pun kembali tidur dan ia harus menahan lapar hingga pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, ketujuh anaknya bangun dalam keadaan perut keroncongan. Si Bungsu menangis merengek-rengek karena sudah tidak kuat menahan lapar. Demikian pula, keenam anaknya yang lain, semua kelaparan dan minta makan. Putri Tangguk pun segera menyuruh suaminya mengambil padi di lumbung untuk ditumbuk. Sang Suami pun segera menuju ke lumbung padi yang berada di samping rumah. Alangkah terkejutnya sang Suami saat membuka salah satu lumbung padinya, ia mendapati lumbungnya kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, ke mana padi-padi itu?” gumam sang Suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan panik, ia pun memeriksa satu per satu lumbung padinya yang lain. Namun, setelah ia membuka semuanya, tidak sebutir pun biji padi yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik...! Dik...! Cepatlah kemari!” seru sang Suami memanggil Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Bang?” tanya Putri Tangguk dengan perasaan cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihatlah! Semua lumbung padi kita kosong. Pasti ada pencuri yang mengambil padi kita,” jawab sang Suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Tangguk hanya ternganga penuh keheranan. Ia seakan-akan tidak percaya pada apa yang baru disaksikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Bang! Tadi malam pencuri itu juga mengambil nasi kita di panci dan beras di kaleng,” tambah Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, tidak apalah, Bang! Kita masih mempunyai harapan. Bukankah sawah kita adalah gudang padi?” kata Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berkata begitu, Putri Tangguk langsung menarik tangan suaminya lalu berlari menuju ke sawah. Sesampai di sawah, alangkah kecewanya Putri Tangguk, karena harapannya telah sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang! Pupuslah harapan kita. Lihatlah sawah kita! Jangankan biji padi, batang padi pun tidak ada. Yang ada hanya rumput tebal menutupi sawah kita,” kata Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Suami pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya tercengang penuh keheranan menyaksikan peristiwa aneh itu. Dengan perasaan sedih, Putri Tangguk dan suaminya pulang ke rumah. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Selama dalam perjalanan, Putri Tangguk mencoba merenungi sikap dan perbuatannya selama ini. Sebelum sampai di rumah, teringatlah ia pada sikap dan perlakuannya terhadap padi dengan menganggapnya hanya seperti pasir dan menyerakkannya di jalan yang becek agar tidak licin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya... Tuhan! Itukah kesalahanku sehingga kutukan ini datang kepada kami?” keluh Putri Tangguk dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainnya di rumah, Putri Tangguk tidak dapat berbuat apa-apa. Seluruh badannya terasa lemas. Hampir seharian ia hanya duduk termenung. Pada malam harinya, ia bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua berjenggot panjang mengenakan pakaian berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Putri Tangguk! Aku tahu kamu mempunyai sawah seluas tangguk, tetapi hasilnya mampu mengisi dasar Danau Kerinci sampai ke langit. Tetapi sayang, Putri Tangguk! Kamu orang yang sombong dan takabbur. Kamu pernah meremehkan padi-padi itu dengan menyerakkannya seperti pasir sebagai pelapis jalan licin. Ketahuilah, wahai Putri Tangguk...! Di antara padi-padi yang pernah kamu serakkan itu ada setangkai padi hitam. Dia adalah raja kami. Jika hanya kami yang kamu perlakukan seperti itu, tidak akan menjadi masalah. Tetapi, karena raja kami juga kamu perlakukan seperti itu, maka kami semua marah. Kami tidak akan datang lagi dan tumbuh di sawahmu. Masa depan kamu dan keluargamu akan sengsara. Rezekimu hanya akan seperti rezeki ayam. Hasil kerja sehari, cukup untuk dimakan sehari. Kamu dan keluargamu tidak akan bisa makan jika tidak bekerja dulu. Hidupmu benar-benar akan seperti ayam, mengais dulu baru makan....” ujar lelaki tua itu dalam mimpi Putri Tangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Tangguk belum sempat berkata apa-apa, orang tua itu sudah menghilang. Ia terbangun dari tidurnya saat hari mulai siang. Ia sangat sedih merenungi semua ucapan orang tua yang datang dalam mimpinya semalam. Ia akan menjalani hidup bersama keluarganya dengan kesengsaraan. Ia sangat menyesali semua perbuatannya yang sombong dan takabbur dengan menyerakkan padi untuk pelapis jalan licin. Namun, apalah arti sebuah penyesalan. Menyesal kemudian tiadalah guna.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian cerita Putri Tangguk dari Provinsi Jambi. Cerita di atas tergolong mitos yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Di kalangan masyarakat Jambi, mitos ini sering dijadikan nasihat orang tua kepada anak-anaknya agar tidak menyia-nyiakan padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keburukan sifat sombong dan takabbur. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Putri Tangguk yang telah meremehkan padi dengan cara menyerakkannya di jalan yang licin sebagai pengganti pasir. Akibatnya, hidupnya menjadi sengsara karena padi-padi tersebut murka kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa harta dan pekerjaan dapat membuat seseorang lalai, lengah, dan tidak waspada dalam berbuat, sehingga mengakibatkan kebinasaan dan malapetaka. Orang yang memiliki sifat-sifat tersebut biasanya akan menyadari kesalahannya setelah tertimpa musibah. Sebagaimana dikatakan dalam ungkapan Melayu, “ingat setelah kena” (Tennas Effendy, 1995: 87). Hal ini tampak pada sikap dan perilaku Putri Tangguk, yang baru menyadari dan menyesali semua perbuatannya setelah tertimpa musibah, yakni padi ajaib enggan untuk kembali dan tumbuh lagi di sawahnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kaslani.  Buku Cerita Rakyat Dari Jambi 2. Jakarta: Grasindo. 1998.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-3954787798844744853?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/3954787798844744853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/putri-tangguk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3954787798844744853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3954787798844744853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/putri-tangguk.html' title='Putri Tangguk'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-8624308146842694899</id><published>2010-10-19T20:35:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:36:54.451-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Datuk Darah Putih</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Datuk Darah Putih adalah seorang hulubalang dari sebuah kerajaan di negeri Jambi, Indonesia. Ia terkenal sebagai seorang hulubalang yang pemberani, jujur, sakti, dan cendikia. Pada suatu waktu, kerajaan itu diserang oleh Belanda. Berkat kesaktian dan keberanian Datuk Darah Putih, pasukan Belanda berhasil dikalahkan. Bagaimana Datuk Darah Putih bisa mengalahkan mereka? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Datuk Darah Putih berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di negeri Jambi, ada sebuah kerajaan yang memiliki seorang hulubalang bernama Datuk Darah Putih. Diberi nama demikian, karena jika terluka darah yang keluar dari tubuhnya berwarna putih. Ia seorang hulubalang yang terkenal dengan kejujuran, kepandaian, keberanian, dan kesakstiannya. Raja negeri itu sangat hormat kepadanya, berkat kepatuhan dan kemampuannya menyelesaikan segala tugas yang diembannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, sang Raja memerintahkan Datuk Darah Putih untuk membentuk pasukan inti kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai, Datuk! Kumpulkan beberapa prajurit pilihan yang memiliki ketangkasan perang yang tinggi, jujur, setia pada raja, rela berkorban untuk kepentingan negeri, serta pantang menyerah dan mengeluh. Setelah itu, latihlah mereka agar menjadi prajurit yang tangguh seperti dirimu!” titah Baginda Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daulah, Baginda!” jawab Datuk Darah Putih sambil memberi hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Darah Putih pun segera melaksanakan perintah raja. Tidak sulit baginya untuk memilih prajurit yang akan dijadikan pasukan inti. Sebab, sebagai seorang hulubalang, ia sudah mengetahui semua kepribadian dan kemampuan perang semua prajuritnya. Dalam waktu singkat, Datuk Darah Putih sudah berhasil mengumpulkan puluhan prajurit pilihan, lalu melatih kemampuan perang mereka dengan penuh kesungguhan. Setelah hampir setahun berlatih secara terus-menerus, seluruh anggota pasukan inti tersebut telah menjadi prajurit yang tangguh, pemberani, dan siap mengorbankan jiwa raganya untuk negeri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, sang Raja mendengar laporan dari seorang mata-mata bahwa Belanda akan datang menyerang negeri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gawat, Baginda!” lapor seorang mata-mata kerajaan yang datang tergopoh-gopoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Prajurit? Kenapa kamu panik seperti itu? Katakanlah!” desak sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Baginda! Pasukan Belanda akan menyerbu negeri kita. Mereka sedang menuju kemari melalui jalur laut,” lapor mata-mata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar laporan itu, sang Raja terdiam, lalu beranjak dari singgasananya. Ia kemudian mondar-mandir sambil mengelus-elus jenggotnya yang lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm... kedatangan mereka pasti ingin mengeruk kekayaan negeri ini. Mereka adalah penjajah yang serakah dan suka mengadu domba penduduk negeri,” kata sang Raja yang sudah mengerti watak penjajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus kami lakukan, Tuan?” tanya Datuk Darah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena mereka melalui jalur laut, tentu hanya satu jalan yang dapat dilalui, yaitu Selat Berhala,” ungkap sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berarti kita harus menghadang mereka di sekitar Pulau Berhala, Tuanku,” sambung Datuk Darah Putih yang sudah mengerti maksud perkataan sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Datuk! Besok pagi-pagi sekali, berangkatlah ke sana. Hadang dan hancurkan mereka di Selat Berhala. Siapkan seluruh pasukan inti dan beberapa prajurit lainnya!” titah sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Daulah, Baginda! Perintah segera hamba laksanakan,” jawab Datuk Darah Putih sambil memberi hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hulubalang sakti itu pun segera memerintahkan seluruh pasukannya untuk menyiapkan segala peralatan perang yang diperlukan seperti pedang, tombak, dan keris. Mereka juga menyiapkan bekal makanan, karena diperkirakan masih dua hari lagi kapal pasukan Belanda baru memasuki Selat Berhala. Mereka harus berangkat lebih awal untuk mempersiapkan benteng pertahanan di Pulau Berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua peralatan dan bekal disiapkan, pasukan kerajaan yang akan berangkat berperang diperintahkan beristirahat lebih dulu untuk memulihkan tenaga setelah seharian melakukan persiapan. Sementara prajurit lainnya tetap berjaga-jaga di lingkungan istana dari berbagai kemungkinan yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kediamannya, Datuk Darah Putih tampak sedang bercengkerama bersama istrinya yang sedang hamil tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinda! Bagaimana keadaan anak kita?” tanya Datuk Darah Putih sambil mengelus-elus perut istrinya yang buncit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Kanda! Semoga kelak anak kita lahir dengan selamat,” jawab sang Istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinda! Besok Kanda bersama pasukan kerajaan akan berangkat ke medan perang untuk bertempur melawan penjajah Belanda. Tolong jaga baik-baik anak kita yang ada di dalam rahimmu ini!” pinta Datuk Darah Putih kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu, Kanda! Dinda akan selalu merawatnya dengan baik. Jika anak kita laki-laki, Dinda berharap semoga kelak ia menjadi seorang panglima yang sakti dan pemberani seperti Kanda,” ucap sang Istri dengan penuh harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Datuk Darah Putih bersama pasukannya sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Pulau Berhala dengan menggunakan tiga buah jongkong (perahu atau tongkang) besar. Para keluarga istana, termasuk istri Datuk Darah Putih, ikut mengantar pasukan kerajaan tersebut sampai ke pelabuhan. Tidak tampak adanya rasa sedih sedikit pun pada wajah sang Istri. Sebelum meninggalkan pelabuhan, hulubalang sakti itu berpamitan kepada istrinya yang sedang berdiri di samping sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hati-hati, Kanda! Doa Dinda senantiasa menyertai Kanda. Jika sudah berhasil menumpas para penjajah itu, cepatlah kembali!” pesan sang Istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Dinda! Kanda akan kembali membawa kemenangan untuk negeri ini,” jawab Datuk Darah Putih sambil mencium kening dan perut istrinya, lalu bergegas naik ke atas jongkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, ketiga jongkong tersebut berlayar menuju ke Pulau Berhala. Tampak dari kejauhan para pasukan kerajaan melambaikan tangan di atas jongkong. Para pengantar pun membalasnya dengan lambaian tangan pula. Setelah ketiga jongkong tersebut hilang dari pandangan, barulah para pengantar meninggalkan pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Datuk Darah Putih dengan pasukannya sampai di Pulau Berhala, mereka langsung mengatur strategi, membuat benteng-benteng pertahanan, dan tempat pengintaian. Jongkong-jongkong mereka tambatkan di balik batu karang besar yang ada di sekitar Pulau Berhala agar tidak terlihat oleh pasukan Belanda. Sambil menunggu kedatangan musuh, Datuk Darah Putih kembali menggembleng mental pasukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, tampak dari kejauhan iring-iringan kapal pasukan Belanda akan memasuki Selat Berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Datuk, musuh kita telah datang. Mereka sedang menuju kemari,” lapor seorang prajurit pengintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar laporan itu, Datuk Darah Putih segera menyiapkan seluruh pasukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasukan! Ambil posisi masing-masing! Sekaranglah saatnya kita membaktikan diri kepada Baginda Raja dan negeri tercinta ini!” seru Datuk Darah Putih memberi semangat kepada pasukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar seruan itu, pasukan kerajaan segera menaiki ketiga jongkong mereka dan menempati posisi masing-masing. Ketika iring-iringan kapal Belanda memasuki Selat Berhala, ketiga jongkong pasukan kerajaan langsung meluncur ke arah kapal-kapal Belanda. Saat jongkong-jongkong tersebut merapat, Datuk Darah Putih beserta pasukannya segera berlompatan masuk ke dalam kapal-kapal Belanda sambil menebaskan pedang dan menusukkan keris ke arah musuh. Pasukan Belanda yang mendapat serangan mendadak itu menjadi panik. Mereka tidak sempat lagi menggunakan bedil mereka. Untuk mengimbangi serangan dari pasukan kerajaan, mereka menggunakan pedang panjang. Namun karena dalam keadaan tidak siaga, mereka pun terdesak dan tidak berdaya. Tidak seorang pun dari pasukan Belanda yang selamat. Semuanya tewas terkena sabetan pedang dan tusukan keris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari pihak pasukan Datuk Darah Putih hanya ada beberapa prajurit yang terluka. Sebelum kembali ke benteng pertahanan di Pulau Berhala, mereka mengambil senjata dan semua perbekalan yang ada, lalu membakar semua kapal Belanda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Pulau Berhala, pasukan Datuk Darah Putih segera merayakan kemenangan itu dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Datuk! Kita harus segera kembali ke istana untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Baginda Raja,” ujar seorang prajurit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Darah Putih hanya tersenyum mendengar laporan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, Prajurit! Perjuangan kita belum selesai,” jawab Datuk Darah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud, Datuk? Bukankah semua pasukan Belanda telah tewas?” tanya prajurit itu tidak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar katamu, Prajurit! Tapi, itu hanya sebagian kecil. Jika Belanda tidak mendengar berita dari pasukannya yang dikirim dan kita kalahkan itu, tentu mereka akan mengirim pasukan yang lebih besar lagi,” jelas Datuk Darah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan itu, sang Prajurit hanya bisa manggut-manggut. Dalam hatinya berkata bahwa Datuk Darah Putih memang seorang hulubalang yang cerdik dan pandai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa tindakan kita selanjutnya, Datuk?” tanya prajurit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Datuk! Apakah kita harus tetap di sini menunggu kedatangan pasukan Belanda selanjutnya?” sambung seorang prajurit yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Prajurit! Menurut perkiraanku, pasukan Belanda akan tiba di tempat ini tiga hari lagi. Oleh karenanya, kita harus lebih siap, karena kita akan menghadapi pasukan Belanda yang jumlahnya lebih besar,” ujar Datuk Darah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar perkiraan Datuk Darah Putih. Tiga hari kemudian, tampak iring-iringan tiga kapal besar dengan jumlah serdadu yang lebih banyak sedang memasuki Selat Berhala. Namun, hal itu tidak membuat Datuk Darah Putih gentar. Ia pun segera menyiapkan pasukannya untuk menghadang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasukan! Demi negeri ini..., demi masa depan anak cucu kita..., berperanglah sampai titik darah penghabisan!” seru Datuk Darah Putih menyemangati pasukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup Datuk! Hidup Datuk Darah Putih!” terdengar teriakan para prajurit dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, pasukan Datuk Darah Putih segera menaiki jongkong-jongkong lalu meluncur dan merapat ke kapal-kapal Belanda. Kali ini, mereka menghadapi musuh yang lebih berat. Jumlah pasukan Belanda lebih banyak dibanding pasukan kerajaan, sehingga pertempuran itu tampak tidak seimbang. Seorang prajurit kerajaan terkadang harus menghadapi dua sampai tiga orang serdadu Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di haluan kapal, tampak Datuk Darah Putih dikeroyok oleh tiga orang serdadu Belanda. Tidak lama, ia pun mulai terdesak dan tiba-tiba batang lehernya tersabet pedang seorang serdadu Belanda. Maka keluarlah darah putih dari lehernya itu. Namun, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia tetap melakukan perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Prajurit! Aku terkena pedang. Bawa aku mundur dan yang lain tetaplah bertempur sampai titik darah penghabisan!” teriak Datuk Darah Putih sambil menghindari serangan serdadu Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar teriakan itu, beberapa orang prajurit pilihan pun datang membantunya. Dalam waktu singkat, ketiga serdadu Belanda tersebut tewas. Datuk Darah Putih segera dibawa ke Pulau Berhala untuk mendapatkan perawatan. Sesampainya di sana, ia didudukkan di tempat yang aman dan tersembunyi. Para prajurit telah berusaha menutup luka pimpinannya, namun darah putih tetap saja keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong carikan aku anak batu sengkalan untuk menutupi luka di leherku ini!” perintah Datuk Darah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sigapnya, salah seorang prajurit segera mencari batu seperti yang dimaksud pimpinannya itu. Tidak berapa lama, prajurit itu pun kembali membawa sebuah anak batu sengkalan yang tipis, lalu menempelkannya pada luka di leher Datuk Darah Putih. Darah putih itu pun berhenti dan tidak keluar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lukanya tertutup batu sengkalan, Datuk Darah Putih tiba-tiba bangkit dari duduknya, lalu melompat ke atas jongkong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Prajurit! Ayo kita kembali berperang melawan penjajah!” seru Datuk Darah Putih dengan penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prajurit yang menolongnya itu pun segera mengikutinya naik ke atas jongkong. Meskipun masih terluka, Datuk Darah Putih mampu melakukan perlawanan. Bahkan, ia semakin lincah dan gesit memainkan pedangnya, sehingga banyak serdadu Belanda yang terkena sabetan pedangnya. Tidak berapa lama, akhirnya seluruh serdadu Belanda tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Horeee..., horeee... Kita menang!” terdengar suara gegap gempita pasukan kerajaan menyambut kemenangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di balik kegembiraan itu tersimpan rasa duka yang mendalam melihat keadaan Datuk Darah Putih yang terluka parah. Mereka pun kembali ke benteng pertahanan di Pulau Berhala sambil memapah Datuk Darah Putih. Berhubung hari sudah sore, mereka pun memutuskan untuk beristirahat semalam di Pulau Berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Datuk Darah Putih bersama pasukannya kembali ke istana kerajaan. Sesampainya di istana, mereka disambut oleh keluarga istana dan rakyat negeri dengan perasaan duka cita. Banyak orang yang iba melihat kondisi Datuk Darah Putih yang terluka parah. Mengetahui suaminya datang, dengan perasaan tenang dan tabah, istri Datuk Darah Putih menaruh bayinya di atas tempat tidur, lalu segera menyongsong ikut memapah suaminya dan mendekatkannya pada bayi mereka yang lahir dua hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kanda, Anak kita laki-laki. Lihatlah! Dia tampan seperti Kanda,” ujar sang Istri menghibur suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sisa tenaga yang dimiliki dan dengan dibantu istrinya, Datuk Darah Putih mengangkat bayinya, kemudian mendekap dan mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, ia meletakkan bayi itu di pangkuan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan Kanda, Dinda! Tolong rawatlah anak kita baik-baik!” pinta Datuk Darah Putih dengan suara pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Datuk Darah Putih duduk di lantai rumahnya, lalu membaringkan tubuhnya dengan pelan. Pada saat tubuhnya terbaring itulah Datuk Darah Putih menghembuskan napasnya yang terakhir. Sang Istri hanya bisa pasrah, karena ia sadar semua itu merupakan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Demikian cerita Datuk Darah Putih dari daerah Jambi. Cerita di atas termasuk mitos yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik adalah pentingnya seorang pemimpin yang baik. Sifat ini tampak pada sikap dan perilaku Datuk Darah Putih. Ia senantiasa memberi semangat dan suri teladan kepada prajuritnya. Meskipun dalam keadaan terluka, ia tetap bersemangat memimpin pasukannya dalam melawan pasukan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan orang Melayu, pemimpin yang baik sangatlah diutamakan. Untuk itu, mereka selalu berusaha mengangkat pemimpin yang lazim disebut “orang yang dituakan” oleh masyarakat dan kaumnya. Pemimpin ini diharapkan mampu membimbing, melindungi, menjaga, dan menuntun kaumnya (Tenas Effendy, 2006: 653). Dalam tunjuk ajar Melayu banyak disebutkan tentang acuan dasar bagi seorang pemimpin yang baik, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;blockquote&gt;yang dikatakan pemimpin,&lt;br /&gt;mau manampin tahan berlenjin&lt;br /&gt;mau bersakit tahan bersempit&lt;br /&gt;mau berteruk tahan terpuruk&lt;br /&gt;mau berhimpit tahan belengit&lt;br /&gt;mau bersusah tahan berlelah&lt;br /&gt;mau berpenat tahan bertenat&lt;br /&gt;mau berkubang tahan bergumbang&lt;br /&gt;mau bertungkus lumus tahan tertumus&lt;br /&gt;mau ke tengah tahan menepi&lt;br /&gt;mau bersusah tahan merugi &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kaslani.  Buku Cerita Rakyat Dari Jambi 2. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama. 1998. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-8624308146842694899?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/8624308146842694899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/datuk-darah-putih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/8624308146842694899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/8624308146842694899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/datuk-darah-putih.html' title='Datuk Darah Putih'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-4514666387902104138</id><published>2010-10-19T20:33:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:34:57.372-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Jambi dalam cerita ini adalah Raja Jambi Pertama yang berasal dari negeri Keling (India). Pada suatu ketika, Negeri Jambi dikacaukan oleh Hantu Pirau. Seluruh warga menjadi resah, karena mereka tidak bisa keluar rumah mencari nafkah. Bagaimana Raja Jambi menaklukkan Hantu Pirau itu? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau berikut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah, di Negeri Jambi, ada seorang raja yang terkenal sakti mandraguna. Ia adalah Raja Jambi Pertama yang berasal dari Negeri Keling. Selain sakti mandraguna, ia juga terkenal arif dan bijaksana. Ia senantiasa memikirkan nasib dan mengutamakan kepentingan rakyatnya. Keadaan ini membuat rakyat tenang dalam melakukan pekerjaan sehari-hari mencari nafkah. Itulah sebabnya, ia sangat disegani oleh seluruh rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, suasana tenang tersebut tiba-tiba terusik oleh kedatangan Hantu Pirau. Ia selalu datang menakut-nakuti anak-anak kecil yang sedang bermain dan mengganggu bayi-bayi yang sedang tidur. Jika melihat bayi ataupun anak-anak kecil, Hantu Pirau suka tertawa terkekeh-kekeh kegirangan, sehingga anak-anak menjadi ketakutan dan bayi-bayi pun menangis. Namun, jika para orangtua menjaga anak-anak mereka, hantu itu tidak berani datang mengganggu. Oleh karenanya, para orangtua setiap saat harus selalu menjaga anak-anak mereka baik ketika sedang bermain maupun tidur di buaian. Keadaan tersebut membuat warga menjadi resah, karena mereka tidak bisa keluar rumah untuk pergi mencari nafkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keadaan itu, para pemimpin masyarakat dari Tujuh Koto, Sembilan Koto, dan Batin Duo Belas atau yang lazim disebut Dubalang Tujuh, Dubalang Sembilan, dan Dubalang Duo Belas, mencoba mengusir hantu tersebut dengan membacakan segala macam mantra yang mereka kuasai. Namun, semuanya sia-sia. Bahkan, kelakuan hantu itu semakin menjadi-jadi. Hampir setiap saat, baik siang maupun malam, ia selalu datang mengganggu anak-anak hingga menangis dan menjerit-jerit ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala cara sudah kita lakukan, tapi Hantu Pirau itu tetap saja tidak mau enyah dari negeri ini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Dubalang Tujuh bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kejadian ini kita sampaikan kepada raja?” usul Dubalang Sembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku setuju. Bukankah beliau seorang raja yang sakti mandraguna?” sahut Dubalang Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu! Ayo kita bersama-sama pergi menghadap kepada raja,” kata Dubalang Tujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat kata mufakat, akhirnya ketiga dubalang tersebut segera menghadap Raja Negeri Jambi. Sesampainya di istana, mereka pun segera melaporkan semua peristiwa yang sedang menimpa negeri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Baginda! Kami ingin melaporkan sesuatu kepada Baginda,” kata Dubalang Dua Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah! Apakah gerangan yang terjadi di negeri ini, wahai Dubalang?” tanya Raja Jambi ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun Baginda! Beberapa hari ini, Hantu Pirau selalu datang mengganggu anak-anak kami. Mula-mula mereka merasa geli dan tertawa, tapi lama-kelamaan mereka menangis dan menjerit ketakutan,” jawab Dubalang Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Baginda! Kami sudah melakukan berbagai cara, namun Hantu Pirau itu selalu saja datang mengganggu mereka,” tambah Dubalang Sembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana bentuk dan rupa Hantu Pirau itu? Apakah kalian pernah melihatnya?” tanya Raja Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum Baginda! Kami hanya sering mendengar suara gelak tawanya kegirangan ketika anak-anak itu menangis dan menjerit-jerit,” jawab Dubalang Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar laporan para dubalang tersebut, Raja Jambi tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang lebat dan sudah mulai memutih. Ia kemudian beranjak dari singgasananya lalu berjalan mondar-mandir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu. Pulanglah ke negeri kalian dan sampaikan kepada seluruh warga yang pandai membuat lukah[1] agar masing-masing orang membuat sebuah lukah!” titah Raja Negeri Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Baginda! Untuk apa lukah itu? Bukankah sekarang belum musim berkarang (mencari ikan)?” tanya Duabalang Duo Belas dengan penuh keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, laksanakan saja apa yang aku perintahkan tadi! Jangan lupa, setelah lukah-lukah tersebut selesai, segeralah memasangnya di atas bukit dengan mengikatkannya pada tonggak-tonggak yang kuat. Setelah itu, setiap pagi dan sore kalian bergiliran ke atas bukit untuk melihat lukah-lukah tersebut!” perintah sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan sang Raja, ketiga dubalang itu langsung mohon diri untuk melaksanakan perintah. Tak satu pun dari mereka yang berani kembali bertanya kepada raja. Dalam perjalanan pulang, mereka terus bertanya-tanya dalam hati tentang perintah sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di negeri masing-masing, ketiga dulabang itu langsung menyampaikan perintah raja kepada seluruh warganya. Para warga hanya terheran-heran ketika menerima perintah itu. Ketika bertanya kepada ketiga dubalang, mereka tidak mendapat jawaban yang pasti. Sebab ketiga dubalang itu juga tidak mengetahui maksud sang Raja. Namun karena itu adalah perintah raja, para warga pun segera membuat lukah, meskipun dalam hati mereka selalu bertanya-tanya. Lukah-lukah tersebut kemudian mereka pasang di atas bukit yang tak jauh dari permukiman penduduk. Setiap pagi dan sore ketiga dubalang itu secara bergiliran naik ke atas bukit untuk melihat dan memeriksa lukah-lukah tersebut. Pada hari pertama, kedua, ketiga hingga hari keenam, belum menunjukkan adanya tanda-tanda yang mencurigakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketujuh di pagi hari, Dubalang Duo Belas mendapat giliran naik ke atas bukit untuk memeriksa lukah-lukah tersebut. Alangkah terkejutnya saat ia berada di atas bukit. Ia melihat sesuatu menggelepar-gelepar di dalam sebuah lukah. Bentuknya menyerupai manusia, tetapi kecil. Makhluk itu juga dapat berbicara seperti manusia. Ketika Dubalang Duo Belas mendekat, makhluk aneh itu mengeluarkan suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, sepertinya aku sering mendengar suara itu. Bukankah itu suara Hantu Pirau yang sering mengganggu anak-anak kecil?” tanya Dubalang Duo Belas dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memastikan bahwa suara itu benar-benar Hantu Pirau, maka yakinlah ia bahwa makhluk yang terperangkap dalam lukah itu pastilah Hantu Pirau. Ia pun segera melaporkan hal itu kepada Raja Negeri Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Baginda! Hamba baru saja dari bukit itu. Hamba menemukan seekor makhluk yang terperangkap ke dalam lukah. Apakah dia itu Hantu Pirau?” tanya Dubalang Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, dubalang! Bawalah Hantu Pirau itu kemari!” titah sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Baginda! Hamba laksanakan!” ucap Dubalang Duo Belas seraya berpamitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menuju ke atas bukit, ia mengajak Dubalang Sembilan dan Dubalang Tujuh untuk bersama-sama mengambil lukah tersebut. Setelah membuka tali pengikat lukah dari tonggak, ketiga dubalang tersebut membawa lukah yang berisi Hantu Pirau itu ke hadapan sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah tahukah kalian, wahai dubalang! Makhluk inilah yang bernama Hantu Pirau yang sering menganggu anak-anak kecil,” ungkap sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengerti Baginda!” jawab ketiga dubalang itu serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengawal! Siapkan pedang yang tajam! Aku akan memotong-motong tubuh hantu ini,” perintah sang Raja kepada seorang pengawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ancaman tersebut, Hantu Pirau itu pun langsung memohon ampun kepada Raja Negeri Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Tuan! Janganlah bunuh hamba! Jika Tuan sudi melepaskan hamba dari lukah ini, hamba akan memenuhi segala permintaan Tuan. Bukankah Tuan adalah Raja yang arif dan bijaksana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kalau begitu! Aku hanya ada dua permitaan. Pertama, setelah keluar dari lukah ini, tinggalkan negeri ini dan jangan pernah kembali mengganggu wargaku lagi, terutama anak-anak kecil. Kedua, serahkan cincin pinto-pinto (pinta-pinta, yakni cincin sakti, apo yang kuminta harus ado) itu kepadaku!” kata sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantu Pirau pun langsung menyanggupi permintaan Raja Jambi. Setelah dikeluarkan dari lukah, ia pun segera menyerahkan cincin pinto-pinto nya kepada sang Raja, lalu pergi meninggalkan Negeri Jambi. Sejak itu, Negeri Jambi tidak pernah lagi diganggu oleh Hantu Pirau. Keadaan negeri kembali aman, damai dan tenang. Seluruh penduduk kembali melakukan pekerjaan mereka sehari-hari dengan perasaan aman dan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun setelah peristiwa Hantu Pirau itu, Raja Negeri Jambi tiba-tiba berpikir ingin membuktikan kesaktian cincin pinto-pinto pemberian Hantu Pirau. Namun karena keinginannya tidak ingin diketahui oleh rakyat Negeri Jambi, maka ia pun menyampaikan kepada rakyatnya bahwa dia akan pulang ke negerinya di Keling (India) dalam waktu beberapa lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di negerinya, Raja Jambi pun segera menguji kesaktian cincin pinto-pinto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei cincin pinto-pinto! Jadikanlah Kota Bambay ini sebagai kota yang bertahtakan mutiara, batu permata, dan intan berlian!” pinta Raja Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu sekejap, suasana Kota Bombay tiba-tiba berubah menjadi gemerlap. Seluruh sudut kota dipenuhi dengan mutiara, batu permata dan intan berlian. Alangkah senang hati sang Raja melihat pemandangan yang indah dan menggiurkan itu. Ia pun enggan untuk kembali ke Negeri Jambi. Namun sebagai raja yang arif dan bijaksana, beberapa tahun kemudian ia mengutus salah seorang putranya yang bernama Sultan Baring untuk menggantikannya sebagai Raja Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat perintah itu, Sultan Baring pun segera berangkat ke Negeri Jambi bersama dengan beberapa orang pengawalnya. Sesampainya di Negeri Jambi, ia pun segera menyampaikan amanah ayahnya kepada seluruh rakyat Jambi bahwa sang Ayah tidak dapat lagi memerintah Negeri Jambi karena sudah tua. Setelah itu, ia membacakan surat pengangkatannya sebagai Raja Jambi Kedua setelah ayahnya. Rakyat Jambi pun menyambutnya dengan gembira, karena ia juga seorang Raja yang arif dan bijaksana seperti ayahnya. Konon, Sultan Baring inilah yang menurunkan raja-raja, sultan-sultan maupun raden-raden berikutnya, seperti Sultan Taha Saifuddin dan Raden Ino Kartopati.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikian cerita Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau dari daerah Jambi, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat diambil dari cerita di atas adalah keutamaan sifat musyawarah mufakat untuk mengatasi segala permasalahan. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Dubalang Tujuh, Dubalang Sembilan, dan Dubalang Duo Belas. Ketika sudah tidak sanggup mengatasi Hantu Pirau, mereka segera bermusyawarah untuk mencari jalan keluar. Dalam kehidupan orang Melayu, musyawarah dan mufakat sangatlah dijunjung tinggi, dihormati dan dimuliakan, karena dengan musyawarah segala kesulitan yang dihadapi mudah untuk diselesaikan. Dikatakan dalam tunjuk Aja Melayu:&lt;br /&gt;apa tanda hidup berilmu,&lt;br /&gt;manfaat mufakat ianya tahu&lt;br /&gt;duduk berunding bersanding bahu&lt;br /&gt;sebelum melangkah memberi tahu&lt;br /&gt;sebelum terlanjur mencari guru&lt;br /&gt;sebelum menyalah bertanya dahulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa ilmu pengetahuan sangatlah penting dalam kehidupan manusia, karena dengan ilmu pengetahuan segala kesulitan dapat diatasi dengan mudah. Oleh karenanya, setiap orang dituntut untuk rajin belajar agar mempunyai pengetahuan yang luas. Menurut orang tua-tua Melayu, manfaat ilmu pengetahuan bukan saja untuk kepentingan pribadi, juga bermanfaat bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Itulah sebabnya, dalam kehidupan orang Melayu, menuntut ilmu pengetahuan sangatlah diutamakan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;wahai ananda dengarlah pesan,&lt;br /&gt;menuntut ilmu engkau utamakan&lt;br /&gt;banyakan amal kuatkan iman&lt;br /&gt;supaya dirimu dikasihi Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bertuah parang karena hulunya,&lt;br /&gt;bulu dikepal elok terasa&lt;br /&gt;bertuah orang karena ilmunya&lt;br /&gt;ilmu diamalkan hidup sentosa&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kaslani.  Buku Cerita Rakyat Dari Jambi 2. Jakarta: Grasindo. 1998.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-4514666387902104138?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/4514666387902104138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/raja-jambi-penakluk-hantu-pirau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/4514666387902104138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/4514666387902104138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/raja-jambi-penakluk-hantu-pirau.html' title='Raja Jambi Penakluk Hantu Pirau'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-4585547747898791984</id><published>2010-10-19T20:31:00.002-07:00</published><updated>2010-10-19T20:33:32.233-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Asal Usul Raja Negeri Jambi</title><content type='html'>Jambi adalah salah satu nama provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Sumatera. Provinsi yang beribukota Jambi ini merupakan bekas wilayah Kesultanan Islam Melayu Jambi (1500-1901 M). Konon, jauh sebelum adanya wilayah kesultanan ini, di negeri Jambi telah berdiri lima buah desa, namun belum memiliki seorang pemimpin atau raja. Untuk itu, para sesepuh dari kelima desa tersebut bersepakat untuk mencari seorang raja yang dapat memimpin dan mempersatukan kelima desa tersebut. Setelah bermusyawarah, mereka bersepakat bahwa siapa pun dapat menjadi pemimpin, tapi dengan syarat harus lulus ujian. Ujian apakah yang harus ditempuh untuk menjadi pemimpin kelima desa tersebut? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Raja Negeri Jambi berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu, wilayah Negeri Jambi terdiri dari lima buah desa dan belum memiliki seorang raja. Desa tersebut adalah Tujuh Koto, Sembilan Koto, Petajin, Muaro Sebo, dan Batin Duo Belas. Dari kelima desa tersebut, Desa Batin Duo Belaslah yang paling berpengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari penduduk kelima desa tersebut semakin ramai dan kebutuhan hidup mereka pun semakin berkembang. Melihat perkembangan itu, maka muncullah suatu pemikiran di antara mereka bahwa hidup harus lebih teratur, harus ada seorang raja yang mampu memimpin dan mempersatukan mereka. Untuk itu, para sesepuh dari setiap desa berkumpul di Desa Batin Duo Belas yang terletak di kaki Bukit Siguntang (sekarang Dusun Mukomuko) untuk bermusyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebelum kita memilih seorang raja di antara kita, bagaimana kalau terlebih dahulu kita tentukan kriteria raja yang akan kita pilih. Menurut kalian, apa kriteria raja yang baik itu?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas membuka pembicaraan dalam pertemuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Menurut saya, seorang raja harus memiliki kelebihan di antara kita,” jawab sesepuh dari Desa Tujuh Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, Benar! Seorang raja harus lebih kuat, baik lahir maupun batin,” tambah sesepuh dari Desa Petajin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sepakat dengan pendapat itu. Kita harus memilih raja yang disegani dan dihormati,” sahut sesepuh dari Desa Muaro Sebo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah kalian semua setuju dengan pendapat tersebut?” tanya sesepuh dari Desa Batin Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setuju!” jawab peserta rapat serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, mereka bersepakat tentang kriteria raja yang akan mereka pilih, yakni harus memiliki kelebihan di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, bagaimana kita dapat mengetahui kelebihan masing-masing di antara kita?” tanya sesepuh dari Desa Sembilan Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, setiap calon pemimpin harus kita uji kemampuannya,” jawab sesepuh Desa Batin Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana caranya?” tanya sesepuh Desa Petajin penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Setiap calon harus melalui empat ujian, yaitu dibakar, direndam di dalam air mendidih selama tujuh jam, dijadikan peluru meriam dan ditembakkan, dan digiling dengan kilang besi. Siapa pun yang berhasil melalui ujian tersebut, maka dialah yang berhak menjadi raja. Apakah kalian setuju?” tanya sesepuh Desa Batin Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua peserta rapat setuju dan siap untuk mencari seorang calon raja. Mereka bersepakat untuk melaksanakan ujian tersebut dalam tiga hari kemudian di Desa Batin Duo Belas. Dengan penuh semangat, seluruh sesepuh kembali ke desa masing-masing untuk menunjuk salah seorang warganya untuk mewakili desa mereka dalam ujian tersebut. Tentunya masing-masing desa berharap memenangkan ujian tersebut. Oleh karena itu, mereka akan memilih warga yang dianggap paling sakti di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pelaksanaan ujian pun tiba. Semua warga dari kelima desa telah berkumpul di Desa Batin Duo Belas untuk menyaksikan lomba adu kesaktian yang mendebarkan itu. Setiap desa telah mempersiapkan wakilnya masing-masing. Sebelum perlombaan dimulai, peserta yang akan tampil pertama dan seterusnya diundi terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diundi, rupanya undian pertama jatuh kepada utusan dari Desa Sembilan Koto. Wakil desa itu pun masuk ke tengah gelanggang untuk diuji. Ia pun dibakar dengan api yang menyala-nyala, tapi tubuhnya tidak hangus dan tidak kepanasan. Ujian kedua, ia direndam di dalam air mendidih, namun tubuhnya tidak melepuh sedikit pun. Ujian ketiga, ia dimasukkan ke dalam mulut meriam lalu disulut dengan api dan ditembakkan. Ia pun terpental dan jatuh beberapa depa. Ia segera bangun dan langsung berdiri tegak seperti tidak terjadi apa-apa. Seluruh penonton kagum menyaksikan kehebatan wakil dari Desa Sembilan Koto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memasuki ujian terakhir, tiba-tiba suasana menjadi hening. Seluruh penonton menjadi tegang, karena ujian yang terakhir ini adalah ujian yang paling berat. Jika kesaktian wakil dari Desa Sembilan Koto itu kurang ampuh, maka seluruh tulangnya akan hancur dan remuk. Ternyata benar, belum sempat penggilingan itu menggiling seluruh tubuhnya, orang itu sudah meraung kesakitan, karena tulang-tulangnya hancur dan remuk. Penggilingan pun segera dihentikan. Wakil dari Desa Sembilan Koto itu dinyatakan tidak lulus ujian dan gagal menjadi raja Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian berikutnya jatuh kepada wakil dari Desa Tujuh Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wakil dari Desa Tujuh Koto dipersilahkan untuk memasuki gelanggang,” kata salah seorang panitia mempersilahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat menunggu, wakil dari Desa Tujuh Koto belum juga maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mana wakil dari Desa Tujuh Koto? Ayo, maju!” seru salah seorang panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tidak berani, lebih baik mundur saja!” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa dilecehkan oleh panitia, calon dari Desa Tujuh Koto pun segera maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa takut? Kami dari Desa Tujuh Koto dak kenal kato undur, dak kenal kato menyerah!” seru wakil Desa Tujuh Koto itu dengan nada menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon raja dari Desa Tujuh Koto pun diuji. Ia berhasil melalui ujian pertama hingga ujian ketiga. Namun, ia gagal pada ujian keempat. Akhirnya, ia pun gagal menjadi raja Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian berikutnya dihadapi oleh wakil dari Desa Batin Duo Belas, kemudian diikuti oleh Desa Petajin dan Muaro Sebo. Namun, wakil dari ketiga desa tersebut semuanya gagal melalui ujian keempat, yakni digiling dengan kilang besi. Oleh karena semua wakil dari kelima desa tersebut gagal melalui ujian, maka mereka pun kembali mengadakan musyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita mencari calon raja Jambi dari negeri lain?” usul sesepuh dari Desa Batin Duo Belas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usulan tersebut diterima oleh peserta rapat lainnya. Selanjutnya mereka mengutus dua wakil dari setiap desa untuk pergi mencari calon raja. Keesokan harinya, rombongan itu berangkat meninggalkan Negeri Jambi menuju ke negeri-negeri di sekitarnya. Di setiap negeri yang disinggahi, mereka menanyakan siapa yang bersedia menjadi raja Jambi dan tidak lupa pula mereka menyebutkan persyaratannya, yaitu harus mengikuti keempat ujian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berpuluh-puluh negeri mereka singgahi, namun belum menemukan seorang pun yang bersedia menjadi raja Jambi, karena tidak sanggup menjalani keempat ujian tersebut. Rombongan itu pun kembali mengadakan musyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita kembali saja ke Negeri Jambi. Mustahil ada orang yang mampu memenuhi syarat itu untuk menjadi raja Jambi,” keluh wakil Desa Petijan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sabar, Saudara! Kita jangan cepat putus asa. Kita memang belum menemukan calon raja Jambi di beberapa negeri yang dekat ini. Tetapi, saya yakin bahwa di negeri jauh sana kita akan menemukan orang yang kita cari,” kata wakil Desa Muaro Sebo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa maksudmu?” tanya wakil Desa Petijan penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita harus mengarungi samudera yang luas itu,” jawab wakil Desa Muaro Sebo dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami setuju!” sahut wakil dari Desa Batin Duo Belas, Tujuh Koto, dan Sembilan Koto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, kami juga setuju,” kata wakil Desa Petijan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, rombongan itu bertekat untuk mengarungi samudera di ujung Pulau Sumatra. Setelah mempersiapkan segala keperluan, berangkatlah rombongan itu dengan menggunakan dendang (perahu besar). Setelah berhari-hari diombang-ambing oleh gelombang laut di tengah samudera yang luas itu, mereka pun tiba di Negeri Keling (India). Mereka berkeliling di Negeri Keling yang luas itu untuk mencari orang yang bersedia menjadi Raja Negeri Jambi dengan ujian yang telah mereka tentukan. Semua orang yang mereka temui belum ada yang sanggup menjalani ujian berat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, mereka mendengar kabar bahwa di sebuah kampung di Negeri Keling, ada seseorang yang terkenal memiliki kesaktian yang tinggi. Akhirnya, mereka pun menemui orang sakti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Permisi, Tuan! Kami adalah utusan dari Negeri Jambi. Negeri kami sedang mencari seorang raja yang akan memimpin negeri kami, tapi dengan syarat harus lulus ujian. Apakah Tuan bersedia?” tanya salah seorang dari rombongan itu sambil menceritakan ujian yang harus dijalani calon raja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sanggup menjalani ujian itu,” jawab orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan itu segera membawa calon raja itu pulang ke Negeri Jambi. Setelah menempuh perjalanan selama berminggu-minggu, tibalah mereka di Negeri Jambi. Orang sakti itu disambut gembira oleh rakyat Jambi. Mereka berharap bahwa calon yang datang dari seberang lautan itu benar-benar orang yang sakti, sehingga lulus dalam ujian itu dan menjadi raja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, orang sakti itu pun diuji. Seperti halnya calon-calon raja sebelumnya, orang sakti itu pertama-tama dibakar dengan api yang menyala-nyala. Orang Keling itu benar-benar sakti, tubuhnya tidak hangus, bahkan tidak satu pun bulu romanya yang terbakar. Setelah diuji dengan ujian kedua dan ketiga, orang itu tetap tidak apa-apa. Terakhir, orang itu akan menghadapi ujian yang paling berat, yang tidak sanggup dilalui oleh calon-calon raja sebelumnya, yaitu digiling dengan kilang besi yang besar. Pada saat ujian terakhir itu akan dimulai, suasana menjadi hening. Penduduk yang menyaksikan menahan napas. Dalam hati mereka ada yang menduga bahwa seluruh tubuh orang itu akan hancur dan remuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah saat-saat yang mendebarkan. Ujian terakhir itu pun dimulai. Pertama-tama, kedua ujung jari-jari kaki orang Keling itu dimasukkan ke dalam kilang besi. Kilang mulai diputar dan sedikit demi sedikit tubuh orang Keling itu bergerak maju tertarik kilang besi yang berputar. Semua penduduk yang menyaksikannya menutup mata. Mereka tidak sanggup melihat tubuh orang Keling itu remuk. Namun apa yang terjadi? Mereka yang sedang menutup mata tidak mendengarkan suara jeritan sedikit pun. Tetapi justru suara ledakan dahsyatlah yang mereka dengarkan. Mereka sangat terkejut saat membuka mata, kilang besi yang besar itu hancur berkeping-keping, sedangkan orang Keling itu tetap tidak apa-apa, bahkan ia tersenyum sambil bertepuk tangan. Penduduk yang semula tegang ikut bergembira, karena berhasil menemukan raja yang akan memimpin mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh penduduk dari Desa Tujuh Koto, Sembilan Koto, Muaro Sebo, Petajin, dan Batin Duo Belas segera mempersiapkan segala keperluan untuk membangun sebuah istana yang bagus. Selain itu, mereka juga mempersiapkan bahan makanan untuk mengadakan pesta besar-besaran untuk meresmikan penobatan Raja Negeri Jambi. Beberapa bulan kemudian, berkat kerja keras seluruh warga, berdirilah sebuah istana yang indah dan orang Keling itu pun dinobatkan menjadi raja Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Asal Usul Raja Negeri Jambi dari daerah Jambi, Indonesia. Cerita di atas termasuk ke dalam cerita legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat diambil, yaitu sifat suka bermusyawarah dan pentingnya keberadaan seorang pemimpin dalam kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sifat suka bermusyawarah. Sifat ini tercermin pada perilaku warga dari kelima desa dalam cerita di atas. Setiap menghadapi persoalan, mereka senantiasa bermusyawarah. Dalam ungkapan Melayu dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;apa tanda Melayu bertuah,&lt;br /&gt;sebarang kerja bermusyawarah.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pentingnya keberadaan seorang pemimpin. Dalam cerita di atas, masyarakat menyadari bahwa keberadaan seorang pemimpin dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting. Untuk itu, mereka pun berusaha mencari seorang raja yang diharapkan mampu membimbing, melindungi, menjaga, dan menuntun mereka agar kehidupan mereka aman, damai dan sejahtera. Dikatakan dalam petuah amanah orang tua-tua Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;bertuah ayam ada induknya&lt;br /&gt;bertuah serai ada rumpunnya&lt;br /&gt;bertuah rumah ada tuannya&lt;br /&gt;bertuah kampung ada penghulunya&lt;br /&gt;bertuah negeri ada rajanya&lt;br /&gt;bertuah iman ada jemaahnya&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kaslani.  Buku Cerita Rakyat dari Jambi 2. Jakarta: Grasindo. 1997.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-4585547747898791984?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/4585547747898791984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-usul-raja-negeri-jambi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/4585547747898791984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/4585547747898791984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-usul-raja-negeri-jambi.html' title='Asal Usul Raja Negeri Jambi'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-636723779961553356</id><published>2010-10-19T20:31:00.001-07:00</published><updated>2010-10-19T20:31:41.332-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Irian Jaya'/><title type='text'>Asal Mula Nama Irian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu kala, di Kampung Sopen, Biak Barat tinggal sebuah keluarga yang memiliki beberapa anak laki-laki. Salah satu anak tersebut bernama Mananamakrdi. Ia sangat dibenci oleh saudara-saudaranya karena seluruh tubuhnya dipenuhi kudis, sehingga siapa pun tak tahan dengan baunya. Maka, saudara-saudaranya selalu meminta Mananamakrdi tidur di luar rumah. Jika Manana­­­­makrdi melawan, tak segan-segan saudara-saudaranya akan menendangnya keluar hingga ia merasa kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saudara-saudaranya sudah tak tahan dengan bau kudis itu. Maka, Mananamakrdi diusir dari rumah. Dengan langkah gontai, Mananamakrdi berjalan ke arah timur. Sesampai di pantai, diambilnya satu perahu yang tertambat. Diarunginya laut luas hingga ia menemukan sebuah darat­an yang tak lain adalah Pulau Miokbudi di Biak Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuat gubuk kecil di dalam hutan. Setiap hari ia pergi memangkur sagu untuk mencukupi kebutuhan makannya. Selain itu, ia juga membuat tuak dari bunga kelapa. Kebetulan di hutan itu terdapat beberapa pohon kelapa yang dapat disadapnya. Setiap sore, ia memanjat kelapa, kemudian memotong manggarnya. Di bawah potongan itu diletakkan ruas bambu yang diikat. Hari berikutnya, ia tinggal mengambil air nira itu kemudian dibuat tuak. Suatu siang, ia amat terkejut, nira di dalam tabungnya telah habis tak bersisa. Mananamakrdi sangat kesal. Malam itu ia duduk di pelepah daun kelapa untuk menangkap pencurinya. Hingga larut malam pencuri itu belum datang. Menjelang pagi, dari atas langit terlihat sebuah makhluk memancar sangat terang mendekati pohon kelapa tempat Mananamakrdi bersembunyi. Makhluk itu kemudian meminum seluruh nira. Saat ia hendak lari, Mananamakrdi berhasil menangkapnya. Makhluk itu meronta-ronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kamu?” tanya Mananamakrdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Sampan, si bintang pagi yang menjelang siang. Tolong lepaskan aku, matahari hampir menyingsing,” katanya memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sembuhkan dulu kudisku, dan beri aku seorang istri cantik,” pinta Mananamakrdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabarlah, di pantai dekat hutan ini tumbuh pohon bitanggur. Jika gadis yang kamu inginkan sedang mandi di pantai, panjatlah pohon bitanggur itu, kemudian lemparkan satu buahnya ke tengah laut. Kelak gadis itu akan menjadi istrimu,” kata Sampan. Mananamakrdi kemudian me­lepaskan Sampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu setiap sore Mananamakrdi duduk di bawah pohon bitanggur memperhatikan gadis-gadis yang mandi. Suatu sore, dilihatnya seorang gadis cantik mandi seorang diri. Gadis itu tak lain adalah Insoraki, putri kepala suku dari Kampung Meokbundi. Segera dipanjatnya pohon bitanggur. Kulitnya terasa sakit bergesekan dengan pohon bitanggur yang kasar itu. Diambilnya satu buah bitanggur, dan dilemparnya ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bitanggur itu terbawa riak air dan mengenai tubuh Insoraki hingga ia merasa terganggu. Dilemparnya buah itu ke tengah laut. Namun, buah itu kembali terbawa air dan mengenai Insoraki. Kejadian itu berlangsung berulang-ulang hingga Insoraki merasa jengkel. Ia kemudian pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Insoraki hamil. Kejadian aneh di pantai ia ceritakan kepada orangtuanya. Tentu saja orangtuanya tak percaya. Beberapa bulan kemudian, Insoraki melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat lahir, bayi itu tak menangis, namun tertawa-tawa. Beberapa waktu kemudian, diadakan pesta pemberian nama. Anak itu diberi nama Konori. Mananamakrdi hadir dalam pesta itu. Saat pesta tarian berlangsung, tiba-tiba Konori berlari dan menggelendot di kaki Mananamakrdi. “Ayaaah ...,” teriaknya. Orang-orang terkejut. Pesta tarian kemudian terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Isoraki dan Mananamakrdi dinikahkan. Namun, kepala suku dan penduduk kampung merasa jijik dengan Mananamakrdi. Mereka pun meninggalkan kampung dengan membawa semua ternak dan tanamannya. Jadilah kampung itu sepi. Hanya Mananamakrdi, Insoraki, dan Konori yang tinggal. Suatu hari, Mananamakrdi mengumpulkan kayu kering, kemudian membakarnya. Insoraki dan Konori heran. Belum hilang rasa heran itu, tiba-tiba Mananamakrdi melompat ke dalam api. Spontan, Insoraki dan Konori menjerit. Namun ajaib, tak lama kemudian Mananamakrdi keluar dari api itu dengan tubuh yang bersih tanpa kudis. Wajahnya sangat tampan. Anak dan istrinya pun gembira. Mananamakrdi kemudian menyebut dirinya Masren Koreri yang berarti pria yang suci. Beberapa lama kemudian, Mananamakrdi mengheningkan cipta, maka terbentuklah sebuah perahu layar. Ia kemudian mengajak istri dan anaknya berlayar sampai di Mandori, dekat Manokwari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi buta, anaknya bermain pasir di pantai. Dilihatnya tanah berbukit-bukit yang amat luas. Semakin lama, kabut tersibak oleh sinar pagi. Tampak pegunungan yang amat cantik. Tak lama ke­­mudian matahari bersinar terang, udara menjadi panas, dan kabut pun lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah ... Irian. Iriaaan,” teriak Konori. Dalam bahasa Biak, irian berarti panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Anakku, jangan memekik begitu. Ini tanah nenek moyangmu,” kata Mananamakrdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Ayah. Maksud Konori, panas matahari telah menghapus kabut pagi, pemandangan di sini indah sekali,” kata Konori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, sejak saat itu wilayah tersebut disebut dengan nama Irian. Air laut yang membiru, pasirnya yang bersih, bukit-bukit yang menghijau, dan burung cendrawasih yang anggun dan molek membuat Irian begitu indah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Daryatun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Buku 366 cerita rakyat nusantara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-636723779961553356?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/636723779961553356/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-mula-nama-irian.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/636723779961553356'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/636723779961553356'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-mula-nama-irian.html' title='Asal Mula Nama Irian'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-5387034405919406682</id><published>2010-10-19T20:30:00.001-07:00</published><updated>2010-10-19T20:30:49.268-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><title type='text'>Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pulau Bintan merupakan pulau yang terbesar di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Di Pulau ini terdapat Kota Tanjung Pinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dihuni oleh berbagai macam suku-bangsa seperti Melayu, Tionghoa, Minang, Batak, Jawa dan lain-lain. Dahulu, di Pulau Bintan juga pernah berdiam sekelompok suku-bangsa yang terkenal dengan nama Suku Sampan atau Suku Laut. Terkait dengan hal ini, ada sebuah cerita rakyat yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Kepulauan Riau, khususnya masyarakat Bintan. Cerita ini berkisah tentang Batin Lagoi, pemimpin Suku Laut atau Suku Sampan di Pulau Bintan, yang menemukan seorang bayi perempuan di semak-semak pandan di tepi laut. Batin Lagoi kemudian mengangkat bayi itu sebagai anak dan diberinya nama Putri Pandan Berduri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batin Lagoi mengasuh Putri Pandan Berduri seperti layaknya seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi mengajarinya budi pekerti luhur, sehingga ia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan berbudi bahasa lembut. Kecantikan dan keelokan budi Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda kampung di Bintan. Namun, tak seorang pun yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau megat.[1] Akankah tercapai cita-cita Batin Lagoi tersebut? Lalu, anak raja atau anak megat dari manakah yang akan beruntung menjadi suami Putri Pandan Berduri? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Putri Pandan Berduri berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan berdiam sekumpulan orang Sampan atau orang Suku Laut. Mereka dipimpin oleh seorang Batin yang gagah perkasa. Batin Lagoi namanya. Untuk masuk ke kawasan Batin Lagoi itu, harus melalui sebuah betung[2] yang ditumbuhi semak belukar yang rimbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Batin Lagoi menyusuri pantai. Tengah berjalan santai, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan. Dengan perasaan takut, ia menerobos semak pandan itu dengan hati-hati. Tak berapa lama, didapatinya seorang bayi perempuan tergeletak beralaskan daun di antara semak pandan itu. “Anak siapa gerangan? Mengapa berada di sini? Orang tuanya ke mana?” Batin Lagoi bertanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menengok ke sekelilingnya, Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang di sekitarnya. Karena ia tidak mempunyai anak, timbullah keinginan untuk mengangkat bayi itu sebagai anak. Dengan hati-hati, diambilnya bayi itu dan dibawanya pulang. Bayi itu kemudian ia beri nama Putri Pandan Berduri. Ia memelihara Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih-sayang seperti memelihara seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi juga memberinya pelajaran budi pekerti yang luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tutur bahasa dan sopan-santunnya mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan perangai Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda di Pulau Bintan. Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau anak megat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di Pulau Galang, tersebutlah seorang Megat yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Sejak mereka kecil, Megat itu mendidik kedua anaknya agar saling membantu dan saling menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keduanya beranjak dewasa, Megat menginginkan Julela sebagai batin di Galang. Hal ini kemudian membuat Julela menjadi sombong. Ia sudah tidak peduli dengan adiknya, sehingga hubungan mereka menjadi tidak harmonis lagi. Mereka pun menjalani hidup masing-masing secara terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hari ke hari kesombongan Julela semakin menjadi-jadi. Ia sering mencaci dan memusuhi adiknya tanpa sebab. Pada suatu hari, Julela berkata kepada adiknya, “Hei, Jenang bodoh!” Kelak aku menjadi batin di kampung ini, maka kamu harus mematuhi segala perintahku. Jika tidak, kamu akan aku usir dari kampung ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenang Perkasa sangat sedih mendengar ucapan abangnya itu. Ia merasa tidak lagi dianggap sebagai saudara. Hal ini menyebabkan Jenang Perkasa merasa semakin terasing dari keluarga. Oleh karena itu, timbullah keinginannya untuk meninggalkan Pulau Galang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar tak tentu arah. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, sampailah ia di Pulau Bintan. Di sana, ia tidak mengaku sebagai anak seorang megat. Ia selalu bertutur kata lembut kepada setiap orang yang diajaknya berbicara. Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu telah menarik perhatian Batin Lagoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan perjamuan makan bersama orang-orang Suku Sampan lainnya. Tak ketinggalan pula Jenang Perkasa diundang dalam perjamuan itu. Jenang Perkasa pun pergi memenuhi undangan itu. Saat jamuan makan akan dimulai, ia memilih tempat yang agak jauh dari kawan-kawannya, agar air cuci tangannya tidak jatuh di hidangan yang ia makan. Tanpa disadarinya, ternyata sejak ia datang sepasang mata telah memerhatikan perilakunya, yang tak lain adalah Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sungguh mengesankan hati Batin Lagoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai perjamuan, Batin Lagoi menghampiri Jenang Perkasa. “Wahai, Jenang Perkasa! Aku sangat terkesan dan kagum dengan keelokan budi pekertimu. Bersediakah engkau aku nikahkan dengan putriku, Pandan Berduri?” tanya Batin Lagoi. “Dengan segala kerendahan hati, saya bersedia menerima putri tuan sebagai istri saya,” jawab Jenang Perkasa dengan sopannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Batin Lagoi sudah lupa dengan cita-citanya untuk menikahkan putrinya dengan anak raja atau megat. Meskipun sebenarnya Jenang Perkasa adalah anak seorang megat, tetapi Batin Lagoi tidak mengetahui tentang hal itu. Ia sungguh-sungguh tertarik dengan perangai Jenang Perkasa yang baik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian, Jenang Perkasa pun dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan mereka dilangsungkan sangat meriah. Aneka minuman dan makanan dihidangkan. Tari-tarian juga dipergelarkan menghibur para pengantin dan para undangan. Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian, Batin Lagoi mengangkat Jenang Perkasa sebagai Batin di Bintan untuk menggantikan dirinya. Jenang Perkasa memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang berlaku di Bintan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan Jenang Perkasa yang bijaksana itu terdengar oleh masyarakat Galang. Hingga suatu hari, datanglah sekumpulan orang dari Galang ke Pulau Bintan. “Wahai, Jenang Perkasa! Kami sudah mengetahui tentang kepemimpinanmu di Pulau Bintan ini. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengajak engkau kembali ke Galang mengggantikan abang Engkau yang sombong itu sebagai Batin,” kata salah seorang dari mereka. Namun, Jenang Perkasa menolaknya. Ia lebih memilih menjadi Batin di Pulau Batin. Sekumpulan orang dari Galang itu pun kembali dengan tangan hampa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Jenang Perkasa hidup berbahagia bersama Putri Pandan Berduri. Mereka mempunyai tiga orang putra, yang sulung dinamakan Batin Mantang, yang tengah Batin Mapoi, dan yang bungsu Batin Kelong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenang Perkasa mendidik ketiga anaknya dengan baik, agar mereka tidak menjadi orang yang sombong. Ia berharap kelak mereka akan menjadi pemimpin suku yang bertanggung jawab. Maka pada ketiga anaknya diadatkannya dengan adat suku Laut, dan dinamakan dengan adat Kesukuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beranjak dewasa, ketiga anaknya tersebut memimpin suku mereka masing-masing. Batin Mantang membawa berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi dengan sukunya ke barat, dan Kelong dengan sukunya ke timu Pulau Bintan. Ketiga suku tersebut kemudian menjadi suku terbesar dan termasyhur di daerah Bintan. Jika mereka mengalami kesulitan, mereka kembali kepada yang pertama, yaitu kepada adat Kesukuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Jenang Perkasa meninggal dunia, disusul Putri Pandan Berduri. Walaupun keduanya telah tiada, tetapi anak-cucu mereka banyak sekali, sehingga adat Kesukuan terus berlanjut. Hingga kini, Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari merekalah lahir persukuan di Teluk Bintan. Suku Laut atau Suku Sampan ini masih banyak ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Adapun nilai-nilai moral yang dapat diambil pelajaran dalam cerita di atas adalah keutamaan perangai yang baik dan pantangan bersikap sombong. Sifat berperangai baik tercermin pada sikap dan perilaku Putri Pandan Berduri dan Jenang Perkasa. Mereka selalu bertutur kata yang lembut, sopan dan santun, sehingga mereka banyak disenangi orang. Sikap dan perilaku mereka tersebut patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sifat sombong tercermin pada sifat Julela yang selalu merendahkan adiknya, Jenang Perkasa. Kesombongannya pun semakin menjadi setelah diangkat menjadi Batin Galang. Oleh karena sifatnya tersebut, ia dijauhi oleh masyarakat. Bahkan adiknya sendiri pergi meninggalkannya. Besarnya akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat sombong, sehingga sifat ini sangat dipantangkan dalam kehidupan orang Melayu. Bagi mereka, orang yang sombong dan angkuh akan terkucilkan dalam masyarakat. Banyak petuah amanah yang menyebutkan tentang akibat buruk dari sifat sombong dan angkuh ini, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;kalau suka membesarkan diri,&lt;br /&gt;saudara menjauh, sahabat pun lari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau suka berlaku angkuh,&lt;br /&gt;orang benci, sahabat menjauh&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Isi cerita diringkas dari Azmi. Putri Pandang Berduri: Asal Mula Persukuan di Pulau Bintang. 2005. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.&lt;br /&gt;Anonim. “Pulau Bintan,” (http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Bintan, diakses tanggal 8 November 2006.&lt;br /&gt;Effendy, Tennas, 1994/1995. `Ejekan` terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Riau: Bappeda Tingkat I Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Megat adalah keturunan raja, daling, sutan, wan, syekh, nong, marah, atau paduka matur (gelar kebangsawanan di Riau) dari pihak ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Betung adalah buluh atau bambu besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Melayu Online&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-5387034405919406682?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/5387034405919406682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/putri-pandan-berduri-asal-mula.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5387034405919406682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5387034405919406682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/putri-pandan-berduri-asal-mula.html' title='Putri Pandan Berduri, Asal-Mula Persukuan di Pulau Bintan'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-5412756340904741210</id><published>2010-10-19T20:27:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:29:47.589-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><title type='text'>Si Bujang: Asal Mula Burung Punai</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa versi mengenai cerita asal-mula Burung Punai. Setiap versi memiliki alur cerita yang berbeda-beda. Versi cerita rakyat tentang asal-mula Burung Punai di Kalimantan Selatan berbeda dengan cerita rakyat di Pelalawan, Riau. Cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat di Kalimantan Selatan – seperti tergambar pada cerita yang lalu dalam portal ini - mengisahkan tentang seorang pemuda yang bernama Datu Pulut, menikah dengan seorang bidadari dari Kahyangan. Namun, karena si Pemuda melanggar larangan yang pernah mereka sepakati bersama sebelum menikah, sang Bidadari pun berubah menjadi Burung Punai.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Sementara cerita rakyat tentang asal-mula Burung Punai yang berkembang di kalangan masyarakat Pelalawan, Riau, Indonesia, memiliki alur cerita yang berbeda. Dalam cerita tersebut dikisahkan seorang anak laki-laki yang bernama si Bujang, yang durhaka terhadap kedua orang tuanya. Oleh karena kedurhakannya tersebut, Bujang dikutuk menjadi seekor Burung Punai. Apa yang menyebabkan si Bujang durhaka terhadap kedua orang tuanya? Bagaimana ceritanya hingga ia berubah menjadi seekor Burung Punai? Ingin tahu jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Si Bujang: Asal Mula Burung Punai berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Pelalawan, Riau, hiduplah sepasang suami istri dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Bujang. Hidup mereka sangat miskin. Meskipun hidup miskin, keduanya sangat sayang terhadap anak semata wayangnya. Mereka berharap dan selalu berdoa kepada Tuhan agar anak tunggalnya itu kelak menjadi anak yang shaleh, berbudi luhur, berilmu pengetahuan dan berguna bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, orang tuanya telah bertekad bekerja keras mencari rezeki yang halal sebagai modal untuk mendidik si Bujang. Setiap hari sang Ayah pergi ke ladang dan mencari ikan di sungai. Hasilnya ia jual ke desa-desa tetangga. Meskipun harus berjalan berhari-hari dengan membawa beban berat, sang Ayah tidak pernah mengeluh atau merasa lelah demi kebahagiaan anaknya. Uang hasil penjualannya tersebut, ia tabung sedikit demi sedikit. Ia sendiri hidup sangat hemat. Makan dan berpakaian seperlunya saja. Ia selalu berdoa kepada Tuhan agar senantiasa diberikan kesehatan untuk bisa mendapatkan lebih banyak rezeki demi masa depan Bujang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari. Minggu berganti Minggu. Bulan berganti Bulan. Si Bujang tumbuh menjadi anak yang sehat, lincah dan cerdas. Kedua orang tuanya amat bangga dan bahagia melihat anak tumpuan harapan mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup besar, Bujang pun diserahkan ke sebuah surau di kampung itu untuk belajar mengaji. Sejak itu ia sangat rajin pergi mengaji. Setiap hari ia pergi ke surau bersama teman-temannya. Jika kampungnya dilanda banjir, Bujang diantar oleh ayahnya dengan sebuah perahu kecil. Waktu pulang ia dijemput oleh emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu kebiasaan di Pelalawan, apabila air surut dan tanah sudah kering, semua anak-anak bermain gasing. Sebenarnya, banyak orang tua yang jengkel jika musim bergasing itu tiba. Mereka jengkel melihat anak-anak mereka yang asyik bermain gasing yang lupa segalanya. Bahkan, anak-anak mereka terkadang lupa pulang untuk makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu, musim bergasing itu tiba. Bujang dan teman-temannya asyik bermain gasing dari pagi hingga petang hari. Orang tuanya mulai gelisah. Sudah beberapa hari si Bujang tidak pergi mengaji. Guru mengajinya sudah berkali-kali ke rumah orang tuanya menanyakan keadaannya. Hati kedua orang tuanya semakin kesal melihat perangai anak tunggal yang diharapkannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, di saat hari sudah petang, si Bujang baru pulang dari bermain gasing. Kedua orang tuanya sudah menunggunya di depan pintu. Melihat si Bujang datang, emaknya menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Jang, sudah berapa lama kamu tidak pergi mengaji ke surau? Kamu selalu asyik bermain gasing sehingga lupa segala-galanya. Apa kamu tidak jemu-jemu bermain gasing, Jang? Kamu mau emak memberimu makan gasing?” Mendengar omelan emaknya, si Bujang hanya diam dan menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai ibunya mengomelin si Bujang, kini giliran ayahnya. “Jang, ayah tengok kamu asyik bermain gasing saja. Sampai-sampai kamu lupa makan-minum, apalagi mengaji. Sejak bermain gasing, kamu sudah tidak pernah lagi membantu emakmu. Apa kamu bisa kenyang makan gasing?” ujar sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Bujang tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak berani membantah kata-kata ayahnya, karena ia memang merasa bersalah. Namun, omelan kedua orang tuanya itu tidak membekas dalam hatinya. Semua kata-kata orang tuanya hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Ketika ayahnya pergi ke ladang, ia pergi lagi bermain gasing. Begitulah setiap hari yang dilakukannya. Pendeknya, Bujang sudah lupa segalanya. Orang Pelalawan mengatakan, “kalau anak sudah kena hantu gasing, ia tidak dapat bekerja apa pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa hari si Bujang tidak pulang. Ayahnya sudah tidak mau lagi mencarinya. Ia sudah tidak perduli lagi dengan kelakuan anaknya. Pada suatu malam, sang Ayah berkata kepada istrinya, “Barangkali inilah resikonya terlalu memanjakan anak. Lihatlah si Bujang anak kita, semakin dimanja semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, mulai sekarang kita biarkan saja, tidak usah kita hiraukan.” Mendengar ujaran suaminya, sang Istri pun mengangguk-angguk. Ia merasa bersalah, karena terlalu memanjakan si Bujang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, semakin hari si Bujang semakin nakal. Ia sudah lupa segalanya. Ia semakin jarang pulang ke rumah dan tidak pernah lagi mengaji ke surau. Hati orang tuanya semakin sedih. Anak semata wayang, tumpuan harapan mereka, sudah tidak dapat diharapkan lagi. Sirnalah semua harapan kedua orang tuanya. Mereka benar-benar kecewa terhadap perilaku si Bujang. Semakin hari, hati mereka pun semakin kesal dan jengkel. Mereka tidak pernah lagi memasak nasi untuk si Bujang sebelum mereka ke ladang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari sebelum pergi ke ladang, ibunya memasak gasing, dan tali gasingnya ia gulai untuk si Bujang. Melihat kedua orang tuanya sudah berangkat ke ladang, si Bujang pulang ke rumahnya. Oleh karena sudah kelaparan, ia segera membuka periuk, dilihatnya sebuah gasing. Lalu ia membuka belanga, dilihatnya gulai tali gasing. Oleh karena merasa kecewa, menangislah si Bujang sambil bernyanyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh bulu sehelai, lalu ia menyanyi lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumbuh bulu sehelai lagi, ia pun terus bernyanyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian si Bujang terus bernyanyi, satu demi satu bulu tumbuh di badannya. Oleh karena terus bernyanyi, lama-kelamaan ratalah seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu. Maka berubahlah si Bujang menjadi seekor Burung Punai. Ia pun terbang ke arah jendela, lalu ia terbang ke bumbung atap, kemudian ia terbang tinggi ke udara. Dari udara tampaklah olehnya ladang orang tuanya. Kemudian ia terbang ke arah ladang itu dan hinggap di atas sebuah pohon kayu ara yang tinggi. Dari atas pohon itu terlihat ayah dan ibunya sedang asyik menyiangi rumput. Ia pun bernyanyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Mendengar nyanyian Burung Punai pandai berbicara itu, ibu Bujang berkata kepada suaminya, “Bang, coba dengarkan suara burung yang bernyanyi di atas pohon itu! Sepertinya suara anak kita si Bujang.” Ayah Bujang langsung berdiri dan menghentikan kegiatannya menyiangi rumput. Dipasangnya telinganya baik-baik untuk memastikan jika suara burung itu adalah suara anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan suara itu dengan jelas, ayah Bujang pun yakin bahwa itu adalah suara Bujang. “Benar, Adikku! Itu suara anak kita,” kata sang Ayah dengan yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berteriaklah emaknya memanggil si Bujang. “Nak, kemarilah! Ini nasi… !” Dari atas pohon kayu ara itu, burung punai itu menjawab, “Tidak, Emak…! Saya sudah menjadi Burung Punai. Saya makan buah kayu ara.” Setelah berkata begitu, burung itu pun mematuk dan memakan buah ara dari satu dahan ke dahan yang lain. Sang Ayah sangat kasihan melihat nasib anaknya itu. Ia pun mengambil kapak dan menebang pohon tempat burung itu hinggap. Ketika pohon itu tumbang, Burung Punai itu pun pindah ke pohon yang lain. Kemudian ia bernyanyi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Sing… Tali gasing&lt;br /&gt;alit gasing dan buah keras&lt;br /&gt;sampai hati ibu!&lt;br /&gt;ditanaknya saya gasing&lt;br /&gt;digulainya tali gasing&lt;br /&gt;menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya&lt;br /&gt;makan buah kayu ara.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemarilah, anakku! Ini emak bawakan nasi untukmu!” bujuk emaknya agar si Bujang yang telah menjadi Burung Punai itu mau mendekat. “Tidak, Emak! Saya sudah menjadi burung. Saya makan buah kayu ara,” jawab Burung Punai itu menolak ajakan emaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Burung Punai itu tidak mau mendekat, Ayah Bujang menebang pohon ara tempat burung itu hinggap. Ketika pohon itu tumbang, Burung Punai itu terbang lagi ke pohon ara lainnya. Kemudian bernyanyi lagi dengan nada dan lagu yang sama. Begitulah seterusnya, setiap ayahnya menebang pohon tempat ia hinggap, Burung Punai itu pindah ke pohon yang lainnya dan kemudian benyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, semakin jauh kedua orang tuanya meninggalkan ladangnya. Sampai pada suatu waktu perbekalan mereka benar-benar sudah habis. Sementara jalan untuk pulang, mereka sudah tidak tahu lagi. Oleh karena sudah berhari-hari tidak makan, kedua orang tua Bujang akhirnya meninggal di dalam hutan. Sementara si Bujang yang durhaka itu tetap menjadi Burung Punai selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang patut dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua nilai moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pentingnya mendidik anak dan akibat menjadi anak durhaka. Sikap yang mementingkan pendidikan bagi anak tercermin pada sikap kedua orang tua si Bujang yang senantiasa bekerja keras mencari nafkah tanpa mengenal lelah demi masa depan anaknya. Sementara sifat durhaka tercermin pada sikap si Bujang yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang tuanya. Akibatnya, ia menjelma menjadi seekor Burung Punai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Melayu, mendidik dan membela anak amatlah diutamakan. Tujuannya adalah agar anak-anak mereka kelak “menjadi orang”, yakni menjadi manusia sempurna lahiriah dan batiniah. Para orang tua berharap agar anak mereka menjadi “anak bertuah” yang dapat membawa kebahagiaan, kelapangan, kerukunan, dan kesejahteraan baik bagi keluarga maupun bagi masyarakatnya. Orang tua-tua Melayu mengatakan, “kalau anak menjadi orang, kecil menjadi tuah rumah, besar menjadi tuah negeri”. Ungkapan lain mengatakan, “tuahnya selilit kepala mujurnya selilit pinggang, ke tengah menjadi manusia ke tepi menjadi orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang telah “menjadi manusia” atau “menjadi orang” disebut pula “anak bertuah”, karena mereka dapat mendatangkan kebahagiaan, kebanggaan, dan keberuntungan bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya. Sebaliknya, anak yang durhaka, sesat, dan jahat, selain mencoreng muka orang tua, juga mengaibmalukan kerabat dan merusak masyarakatnya. Terkadang, kedurhakaan sang anak dianggap kesalahan orang tua yang tidak mampu mendidik, mengajar, dan membela anaknya secara baik dan benar. Namun, terkadang pula, kedurhakaan itu datang dari si anak itu sendiri. Meskipun orang tuanya sudah bersusah payah mendidik dan mengajarnya, si anak tetap saja keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat orang tuannya. Hal inilah yang terjadi pada diri si Bujang dalam cerita di atas. Meskipun ayahnya sudah bersusah payah mencari nafkah untuk modal pendidikannya, si Bujang tetap saja durhaka terhadap kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena pentingnya mendidik dan membela anak, banyak petuah amanah yang berkaitan dengan anak, yang diwariskan dalam budaya Melayu. Tenas Effendy dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” banyak menyebutkan tentang petuah amanah mendidik dan membela anak, antara sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;anak dididik pada yang baik&lt;br /&gt;diajar pada yang benar&lt;br /&gt;dibela pada yang mulia&lt;br /&gt;dituntun pada yang santun&lt;br /&gt;ditunjuk pada yang elok&lt;br /&gt;dipelihara pada yang sempurna&lt;br /&gt;dijaga pada yang berguna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak dididik dengan kasih,&lt;br /&gt;kasih jangan berlebih-lebihan&lt;br /&gt;kasih berlebih membutakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak dididik dengan keras,&lt;br /&gt;tetapi jangan terlalu keras&lt;br /&gt;terlalu keras membawa naas&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Cerita Rakyat Daerah Riau”, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayan Daerah. 1981. Jakarta: Depdibud Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.&lt;br /&gt;photo burung punai :&lt;br /&gt;http://www.firdausradzi.com/wordpress/burung-apa/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-5412756340904741210?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/5412756340904741210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/si-bujang-asal-mula-burung-punai.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5412756340904741210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5412756340904741210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/si-bujang-asal-mula-burung-punai.html' title='Si Bujang: Asal Mula Burung Punai'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-4294628420814619520</id><published>2010-10-19T20:25:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:27:31.070-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><title type='text'>Legenda Putri Mambang Linau</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Riau adalah salah satu propinsi di Indonesia yang kaya dengan pelbagai jenis kesenian tradisional yang telah menjadi bagian hidup masyarakat Riau. Pelbagai jenis kesenian tradisional tersebut adalah seni tari, seni musik, seni ukir, seni tenun, seni lukis, seni bela diri, dan teater rakyat. Di antara jenis kesenian tersebut, seni tari (tarian) merupakan jenis kesenian Melayu Riau yang paling menonjol. Seni tari atau tarian merupakan jenis seni gerak yang memiliki gerakan-gerakan khusus. Setiap daerah dan suku-bangsa mempunyai gerakan-gerakan tersendiri dalam memperagakan sebuah tarian. Dibalik gerakan-gerakan tersebut terdapat cerita-cerita yang menarik. Salah satu tari yang memiliki cerita menarik di Riau adalah tari Olang-olang. Tarian ini sangat digemari oleh puak Melayu Sakai di kabupaten Bengkalis, Riau. Mereka mempercayai bahwa tarian ini lahir dari sebuah cerita legenda yang mengisahkan pertemuan seorang pemuda dengan seorang gadis jelita dari kayangan yang sangat gemulai menari, lalu keduanya bercinta kasih. Namun, jalinan kasih mereka putus, karena si gadis melanggar pantangan yang telah mereka buat. Pantangan apa yang dilanggar gadis itu? Bagaimana kisah pertemuan mereka hingga akhirnya berpisah? Ikuti kisahnya dalam Legenda Putri Mambang Linau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di tanah Bengkalis hiduplah seorang pemuda bernama Bujang Enok. Ia hidup miskin dan sebatang kara, tak berayah, tak beribu, tak juga bersaudara. Namun, ia adalah pemuda yang baik dan pemurah hati. Pekerjaan sehari-harinya mencari kayu api di dalam hutan, yang kemudian dijualnya ke pasar atau ditukarkannya dengan beras dan keperluan hidupnya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi, Bujang Enok sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia dihadang seekor ular berbisa. “Ssssss......Ssssss.....”, ular itu berdesis menjulur-julurkan lidahnya ke arah Bujang Enok. Melihat ular itu, Bujang Enok berusaha menghalaunya dengan baik, namun tidak juga mau pergi. Lalu ia pun mendiamkannya. Ketika ia diamkan, ular itu justru hendak mematuk Bujang Enok. Dengan terpaksa, Bujang Enok pun melecutnya dengan semambu (tongkat rotan), pusaka peninggalan almarhum ayahnya. Sekali lecut, ular berbisa itu pun menggeliat, lalu mati. Setelah melihat tak bergerak lagi, Bujang Enok segera mengubur ular itu di pinggir jalan. Setelah itu, ia pun mulai mengumpulkan kayu api. Ketika akan memulai pekerjaannya, ia mendengar suara perempuan sedang bercakap-cakap. “Ular berbisa itu telah mati”, kata sebuah suara perempuan dari arah lubuk di hulu sungai. “Syukurlah, kita tidak akan diganggu ular itu lagi”, sahut suara perempuan lainnya. Semakin lama, suara-suara tersebut semakin jelas terdengar oleh Bujang Enok, namun ia tidak menghiraukan suara tersebut, dan ia terus melanjutkan pekerjaannya mengumpulkan kayu api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat tengah hari, seperti biasanya Bujang Enok pulang ke pondoknya. Ketika dia masuk ke dapur pondoknya, Bujang Enok merasa heran, karena di dapurnya telah tersedia nasi dan segala lauk pauk yang lezat rasanya. Karena lapar yang tak tertahan, ia pun langsung melahap semua hidangan yang tersaji itu. Sambil menikmati kelezatan makanan itu, Bujang Enok menebak-nebak dalam hati, “Ibuku sudah meninggal dunia, aku pun tak punya saudara, tetanggaku juga sangat jauh dari sini. Lalu, siapa ya.....yang menghidangkan makanan ini?”. Pikiran-pikiran itu terus berkecamuk dalam benaknya. Karena penasaran, ia pun berniat untuk mencari tahu orang yang menghidangkan makanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Bujang Enok melaksanakan niatnya untuk mencari tahu orang yang telah berani masuk ke dalam pondoknya. Hari itu ia memutuskan tidak pergi ke hutan. Dari pagi hingga siang ditunggunya orang yang masuk ke pondoknya. Bujang Enok menunggu di antara semak-semak yang berada tak jauh dari pondoknya. Menjelang tengah hari, tiba-tiba dari arah lubuk, datang tujuh gadis jelita. Mereka datang beriring-iringan dan menjunjung hidangan, lalu masuk ke dalam pondok Bujang Enok. Ketujuh gadis itu mengenakan selendang berwarna pelangi. Namun dari ketujuh gadis itu, gadis yang berselendang warna jinggalah yang paling cantik. “Waw, cantik sekali gadis yang berselendang jingga itu?”, gumam Bujang Enok sambil mengawasi gadis itu hingga hilang dari pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, ketujuh gadis itu keluar dari pondok Bujang Enok, dan berjalan ke arah lubuk hulu sungai. Dengan langkah hati-hati, Bujang Enok membuntuti ketujuh gadis jelita itu hingga ke pinggir lubuk hulu sungai, lalu bersembunyi di rimbunan semak-semak. Di balik semak-semak itu, Bujang Enok dapat melihat ketujuh gadis itu tengah berganti pakaian yang akan mandi. Masing-masing gadis itu menyangkutkan selendangnya pada sebuah ranting kayu. Mereka mandi sambil bersendau gurau, hingga tak menyadari kehadiran Bujang Enok yang tak jauh dari tempat mereka mandi. Suasana yang ramai itu, digunakan Bujang Enok untuk mengambil selendang yang tergantung di ranting. Dari balik semak-semak, Bujang Enok mengaitkan sebuah tongkat ke selendang yang berwarna jingga. Kemudian ia menariknya dengan pelan-pelan, lalu meraih selendang itu dan menyembunyikan di balik bajunya. Setelah itu, ia pun kembali bersembunyi di balik semak-semak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mandi, ketujuh gadis itu naik ke tepi lubuk lalu berganti pakaian. Masing-masing mengambil dan mengenakan selendangnya yang tergantung di ranting. Namun, di antara ketujuh gadis itu ada seorang gadis yang kehilangan selendang. “Selendang saya di mana?, tanya gadis itu sambil mencari-cari selendangnya yang hilang. Namun, tak seorang pun temannya yang tahu keberadaan selendang itu. Lalu, gadis itu meneruskan pencariannya, dibantu keenam gadis lainnya. Setelah beberapa lama mereka mencari, tapi selendang jingga itu tak kunjung ditemukan. Menjelang sore, keenam gadis yang telah mengenakan selendang, tiba-tiba menari dan kemudian melayang-layang terbang ke angkasa meninggalkan gadis yang kehilangan selendang itu seorang diri di tepian lubuk. Sementara itu, Bujang Enok tercengang-cengang menyaksikan peristiwa itu dari balik semak-semak. Bujang Enok terus memandangi keenam gadis itu tanpa berkedip sedikit pun. Makin tinggi terbang ke angkasa, makin kecil keenam gadis itu terlihat. Sampai akhirnya mereka menghilang dari pandangan Bujang Enok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Bujang Enok keluar dari persembunyiannya dan menghampiri gadis yang sedang mencari-cari selendangnya. “Apa yang kau cari, wahai gadis cantik?” tanya Bujang Enok. “Tuan, apabila Tuan mengetahui selendang berwarna jingga, hamba mohon kembalikanlah selendang itu,” pinta Gadis itu sambil menyembah. Bujang Enok menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berkata: “Saya bersedia mengembalikan selendang jingga milik Tuan Putri, tetapi dengan syarat, Tuan Putri bersedia menikah dengan saya,” kata Bujang Enok. “Ya, saya berjanji bersedia menikah dengan Tuan, asalkan Tuan sanggup berjanji pula, apabila saya terpaksa harus menari, berarti kita akan bercerai kasih,” kata gadis jelita itu dengan tulus. “Baiklah, saya bersedia mengingat janji itu. Nama saya Bujang Enok,” jelas Bujang Enok memperkenalkan dirinya. “Nama saya Mambang Linau,” kata gadis jelita itu membalasnya. Sejak saat itu, mereka menjalin cinta kasih dalam sebuah bahtera rumah tangga. Bujang Enok dan Mambang Linau hidup bahagia, rukun dan berkecukupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menikah dengan Mambang Linau, Bujang Enok semakin terkenal di kampungnya dengan sifat pemurahnya. Kepemurahan hati Bujang Enok itu terdengar oleh Raja yang berkuasa di negeri itu. Kemudian sang Raja pun memanggil Bujang Enok menghadap kepadanya untuk diangkat menjadi Batin (Kepala Kampung) di kampung Petalangan. Bujang Enok pun datang ke istana. Setelah di hadapan Raja, “Ampun, Baginda! Ada apa gerangan Baginda memanggil hamba?”, tanya Bujang Enok sambil memberi hormat. “Wahai Bujang Enok, bersediakah kamu saya jadikan Batin di kampung Petalangan?‘, sang Raja bertanya pula. “Ampun, Baginda! Jika itu kehendak Baginda, dengan senang hati hamba bersedia menjadi Batin”, jawab Bujang Enok pelan sambil memberi hormat. Kesediaan Bujang Enok menjadia Batin membuat sang Raja senang. Beberapa hari kemudian, Bujang Enok pun dilantik menjadi Batin di kampung Petalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menjadi Batin, Bujang Enok pun menjadi salah seorang kepercayaan sang Raja. Setiap mengadakan pesta, sang Raja selalu mengundang Bujang Enok. Suatu hari, sang Raja mengadakan pesta di istana. Dalam pesta itu wajib diisi dengan tari-tarian yang dipersembahkan oleh dayang, istri pembesar istana, istri para penghulu dan kepercayaan raja, termasuk istri Bujang Enok, Putri Mambang Linau. Setelah acara dimulai, satu persatu para istri mempersembahkan tarian mereka. Putri Mambang Linau yang sedang menyaksikan pertunjukan tarian itu, mulai berdebar-debar. Dalam hatinya, “Jika aku ikut menari, berarti aku akan bercerai dengan Suamiku”. Baru saja ia selasi bergumam, tiba-tiba, “Kami persilakan Putri Mambang Linau,” titah Raja diiringi tepuk tangan para hadirin. Mendengar titah sang Raja, hatinya pun semakin berdebar kencang. Bujang Enok yang duduk di sampingnya menoleh ke arah istrinya, “Wahai adinda Mambang Linau, kakanda menjunjung tinggi titah raja,” bisik Bujang Enok. Mambang Linau mengerti maksud bisikan suaminya, lalu menjawab “Demi menjunjung titah raja dan rasa syukur atas tuah negeri, saya bersedia menari,” jawab Mambang Linau seraya mengenakan selendang berwarna jingga dan kemudian menuju ke atas pentas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memulai tariannya, Putri Mambang Linau terlebih dahulu melakukan gerakan-gerakan persembahan untuk menjaga tata kesopanan dalam istana dan menghormati sang Raja. Setelah itu, ia pun mulai menari layaknya seekor burung elang. Ia melambaikan selendangnya seraya mengepak-ngepakkannya. Perlahan-lahan kakinya diangkat seperti tak berpijak di bumi. Tiba-tiba Mambang Linau meliukkan badannya, dan seketika itu ia pun terbang melayang, membubung ke angkasa menuju kayangan. Semua yang hadir terperangah menyaksikan peristiwa tersebut. Sejak itu, Putri Mambang Linau tidak pernah kembali lagi. Sejak itu pula, Batin Bujang Enok bercerai kasih dengan Putri Mambang Linau. Betapa besar pengorbanan Bujang Enok. Ia rela bercerai dengan istrinya demi menjunjung tinggi titah sang Raja. Menyadari hal itu, sang Raja pun menganugerahi Bujang Enok sebuah kehormatan yaitu dilantik menjadi Penghulu yang berkuasa di istana. Dari peristiwa ini pula lahir sebuah pantun yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah seulas si buah limau&lt;br /&gt;Coba cicipi di ujung-ujung sekali&lt;br /&gt;Sudahlah pergi si Mambang Linau&lt;br /&gt;Hamba sendiri menjunjung duli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa itu, Raja Negeri bertitah bahwa untuk menghormati pengorbanan Bujang Enok, maka setiap tahun diadakan acara tari persembahan. Tarian ini mengisahkan Putri Mambang Linau sejak pertemuan sampai perpisahannya dengan Bujang Enok. Karena gerakannya menyerupai burung elang yang sedang melayang (elang babegar), maka tarian itu dinamakan tarian elang-elang. Kini, masyarakat Riau lebih senang menyebutnya tari olang-olang. Tarian olang-olang ini biasanya dimainkan dengan diiringi oleh gendang (gubano) rebab, calempong dan gong. Tarian ini dapat dijumpai di kecamatan Siak dan Merbau, kabupaten Bengkalis, Riau, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Legenda Puteri Mambang Linau. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2005.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Budaya Tradisional Bengkalis. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata bekerja sama dengan Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu UNRI (P2BKM-UNRI).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melayu Online&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-4294628420814619520?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/4294628420814619520/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/legenda-putri-mambang-linau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/4294628420814619520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/4294628420814619520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/legenda-putri-mambang-linau.html' title='Legenda Putri Mambang Linau'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-6653736465560843912</id><published>2010-10-19T20:24:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:25:21.688-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sulawesi utara'/><title type='text'>Asal Usul Burung Moopoo</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minahasa yang dahulu dikenal dengan Malesung adalah salah satu nama kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Di kabupaten ini hidup beragam jenis binatang langka dan khas Minahasa. Salah satu binatang khas Minahasa adalah burung moopoo. Konon, burung moopoo ini merupakan jelmaan seorang anak laki-laki. Mengapa anak laki-laki itu menjelma menjadi burung moopoo? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita rakyat Asal Usul Burung Moopoo berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di sebuah daerah di Minahasa, Sulawesi Utara, hiduplah seorang kakek bersama dengan cucu laki-lakinya yang bernama Nondo. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil di tepi hutan lebat. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, sang Kakek pergi ke hutan mencari hasil hutan dan menjualnya ke pasar. Sementara Nondo hanya bisa membantu kakeknya memasak dan membersihkan rumah, karena kakinya pincang. Kedua orang tua Nondo meninggal dunia ketika ia masih kecil. Sejak itu, Nondo diasuh oleh kakeknya hingga dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Nondo selalu bersedih hati. Ia ingin sekali membantu kakeknya mencari kayu bakar di hutan, namun apa daya kakinya tidak mampu berjalan jauh. Ia juga ingin sekali menyaksikan sendiri binatang-binatang yang hidup di hutan sebagaimana yang sering diceritakan oleh kakeknya setiap selesai makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kakeknya bercerita, Nondo selalu mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ia hanya bisa membayangkan seperti apakah binatang-binatang yang diceritakan kakeknya itu. Ia juga sering bermimpi bertemu dengan binatang-binatang itu. Bahkan, ia kerap menirukan bunyi burung-burung yang diceritakan kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, seperti biasanya, sang Kakek hendak pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kek! Bolehkah Nondo ikut ke hutan bersama Kakek?” pinta Nondo kepada kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu di rumah saja, Cucuku” jawab sang Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, Kek! Nondo ingin sekali melihat binatang-binatang yang sering Kakek ceritakan itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan, Cucuku! Bukankah kakimu sedang sakit? Kakek khawatir dengan kesehatanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kek! Nondo mohon, izinkanlah Nondo pergi ke hutan bersama Kakek sekali ini saja,” bujuk Nondo sambil merengek-rengek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena kasihan melihat Nondo, akhirnya kakeknya pun mengizinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah! Kamu boleh ikut bersama Kakek, tapi selesaikan dulu pekerjaan rumahmu,” ujar sang Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan senang dan penuh semangat, Nondo segera membersihkan rumah dan memasak untuk makan siang sepulang dari hutan. Beberapa saat kemudian, Nondo telah menyelesaikan pekerjaan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kek! Ayo kita berangkat! Pekerjaan Nondo sudah selesai,” seru Nondo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya!” jawab sang Kakek singkat dengan perasaan khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, berangkatlah mereka ke hutan. Sang Kakek berjalan di depan, sedangkan Nondo mengikutinya dari belakang. Ketika memasuki hutan, Nondo seringkali tertinggal oleh kakeknya, karena selain kakinya pincang, ia juga sering berhenti setiap melihat binatang. Bahkan, ia kerap bermain-main dan menirukan suara binatang yang ditemuinya. Oleh karena keasyikan bermain-main dengan binatang itu, sehingga ia semakin jauh tertinggal oleh kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Nondo tidak menyadari keadaan itu. Ketika hari menjelang sore, ia baru tersadar jika ia tinggal sendirian di tengah hutan. Hari pun semakin gelap, suasana hutan semakin menyeramkan dengan suara-suara binatang yang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kakek...! Kakek....! Kakek di mana...?” teriak Nondo memanggil kakeknya sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Nondo berteriak, namun tidak ada jawaban sama sekali. Ia mencoba mencari jalan pulang ke rumah, namun semakin jauh ia berjalan semakin jauh masuk ke tengah hutan. Ia pun bertambah bingung dan tersesat di tengah hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin larut, Nondo belum juga menemukan kakeknya. Ia pun semakin takut oleh suara-suara burung yang bersahut-sahutan, seperti burung uwak, kedi-kedi, kakaktua, toin tuenden dan burung hantu. Apalagi ketika ia mendengar suara burung kuow yang keras dan menyeramkan. Ia pun menangis dan berteriak sekeras-kerasnya agar suaranya didengar oleh kakeknya. Namun, usahanya sia-sia, karena tidak mendapat jawaban sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu sang Kakek menjadi panik ketika menyadari cucunya sudah tidak ada lagi di belakangnya. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan cucu kesayangannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nondo...! Nondo...! Kamu di mana?” teriak sang Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali pula kakek itu berteriak, namun tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk pulang, karena mengira cucunya sudah kembali ke rumah. Namun sesampai di rumah, ia tidak menemukan cucunya. Pada pagi harinya, sang Kakek kembali ke hutan untuk mencari cucunya. Hingga sore hari, ia berkeliling di tengah hutan itu sambil berteriak-teriak memanggil cucunya, namun tidak juga menemukannya. Oleh karena merasa putus asa, akhirnya ia pun kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, ia mendengar suara yang aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`moo-poo..., moo-poo..., moo-poo….!” terdengar suara burung aneh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Suara binatang apakah itu? Sepertinya baru kali ini aku mendengarnya,” gumam Kakek Nondo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena penasaran, kakek itu segera mencari sumber suara aneh itu. Setelah berjalan beberapa langkah, ia pun menemukannya. Ternyata suara itu adalah suara seekor burung yang sedang hinggap di atas pohon. Kakek itu terus berjalan mendekati pohon untuk melihat burung itu lebih dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Burung apakah itu? Sudah puluhan tahun aku mencari kayu di hutan ini, tapi aku belum pernah melihat jenis burung seperti itu,” gumamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara burung itu terbang dari satu cabang ke cabang yang lain sambil memerhatikan sang Kakek dan mengeluarkan suara, ”moo-poo”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula kakek Nondo tidak mengerti maksud suara itu. Namun setelah lama memerhatikan suara itu, ia pun mulai menyadari jika burung itu memanggilnya opoku (kakekku). Untuk lebih meyakinkan dirinya, ia kembali mengamati burung itu. Setelah ia amati, rupanya kaki burung itu pincang. Tiba-tiba kakek itu menangis karena teringat cucunya. Ia yakin bahwa burung itu adalah jelmaan cucunya, Nondo. Sesuai dengan suara yang dikeluarkan, maka burung itu diberi nama moopoo. Hingga saat ini, burung moopoo dapat ditemukan di daerah Minahasa, Sulawesi Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Asal Usul Burung Moopoo dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Cerita di atas tergolong cerita mitos yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keburukan sifat tidak tahu diri dan suka berperilaku sembrono atau gegabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat tidak tahu diri yang dimaksud adalah menyadari kemampuan diri sendiri. Artinya, jika hendak mewujudkan suatu keinginan, sebaiknya terlebih dahulu mengukur kemampuan diri sendiri. Sifat ini tercermin pada sikap Nondo yang memaksakan keinginannya untuk ikut bersama kakeknya ke hutan, padahal kakinya pincang. Sementara sifat suka berperilaku sembrono atau gegabah tercermin pada perilaku sang Kakek yang tidak perhatian terhadap keadaan cucunya yang pincang, sehingga meninggalkannya seorang diri di tengah hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumaraw, Anneke.  Cerita Rakyat dari Sulawesi Utara. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.1998.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-6653736465560843912?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/6653736465560843912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-usul-burung-moopoo.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6653736465560843912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6653736465560843912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/asal-usul-burung-moopoo.html' title='Asal Usul Burung Moopoo'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-487494403871354061</id><published>2010-10-19T20:22:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:23:58.577-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Barat'/><title type='text'>Semangka Emas (Sambas)</title><content type='html'>“Rambut sama hitam, hati lain-lain,” (Sungguhpun manusia mempunyai persamaan pada zahirnya, namun sifat, kelakuan, perasaan dan hati masing-masing adalah berbeda). Makna peribahasa ini tergambar dalam sebuah cerita rakyat di daerah Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita ini mengisahkan tentang dua orang bersaudara yaitu Muzakir dan Dermawan. Keduanya adalah putra dari seorang saudagar kaya di daerah itu. Setelah orang tuanya meninggal, keduanya mendapat harta warisan yang sama banyaknya. Namun, kedua orang bersaudara ini memiliki sifat, kelakuan, perasaan dan hati yang berbeda. Muzakir memiliki sifat yang sangat kikir. Ia enggan untuk mengeluarkan uang atau hartanya untuk kepentingan apapun. Sebaliknya, Dermawan, sesuai dengan namanya, memiliki sifat yang sangat dermawan. Ia suka mengeluarkan uang atau hartanya untuk kepentingan yang bermanfaat baik untuk dirinya sendiri, keluarga maupun orang lain. Suatu ketika, si Dermawan jatuh miskin, karena sebagian besar hartanya disumbangkan kepada orang-orang miskin. Muzakir yang mendengar kabar itu tertawa terpingkal-pingkal, karena dikiranya saudaranya itu orang bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang beberapa waktu, Muzakir mendengar kabar lagi tentang Dermawan, bahwa saudaranya itu sudah tidak miskin lagi. Ia tiba-tiba menjadi kaya-raya, rumahnya sangat besar dan kebunnya sangat luas. Hal ini membuat Muzakir penasaran untuk mengetahui rahasia keberhasilan saudaranya yang tiba-tiba kaya mendadak. Pembaca yang budiman, penasaran juga kan…? Bagaimana cara Dermawan bisa kaya mendadak? Mau tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Semangka Ema berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, pada zaman dahulu kala, di Sambas, Kalimantan Barat, hiduplah seorang saudagar yang kaya-raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Namun, keduanya memiliki sifat dan tingkah laku yang sangat berbeda. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang. Ia tidak pernah memberikan sedekah kepada fakir miskin. Sebaliknya, Derwaman sangat peduli dan selalu bersedekah kepada fakir miskin. Ia tidak rakus dengan harta dan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggal dunia, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Ia bermaksud agar anak-anaknya tidak berbantahan dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak. Setelah harta tersebut dibagi, Muzakir dan Dermawan tinggal terpisah di rumahnya masing-masing. Muzakir tinggal di rumahnya yang mewah, demikian pula Dermawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang bagian Muzakir dimasukkan ke dalam peti, lalu ia kunci. Bila ada orang miskin datang ke rumahnya, ia bukannya memberinya sedekah, melainkan tertawa mengejeknya. Bahkan ia tidak segan-segan mengusirnya jika orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya. Suatu hari, seorang perempuan tua dengan pakaian compang-camping berjalan terseok-seok datang menuju rumah Muzakir. Di depan rumah Muzakir, nenek tua itu memohon belas kasihan, “Tuan, kasihanilah nenek. Berilah nenek sedekah!” Mendengar suara nenek itu, Muzakir keluar dari dalam rumahnya dan menertawakan perempuan tua itu, “Ha ha ha…. Hai nenek jelek, pergi kau dari sini! Aku muak melihat wajahmu yang keriput itu!” Meskipun dibentak, nenek tua itu tidak mau beranjak. Ia pun terus mengiba kepada Muzakir, “Tapi tuan, nenek sudah dua hari tidak makan, kasihanilah nenek.” Melihat nenek itu tidak mau pergi, Muzakir menyuruh orang gajiannya untuk mengusirnya. Akhirnya, perempuan tua yang malang itu pun pergi tanpa mendapat apa-apa, kecuali penghinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang miskin yang sudah mengetahui sifat Muzakir yang kikir itu, termasuk si nenek tua tadi, tidak mau lagi ke rumah Muzakir. Mereka kemudian berduyun-duyun ke rumah Dermawan. Berbeda dengan sifat Muzakir, Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin tersebut dengan senang hati dan ramah. Mereka dijamunya makan dan diberinya uang karena ia merasa iba melihat mereka hidup miskin dan melarat. Hampir setiap hari orang-orang miskin datang ke rumahnya. Lama-kelamaan harta dan uang Dermawan habis, sehingga ia tidak sanggup lagi menutupi biaya pemeliharaan rumahnya yang besar. Akhirnya, ia pindah ke rumah yang lebih kecil, dan mencari pekerjaan untuk membiayai hidupnya. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Meskipun demikian, ia tetap bersyukur dengan keadaan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu. “Itulah akibatnya selalu melayani orang-orang miskin. Pasti kamu juga ikut miskin, dasar memang tolol si Dermawan itu,” gumam si Muzakir. Bahkan, Muzakir merasa bangga sekali karena bisa membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan, "Kasihan," kata Dermawan. "Sayapmu patah, ya?" lanjut Dermawan berbicara dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut, lalu diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. "Biar kucoba mengobatimu," katanya. Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan. Burung itu pun menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan akhirnya ia pun terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya burung pipit itu kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, lalu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tersenyum melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun hanya biji biasa, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanamnya di belakang rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Ternyata, yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya, karena banyak sekali bunganya. “Kalau bunganya ini semuanya menjadi buah, saya pasti kenyang makan semangka dan sebagiannya bisa saya sedekahkan kepada fakir miskin,” kata Dermawan dalam hati berharap. Tetapi aneh, setelah beberapa minggu semangka itu ia pelihara dengan baik, namun di antara bunganya yang banyak itu hanya satu yang menjadi buah. Meskipun hanya satu, semangka itu semakin hari semakin besar, jauh lebih besar dari semangka umumnya. Dermawan tergiur melihat semangka besar itu. “Kelihatannya sedap sekali semangka ini. Mmm….harum sekali baunya,” ucap Dermawan setelah mencium semangka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya semangka itu dipanen. Dermawan memetik buah semangka itu. “Wah…, bukan main beratnya semangka ini,” gumam Dermawan sambil terengah-engah mengangkat semangka itu. Kemudian ia membawa semangka itu masuk ke dalam rumahnya, dan diletakkannya di atas meja. Lalu dibelahnya dengan pisau. Setelah semangka terbelah, betapa terkejutnya Dermawan. “Wow, benda apa pula ini?” tanya Dermawan penasaran. Ia melihat semangka itu berisi pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Disangkanya hanya pasir biasa. Setelah diperhatikannya dengan sungguh-sungguh, ternyata pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia tidak sadar kalau dari luar rumahnya ada seekor burung memperhatikan tingkahnya. Setelah burung itu mencicit, baru ia tersadar. Ternyata, burung itu adalah burung pipit yang pernah ditolongnya. "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan dengan senangnya. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Dermawan membeli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Meskipun setiap hari dan setiap saat orang-orang miskin tersebut datang ke rumahnya, Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu. Uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah-ruah. Tersiarlah kabar di seluruh kampung bahwa Dermawan sudah tidak miskin lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, berita keberhasilan Dermawan terdengar oleh abangnya, Muzakir. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Ia pun ingin mengetahui rahasia keberhasilan adiknya, lalu ia pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepada Muzakir tentang kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui hal tersebut, Muzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kakinya atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, tak seekor burung pun yang mereka temukan dengan ciri-ciri demikian. Muzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Ia gelisah memikirkan bagaimana caranya mendapatkan burung yang patah sayapnya. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan (sumpit). Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung itu. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Tak lama, burung itu kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira. Dalam hatinya, ia selalu berharap agar cepat menjadi kaya, “Ah, sebentar lagi saya akan menjadi kaya-raya dan melebihi kekayaan si Dermawan,” kata Muzakir dalam hati tak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tiga hari kemudian, tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan. Beberapa bulan kemudian, tibalah waktunya semangka itu dipanen. Dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir sudah tidak sabar lagi ingin melihat emas urai murni berhamburan dari dalam semangka itu. Ia pun segera mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil muntah-muntah, karena tidak tahan dengan bau lumpur itu. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya. Dermawan menjadi sangat malu ditertawakan oleh orang-orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cerita di atas, dapat dipetik hikmahnya bahwa sekecil apa pun pemberian orang, harus kita terima dengan senang hati. Karena kita mana tahu, kalau benda kecil itu sangatlah berharga. Hal ini tercermin pada sifat Dermawan ketika ia menerima biji kecil dari burung pipit. Ia menerimanya dengan senang hati, dan ia tidak menyangka kalau biji kecil itu akan menjadi emas urai murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah lain yang dapat diambil dari cerita di atas adalah menjadi orang dermawan memang membutuhkan suatu pengorbanan, baik materil maupun moril. Pengorbanan tersebut hanya Allah SWT saja yang dapat menggantinya, itu sangat cepat dan datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Hal ini tercermin pada sifat Dermawan yang suka menolong fakir miskin meskipun ia sendiri ikut menjadi miskin. Namun, semua pengorbanan yang telah dilakukan Dermawan tersebut dibalas oleh Allah SWT, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari apa yang telah ia dermakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika kita menjadi orang yang loba, kikir, tidak mau memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan, maka Allah SWT enggan untuk membalasnya dengan kebaikan. Seperti yang dialami oleh Muzakir, karena ia suka menumpuk-numpuk harta dan tidak mau bersedekah kepada fakir miskin, maka Allah membalasnya dengan kehinaan. Ia menjadi terkucilkan dari masyarakat di sekitarnya. Ketika ia berharap mendapat emas, lumpur berbau bangkai yang ia peroleh, dan orang-orang di sekitarnya pun menertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta datangnya dari Allah SWT Yang Maha Pemberi Rezeki dan Mahakaya. Harta itu dititipkan kepada manusia agar mereka bisa beramal dan bersedekah dengan ikhlas semata-mata karena mengharap keridaan-Nya. Dengan demikian, manusia akan mendapatkan balasan pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat daripada-Nya. Oleh karena itu, marilah memperbanyak sedekah dan membantu orang lain, terutama orang-orang yang tidak seberuntung kita. Senang jadi dermawan, kejutan akan datang tiap saat, hidup menjadi semakin indah dan dunia akan tersenyum melihat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;www.mail-archive.com&lt;br /&gt;melayu online&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-487494403871354061?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/487494403871354061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/semangka-emas-sambas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/487494403871354061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/487494403871354061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/semangka-emas-sambas.html' title='Semangka Emas (Sambas)'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-1014460265500722984</id><published>2010-10-19T20:18:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:22:14.780-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Barat'/><title type='text'>Batu Menangis</title><content type='html'>Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan dan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia Timur. Provinsi ini memiliki ratusan sungai besar dan kecil, sehingga dijuluki sebagai wilayah “Seribu Sungai”. Menurut cerita, di sebuah daerah di provinsi ini ada seorang gadis cantik yang menjelma menjadi batu. Peristiwa apa yang menimpa gadis itu, sehingga menjelma menjadi batu? Ingin tahu cerita selengkapnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Menangis Berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Darmi. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak ayah Darmi meninggal, kehidupan mereka menjadi susah. Ayah Darmi tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ibu Darmi bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara putrinya, Darmi, seorang gadis yang manja. Apapun yang dimintanya harus dikabulkan. Selain manja, ia juga seorang gadis yang malas. Kerjanya hanya bersolek dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap sore ia selalu hilir-mudik di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya untuk mempertontonkan kecantikannya. Ia sama sekali tidak mau membantu ibunya mencari nafkah. Setiap kali ibunya mengajaknya pergi ke sawah, ia selalu menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nak! Ayo bantu Ibu bekerja di sawah,” ajak sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak, Bu! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur,” jawab Darmi menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak?” tanya sang Ibu mengiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajah Ibu yang sudah keriput itu,” jawab Darmi dengan ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendegar jawaban anaknya itu, sang Ibu tidak dapat berkata-kata lagi. Dengan perasaan sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Sementara si Darmi tetap saja tinggal di gubuk, terus bersolek untuk mempecantik dirinya. Setelah ibunya pulang dari sawah, Darmi meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk dibelikan alat-alat kecantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bu! Mana uang upahnya itu!” seru Darmi kepada Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini,” ujar sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, Bu! Bedakku sudah habis. Saya harus beli yang baru,” kata Darmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja,” kata sang Ibu kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Darmi. Keesokan harinya, ketika ibunya pulang dari bekerja, si Darmi meminta lagi uang upah yang diperoleh ibunya untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan demikian terjadi hampir setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ketika ibunya hendak ke pasar, Darmi berpesan agar dibelikan sebuah alat kecantikan. Tapi, ibunya tidak tahu alat kecantikan yang dia maksud. Kemudian ibunya mengajaknya ikut ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu, ayo temani Ibu ke pasar!” ajak Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!” jawab Darmi menolak ajakan Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi, Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!” seru Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  setelah didesak, Darmi pun bersedia menemani Ibunya ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku mau ikut Ibu ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku,” kata Darmi kepada Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Memang kenapa, Nak!” tanya Ibunya penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu,” jawab Darmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa harus malu, Nak? Bukankah aku ini Ibu kandungmu?” tanya sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor itu! Aku malu punya Ibu berantakan seperti itu!” seru Darmi dengan nada merendahkan Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sedih, sang Ibu pun menuruti permintaan putrinya. Setelah itu, berangkatlah mereka ke pasar secara beriringan. Si Darmi berjalan di depan, sedangkan Ibunya mengikuti dari berlakang dengan membawa keranjang. Meskipun keduanya ibu dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah mereka bukan keluarga yang sama. Sang Anak terlihat cantik dengan pakaian yang bagus, sedangkan sang Ibu kelihatan sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, Darmi bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya temannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ke pasar!” jawab Darmi dengan pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu, siapa orang di belakangmu itu? Apakah dia ibumu?” tanya lagi temannya sambil menunjuk orang tua yang membawa keranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tentu saja bukan ibuku! Dia adalah pembantuku,” jawab Darmi dengan nada sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksana disambar petir orang tua itu mendengar ucapan putrinya. Tapi dia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke pasar. Tidak berapa lama berjalan, mereka bertemu lagi dengan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei, Darmi! Hendak ke mana kamu?” tanya orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hendak ke pasar,” jawab Darmi singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapa yang di belakangmu itu?” tanya lagi orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia pembantuku,” jawab Darmi mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban yang dilontarkan Darmi itu membuat hati ibunya semakin sedih. Tapi, sang Ibu masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bu! Kenapa berhenti?” tanya Darmi heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Darmi bertanya, namun sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian, Darmi melihat mulut ibunya komat-komit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei, Ibu sedang apa?” tanya Darmi dengan nada membentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia tetap berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!” doa sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki Darmi berubah menjadi batu. Darmi pun mulai panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ibu...! Ibu... ! Apa yang terjadi dengan kakiku, Bu?” tanya Darmi sambil berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maafkan Darmi! Maafkan Darmi, Bu! Darmi tidak akan mengulanginya lagi, Bu!” seru Darmi semakin panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Darmi berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala. Gadis durhaka itu hanya bisa menangis dan menangis menyesali perbuatannya. Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata anaknya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Tidak berapa lama, cuaca pun kembali terang seperti sedia kala. Seluruh tubuh Darmi telah menjelma menjadi batu. Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis. Batu itu masih tetap dipelihara dengan baik, sehingga masih dapat kita saksikan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita dari daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat yang ditimbulkan dari sikap durhaka terhadap orang tua. Oleh karena itu, seorang anak harus hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya, karena doa ibu akan didengar oleh Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-1014460265500722984?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/1014460265500722984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/batu-menangis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1014460265500722984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1014460265500722984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/batu-menangis.html' title='Batu Menangis'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-5842831423850082246</id><published>2010-10-19T20:17:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:18:27.706-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Barat'/><title type='text'>Legenda Bukit Kelam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukit Kelam merupakan salah satu obyek wisata alam yang eksotis di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia. Bukit yang telah menjadi Kawasan Hutan Wisata ini memiliki panorama alam yang memesona, yaitu berupa pemandangan air terjun, gua alam yang dihuni oleh ribuan kelelawar, dan sebuah tebing terjal setinggi kurang lebih 600 meter yang ditumbuhi pepohonan di kaki dan puncaknya. Dibalik pesona dan eksotisme Bukit Kelam, tersimpan sebuah cerita yang cukup menarik. Konon, Bukit Kelam dulunya merupakan sebuah rantau.[1] Namun, karena terjadi suatu peristiwa, maka kemudian rantau itu menjelma menjadi Bukit Kelam. Bagaimana kisahnya sehingga rantau itu menjelma menjadi bukit yang indah dan memesona? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Legenda Bukit Kelam berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di Negeri Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah dua orang pemimpin dari keturunan dewa yang memiliki kesaktian tinggi, namun keduanya memiliki sifat yang berbeda. Yang pertama bernama Sebeji atau dikenal dengan Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka merusak, pendengki dan serakah. Tidak seorang pun yang boleh memiliki ilmu, apalagi melebihi kesaktiannya. Oleh karena itu, ia kurang disukai oleh masyarakat sekitar, sehingga sedikit pengikutnya. Sementara seorang lainnya bernama Temenggung Marubai. Sifatnya justru kebalikan dari sifat Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka menolong, berhati mulia, dan rendah hati. Kedua pemimpin tersebut bermata pencaharian utama menangkap ikan, di samping juga berladang dan berkebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang Beji beserta pengikutnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai menguasai sungai di Simpang Melawi. Ikan di sungai Simpang Melawi beraneka ragam jenis dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan sungai di Simpang Kapuas. Tidak heran jika setiap hari Temenggung Marubai selalu mendapat hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan Bujang Beji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi dengan menggunakan bubu (perangkap ikan) raksasa dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan batu-batu, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam bubunya. Ikan-ikan tersebut kemudian dipilihnya, hanya ikan besar saja yang diambil, sedangkan ikan-ikan yang masih kecil dilepaskannya kembali ke dalam sungai sampai ikan tersebut menjadi besar untuk ditangkap kembali. Dengan cara demikian, ikan-ikan di sungai di Simpang Melawi tidak akan pernah habis dan terus berkembang biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui hal tersebut, Bujang Beji pun menjadi iri hati terhadap Temenggung Marubai. Oleh karena tidak mau kalah, Bujang Beji pun pergi menangkap ikan di sungai di Simpang Kapuas dengan cara menuba[2]. Dengan cara itu, ia pun mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak. Pada awalnya, ikan yang diperoleh Bujang Beji dapat melebihi hasil tangkapan Temenggung Marubai. Namun, ia tidak menyadari bahwa menangkap ikan dengan cara menuba lambat laun akan memusnahkan ikan di sungai Simpang Kapuas, karena tidak hanya ikan besar saja yang tertangkap, tetapi ikan kecil juga ikut mati. Akibatnya, semakin hari hasil tangkapannya pun semakin sedikit, sedangkan Temenggung Marubai tetap memperoleh hasil tangkapan yang melimpah. Hal itu membuat Bujang Beji semakin dengki dan iri hati kepada Temenggung Marubai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wah, gawat jika keadaan ini terus dibiarkan!” gumam Bujang Beji dengan geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ia merenung untuk mencari cara agar ikan-ikan yang ada di kawasan Sungai Melawi habis. Setelah beberapa lama berpikir, ia pun menemukan sebuah cara yang paling baik, yakni menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar pada hulu Sungai Melawi. Dengan demikian, Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memikirkan masak-masak, Bujang Beji pun memutuskan untuk mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan kesaktiannya yang tinggi, ia pun memikul puncak Bukit Batu yang besar itu. Oleh karena jarak antara Bukit Batu dengan hulu Sungai Melawi cukup jauh, ia mengikat puncak bukit itu dengan tujuh lembar daun ilalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan menuju hulu Sungai Melawi, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara perempuan sedang menertawakannya. Rupanya, tanpa disadari, dewi-dewi di Kayangan telah mengawasi tingkah lakunya. Saat akan sampai di persimpangan Kapuas-Melawi, ia menoleh ke atas. Namun, belum sempat melihat wajah dewi-dewi yang sedang menertawakannya, tiba-tiba kakinya menginjak duri yang beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aduuuhhh... !” jerit Bujang Beji sambil berjingkrat-jingkrat menahan rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak bukit terputus. Akibatnya, puncak bukit batu terjatuh dan tenggelam di sebuah rantau yang disebut Jetak. Dengan geram, Bujang Beji segera menatap wajah dewi-dewi yang masih menertawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Awas, kalian! Tunggu saja pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada dewi-dewi tersebut sambil menghentakkan kakinya yang terkena duri beracun ke salah satu bukit di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Enyahlah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji dengan perasaan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rantau (Jetak) itu. Namun, Bukit Batu itu sudah melekat pada Jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu[3] yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dengan mata kepala dari bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Keji melakukan upacara sesajian adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajiannya. Binatang itu adalah kawanan sampok (Rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?” tanya Raja Sampok kepada Raja Beruang dalam pertemuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bagaimana caranya?” tanya Raja Sampok penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, setuju dengan pendapat Raja Beruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kretak... Kretak... Kretak... !!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tolooong... ! Tolooong.... !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas Hulu, tepatnya di Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Legenda Bukit Kelam dari daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk dalam cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat yang ditimbulkan dari sikap iri hati dan tamak, dan keutamaan sifat suka bermusyawarah untuk mufakat. Sifat iri hati dan tamak tercermin pada sifat dan perilaku Bujang Beji yang hendak menguasai ikan milik Temenggung Marubai yang ada di Sungai Melawi. Dari sini dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa sifat tamak dan serakah dapat menyebabkan seseorang menjadi iri dan dengki. Sifat ini tidak patut dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-5842831423850082246?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/5842831423850082246/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/legenda-bukit-kelam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5842831423850082246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/5842831423850082246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/legenda-bukit-kelam.html' title='Legenda Bukit Kelam'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-4929946257063008841</id><published>2010-10-19T20:11:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T20:16:30.462-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Barat'/><title type='text'>SEMANGKA EMAS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Pada zaman dahulu kala, di Sambas hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai dua orang anak laki-laki. Anaknya yang sulung bernama Muzakir, dan yang bungsu bernama Dermawan. Muzakir sangat loba dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya mengumpulkan uang saja. Ia tidak perduli kepada orang-orang miskin. Sebaliknya Dermawan sangat berbeda tingkah lakunya. Ia tidak rakus dengan uang dan selalu bersedekah kepada fakir miskin.&lt;/span&gt;                          &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Sebelum meninggal, saudagar tersebut membagi hartanya sama rata kepada kedua anaknya. Maksudnya agar anak-anaknya tidak berbantah dan saling iri, terutama bila ia telah meninggal kelak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Muzakir langsung membeli peti besi. Uang bagiannya dimasukkan ke dalam peti tersebut, lalu dikuncinya. Bila ada orang miskin datang, bukannnya ia memberi sedekah, melainkan ia tertawa terbahak-bahak melihat orang miskin yang pincang, buta dan lumpuh itu. Bila orang miskin itu tidak mau pergi dari rumahnya, Muzakir memanggil orang gajiannya untuk mengusirnya. Orang-orang miskin kemudian berduyun-duyun datang ke rumah Dermawan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Dermawan selalu menyambut orang-orang miskin dengan senang hati. Mereka dijamunya makan dan diberi uang karena ia merasa iba melihat orang miskin dan melarat. Lama kelamaan uang Dermawan habis dan ia tidak sanggup lagi membiayai rumahnya yang besar. Ia pun pindah ke rumah yang lebih kecil dan harus bekerja. Gajinya tidak seberapa, sekedar cukup makan saja. Tetapi ia sudah merasa senang dengan hidupnya yang demikian.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Muzakir tertawa terbahak-bahak mendengar berita Dermawan yang dianggapnya bodoh itu. Muzakir telah membeli rumah yang lebih bagus dan kebun kelapa yang luas. Tetapi Dermawan tidak menghiraukan tingkah laku abangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Suatu hari Dermawan duduk-duduk melepaskan lelah di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit di hadapannya. Burung itu mencicit-cicit kesakitan "Kasihan," kata Dermawan. "Sayapmu patah, ya?" lanjut Dermawan seolah-olah ia berbicara dengan burung pipit itu. Ditangkapnya burung tersebut, lalau diperiksanya sayapnya. Benar saja, sayap burung itu patah. "Biar kucoba mengobatimu," katanya. Setelah diobatinya lalu sayap burung itu dibalutnya perlahan-lahan. Kemudian diambilnya beras. Burung pipit itu diberinya makan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Burung itu menjadi jinak dan tidak takut kepadanya. Beberapa hari kemudian, burung itu telah dapat mengibas-ngibaskan sayapnya, dan sesaat kemudian ia pun terbang. Keesokan harinya ia kembali mengunjungi Dermawan. Di paruhnya ada sebutir biji, dan biji itu diletakkannya di depan Dermawan. Dermawan tertawa melihatnya. Biji itu biji biasa saja. Meskipun demikian, senang juga hatinya menerima pemberian burung itu. Biji itu ditanam di belakang rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Tiga hari kemudian tumbuhlah biji itu. Yang tumbuh adalah pohon semangka. Tumbuhan itu dipeliharanya baik-baik sehingga tumbuh dengan subur. Pada mulanya Dermawan menyangka akan banyak buahnya. Tentulah ia akan kenyang makan buah semangka dan selebihnya akan ia sedekahkan. Tetapi aneh, meskipun bunganya banyak, yang menjadi buah hanya satu. Ukuran semangka ini luar biasa besarnya, jauh lebih dari semangka umumnya. Sedap kelihatannya dan harum pula baunya. Setelah masak, Dermawan memetik buah semangka itu. Amboi, bukan main beratnya. Ia terengah-engah mengangkatnya dengan kedua belah tangannya. Setelah diletakkannya di atas meja, lalu diambilnya pisau. Ia membelah semangka itu. Setelah semangka terbelah, betapa kagetnya Dermawan. Isi semangka itu berupa pasir kuning yang bertumpuk di atas meja. Ketika diperhatikannya sungguh-sungguh, nyatalah bahwa pasir itu adalah emas urai murni. Dermawan pun menari-nari karena girangnya. Ia mendengar burung mencicit di luar, terlihat burung pipit yang pernah ditolongnya hinggap di sebuah tonggak. "Terima kasih! Terima kasih!" seru Dermawan. Burung itu pun kemudian terbang tanpa kembali lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Keesokan harinya Dermawan memberli rumah yang bagus dengan pekarangan yang luas sekali. Semua orang miskin yang datang ke rumahnya diberinya makan. Tetapi Dermawan tidak akan jatuh miskin seperti dahulu, karena uangnya amat banyak dan hasil kebunnya melimpah ruah. Rupanya hal ini membuat Muzakir iri hati. Muzakir yang ingin mengetahui rahasia adiknya lalu pergi ke rumah Dermawan. Di sana Dermawan menceritakan secara jujur kepadanya tentang kisahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Mengetahui hal tersebut, MUzakir langsung memerintahkan orang-orang gajiannya mencari burung yang patah kaki atau patah sayapnya di mana-mana. Namun sampai satu minggu lamanya, seekor burung yang demikian pun tak ditemukan. MUzakir sungguh marah dan tidak dapat tidur. Keesokan paginya, Muzakir mendapat akal. Diperintahkannya seorang gajiannya untuk menangkap burung dengan apitan. Tentu saja sayap burung itu menjadi patah. Muzakir kemudian berpura-pura kasihan melihatnya dan membalut luka pada sayap burung. Setelah beberapa hari, burung itu pun sembuh dan dilepaskan terbang. Burung itu pun kembali kepada Muzakir untuk memberikan sebutir biji. Muzakir sungguh gembira.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 85%;"&gt;Biji pemberian burung ditanam Muzakir di tempat yang terbaik di kebunnya. Tumbuh pula pohon semangka yang subur dan berdaun rimbun. Buahnya pun hanya satu, ukurannya lebih besar dari semangka Dermawan. Ketika dipanen, dua orang gajian Muzakir dengan susah payah membawanya ke dalam rumah karena beratnya. Muzakir mengambil parang. Ia sendiri yang akan membelah semangka itu. Baru saja semangka itu terpotong, menyemburlah dari dalam buah itu lumpur hitam bercampur kotoran ke muka Muzakir. Baunya busuk seperti bangkai. Pakaian Muzakir serta permadani di ruangan itu tidak luput dari siraman lumpur dan kotoran yang seperti bubur itu. Muzakir berlari ke jalan raya sambil menjerit-jerit. Orang yang melihatnya dan mencium bau yang busuk itu tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;                           &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 78%;"&gt;diceritakan kembali oleh Hendy Lie&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana,Arial; font-size: 78%;"&gt;(diolah dari Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat 2, Syahzaman, PT.Grasindo, 1995)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-4929946257063008841?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/4929946257063008841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/semangka-emas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/4929946257063008841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/4929946257063008841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/10/semangka-emas.html' title='SEMANGKA EMAS'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-6538302206378595161</id><published>2010-02-11T05:12:00.003-08:00</published><updated>2010-02-11T05:12:56.428-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><title type='text'>Putra Mahkota Amat Mude</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah, di Negeri Alas, Nanggroe Aceh Darussalam, ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Seluruh rakyatnya selalu patuh dan setia kepadanya. Negeri Alas pun senantiasa aman dan damai. Namun satu hal yang membuat sang Raja selalu bersedih, karena belum dikaruniai seorang anak. Sang Raja ingin sekali seperti adiknya yang sudah memiliki seorang anak.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, sang Raja duduk termenung seorang diri di serambi istana. Tanpa disadarinya, tiba-tiba permaisurinya telah duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;“Apa yang sedang Kanda pikirkan?” tanya permaisuri pelan.&lt;br /&gt;“Dindaku tercinta! Kita sudah tua, tapi sampai saat ini kita belum mempunyai seorang putra yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan ini,” ungkap sang Raja.&lt;br /&gt;“Dinda mengerti perasaan Kanda. Dinda juga sangat merindukan seorang buah hati belaian jiwa. Kita telah mendatangkan tabib dari berbagai negeri dan mencoba segala macam obat, namun belum juga membuahkan hasil. Kita harus bersabar dan banyak berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” kata permaisuri menenangkan hati suaminya.&lt;br /&gt;Alangkah sejuknya hati sang Raja mendengar kata-kata permaisurinya. Ia sangat beruntung mempunyai seorang permaisuri yang penuh pengertian dan perhatian kepadanya.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Dinda! Kanda sangat bahagia mempunyai permaisuri seperti Dinda yang pandai menenangkan hati Kanda,” ucap sang Raja memuji permaisurinya.&lt;br /&gt;Sejak itu, sang Raja dan permaisuri semakin giat berdoa dengan harapan keinginan mereka dapat terkabulkan. Pada suatu malam, sang Raja yang didampingi permaisurinya berdoa dengan penuh khusyuk.&lt;br /&gt;“Ya Tuhan! Karuniakanlah kepada kami seorang putra yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan ini. Hamba rela tidak merasakan sebagai seorang ayah, asalkan kami dikaruniai seorang putra,” pinta sang Raja.&lt;br /&gt;Sebulan kemudian, permaisuri pun mengandung. Alangkah senang hati sang Raja mengetahui hal itu. Kabar tentang kehamilan permaisuri pun tersebar ke seluruh penjuru negeri. Rakyat negeri itu sangat gembira, karena raja mereka tidak lama lagi akan memiliki keturunan yang kelak akan mewarisi tahtanya.&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Usia kandungan permaisuri sudah genap sembilan bulan. Pada suatu sore, permaisuri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan tampan. Permaisuri tampak tersenyum bahagia sambil menimang-nimang putranya. Begitupula sang Raja senantiasa bersyukur telah memperoleh keturunan anak laki-laki yang selama ini ia idam-idamkan.&lt;br /&gt;“Terima kasih Tuhan! Engkau telah mengabulkan doa kami,” sang Raja berucap syukur.&lt;br /&gt;Seminggu kemudian, sang Raja pun mengadakan pesta dan upacara turun mani, yakni upacara pemberian nama. Pesta dan upacara tersebut diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Tamu yang diundang bukan hanya rakyat negeri Alas, melainkan juga seluruh binatang dan makhluk halus yang ada di laut maupun di darat. Seluruh tamu undangan tampak gembira dan bersuka ria. Dalam upacara turun mani tersebut ditetapkan nama putra Raja, yakni Amat Mude.&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah upacara dilaksanakan, sang Raja pun mulai sakit-sakitan. Seluruh badannya terasa lemah dan letih.&lt;br /&gt;“Dinda! Mungkin ini pertanda waktuku sudah dekat. Dinda tentu masih ingat doa Kanda dulu sebelum kita mempunyai anak,” ungkap sang Raja.&lt;br /&gt;Mendengar ungkapan sang Raja, hati permaisuri menjadi sedih. Meskipun menyadari hal itu, permaisuri tetap berharap agar sang Raja dapat sembuh dan dipanjangkan umurnya. Semua tabib diundang ke istana untuk mengobati penyakit sang Raja. Namun, tak seorang pun yang berhasil menyembuhkannya. Bahkan penyakit sang Raja semakin hari bertambah parah. Akhirnya, raja yang arif dan bijaksana itu pun wafat. Seluruh keluarga istana dan rakyat Negeri Alas berkabung.&lt;br /&gt;Oleh karena Amat Mude sebagai pewaris tunggal Kerajaan Negeri Alas masih kecil dan belum sanggup melakukan tugas-tugas kerajaan, maka diangkatlah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda menjadi raja sementara Negeri Alas. Sebagai seorang raja, apapun perintahnya pasti dipatuhi. Hal itulah yang membuatnya enggan digantikan kedudukannya sebagai raja oleh Amat Mude. Berbagai tipu muslihat pun ia lakukan. Mulanya, sang Raja memindahkan Amat Mude dan ibunya ke ruang belakang yang semula tinggal di ruang tengah. Alasannya, Amat Mude yang masih kecil sering menangis, sehingga mengganggu setiap acara penting di istana.&lt;br /&gt;Tipu muslihat Raja Muda semakin hari semakin menjadi-jadi. Pada suatu hari, ia mengumpulkan beberapa orang pengawalnya di ruang sidang istana.&lt;br /&gt;“Wahai, Pengawal! Besok pagi-pagi sekali, buang permaisuri dan anak ingusan itu ke tengah hutan!” titah Raja Muda.&lt;br /&gt;“Apa maksud Baginda?” tanya seorang pengawal heran.&lt;br /&gt;“Sudahlah! Tidak usah banyak tanya. Aku kira kalian sudah tahu semua maksudku,” jawab Raja Muda.&lt;br /&gt;“Ampun, Baginda! Hamba benar-benar tidak tahu maksud Baginda hendak membuang permaisuri dan putra mahkota ke tengah hutan,” kata seorang pengawal yang lain.&lt;br /&gt;“Ketahuilah! Aku tidak ingin suatu hari kelak Amat Mude akan merebut kekuasaan ini dari tanganku,” ungkap Raja Muda.&lt;br /&gt;“Tapi, Baginda. Bukankah Putra Mahkota Amat Mude pewaris tahta kerajaan ini,” ungkap pengawal yang lain.&lt;br /&gt;“Hei, kalian tidak usah banyak bicara. Laksanakan saja perintahku! Jika tidak, kalian akan menanggung akibatnya!” bentak Raja Muda.&lt;br /&gt;Mendengar ancaman itu, tak seorang pun pengawal yang berani lagi angkat bicara, karena jika berani membantah dan menolak perintah tersebut, mereka akan mendapat hukuman berat.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, berangkatlah para pengawal tersebut mengantar permaisuri dan Amat Mude ke tengah hutan. Keduanya pun ditinggalkan di tengah hutan dengan bekal seadanya. Untuk melindungi diri dari panasnya matahari dan dinginnya udara malam, ibu dan anak itu pun membuat sebuah gubuk kecil di bawah sebuah pohon rindang. Untuk bertahan hidup, mereka memanfaatkan hasil-hasil hutan yang banyak tersedia di sekitar mereka.&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Tak terasa Amat Mude telah berumur 8 tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan. Pada suatu hari, ketika sedang bermain-main, Amat Mude menemukan cucuk sanggul ibunya. Diambilnya cucuk sanggul itu dan dibuatnya mata pancing.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Amat Mude pergi memancing di sebuah sungai yang di dalamnya terdapat banyak ikan. Dalam waktu sekejap, ia telah memperoleh lima ekor ikan yang hampir sama besarnya dan segera membawanya pulang. Alangkah gembiranya hati ibunya.&lt;br /&gt;“Waaah, kamu pandai sekali memancing, Putraku!” ucap ibunya memuji.&lt;br /&gt;“Iya, Ibu! Sungai itu banyak sekali ikannya,” kata Amat Mude.&lt;br /&gt;Lima ekor ikan besar tersebut tentu tidak bisa mereka habiskan. Maka timbul pikiran permaisuri untuk menjualnya sebagian ke sebuah desa yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Dengan mengajak Amat Mude, permaisuri pun pergi ke desa itu. Ketika akan menawarkan ikan itu kepada penduduk, tiba-tiba ia bertemu dengan saudagar kaya dan pemurah. Ia adalah bekas sahabat suaminya dulu.&lt;br /&gt;“Ampun, Tuan Putri! Kenapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu heran.&lt;br /&gt;Permaisuri pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya sampai ia dan putranya berada di desa itu. Mengetahui keadaan permaisuri dan putranya yang sangat memprihatinkan tersebut, saudagar itu pun mengajak mereka mampir ke rumahnya dan membeli semua ikan jualan mereka.&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, saudagar itu menyuruh istrinya agar segera memasak ikan tersebut untuk menjamu permaisuri dan Amat Mude. Ketika sedang memotong ikan tersebut, sang Istri menemukan suatu keanehan. Ia kesulitan memotong perut ikan tersebut dengan pisaunya.&lt;br /&gt;“Hei, benda apa di dalam perut ikan ini? Kenapa keras sekali?” tanya istri saudagar itu dalam hati dengan penuh keheranan.&lt;br /&gt;Setelah berkali-kali istri saudagar itu menggesek-gesekkan pisaunya, akhirnya perut ikan itu pun terbelah. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat telur ikan berwarna kuning emas, tapi keras. Ia pun segera memanggil suaminya untuk memeriksa benda tersebut. Setelah diamati dengan seksama, ternyata butiran-butiran yang berwarna kuning tersebut adalah emas murni.&lt;br /&gt;“Dik! Usai memasak dan menjamu tamu kehormatan kita, segeralah kamu jual emas itu!” pinta saudagar itu kepada istrinya.&lt;br /&gt;“Untuk apa Bang?” tanya sang Istri heran.&lt;br /&gt;“Uang hasil penjualan emas itu akan digunakan untuk membangun rumah yang bagus sebagai tempat kediaman permaisuri dan putranya. Abang ingin membalas budi baik sang Raja yang dulu semasa hidupnya telah banyak membantu kita,” ujar saudagar itu kepada istrinya.&lt;br /&gt;“Baik, Bang!” jawab sang Istri.&lt;br /&gt;Kemudian saudagar itu menyampaikan berita gembira tersebut kepada permaisuri dan putranya bahwa mereka akan dibuatkan sebuah rumah yang bagus. Mendengar kabar itu, permaisuri sangat terharu. Ia benar-benar tidak menyangka jika mantan sahabat suaminya itu sangat baik kepada mereka.&lt;br /&gt;“Terima kasih atas semua perhatiannya kepada kami,” ucap permaisuri.&lt;br /&gt;“Ampun, Tuan Putri! Bantuan kami ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bantuan Baginda Raja semasa hidupnya kepada kami,” kata saudagar itu sambil memberi hormat kepada permaisuri dan Amat Mude.&lt;br /&gt;Menjelang sore hari, permaisuri dan Amat Mude pun mohon diri untuk kembali ke gubuknya. Saudagar itu pun memberikan pakaian yang bagus-bagus dan membekali mereka makanan yang lezat-lezat.&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian, rumah permaisuri pun selesai dibangun. Kini permaisuri dan Amat Mude menempati rumah bagus dan bersih. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari mereka, Amat Mude pergi ke sungai setiap hari untuk memancing. Ikan-ikan yang diperolehnya untuk dimakan sehari-hari dan selebihnya dijual ke penduduk sekitar. Di antara ikan-ikan yang diperolehnya ada yang bertelur emas. Telur emas tersebut sedikit demi sedikit mereka simpan, sehingga lama-kelamaan mereka pun menjadi kaya raya dan terkenal sampai ke seluruh penjuru negeri.&lt;br /&gt;Berita tentang kekayaan permaisuri dan putranya itu pun sampai ke telinga Pakcik Amat Mude. Mendengar kabar itu, ia pun berniat untuk mencelakakan Amat Mude, karena tidak ingin melepaskan kekuasaannya.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Raja Muda yang serakah itu memanggil Amat Mude untuk menghadap ke istana. Ketika Amat Mude sampai di istana, alangkah terkejutnya Raja Muda saat melihat seorang pemuda gagah dan tampan memberi hormat di hadapannya. Dalam hatinya berkata, “pemuda ini benar-benar menjadi ancaman bagi kedudukanku sebagai raja”. Maka ia pun memerintahkan Amat Mude untuk pergi memetik buah kelapa gading di sebuah pulau yang terletak di tengah laut. Buah kelapa gading itu diperlukan untuk mengobati penyakit istri Raja Muda. Konon, lautan yang dilalui menuju ke pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati lautan itu, maka akan celaka.&lt;br /&gt;“Hei, Amat Mude! Jika kamu tidak berhasil mendapatkan buah kelapa gading itu, maka kamu akan dihukum mati,” ancam Raja Muda.&lt;br /&gt;Oleh karena berniat ingin menolong istri Raja Muda, Amat Mude pun segera melaksanakan perintah itu. Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Amat Mude di sebuah pantai. Ia pun mulai kebingungan mencari cara untuk mencapai pulau itu. Pada saat ia sedang duduk termenung berpikir, tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Silenggang Raye yang didampingi oleh Raja Buaya dan seekor Naga Besar. Amat Mude pun menjadi ketakutan.&lt;br /&gt;“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan hendak ke mana?” tanya Ikan Silenggang Raye.&lt;br /&gt;“Sa... saya Amat Mude,” jawab Amat Mude dengan gugup, lalu menceritakan asal-asul dan maksud perjalanannya.&lt;br /&gt;Mendengar cerita Amat Mude tersebut, Ikan Silenggang Raye, Raja Buaya dan Naga itu langsung memberi hormat kepadanya. Amat Mude pun terheran-heran melihat sikap ketiga binatang raksasa itu.&lt;br /&gt;“Kenapa kalian hormat kepadaku?” tanya Amat Mude heran.&lt;br /&gt;“Ampun, Tuan! Almarhum Ayahandamu adalah raja yang baik. Dulu, kami semua diundang pada pesta pemberian nama Tuan!” jawab Raja Buaya.&lt;br /&gt;“Benar, Tuan! Tuan tidak perlu takut. Kami akan mengantar Tuan ke pulau itu,” sambung Naga besar itu.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Sobat!” ucap Amat Mude.&lt;br /&gt;Akhirnya, Amat Mude pun diantar oleh ketiga binatang raksasa tersebut menuju ke pulau yang dimaksud. Tidak berapa lama, sampailah mereka di pulau itu. Sebelum Amat Mude naik ke darat, si Naga besar memberikan sebuah cincin ajaib kepada Amat Mude. Dengan memakai cincin ajaib itu, maka semua permintaan akan dikabulkan.&lt;br /&gt;Setelah itu, Amat Mude pun segera mencari pohon kelapa gading. Tidak berapa lama mencari, ia pun menemukannya. Rupanya, pohon kelapa gading itu sangat tinggi dan hanya memiliki sebutir buah kelapa. Setelah menyampaikan niatnya kepada cincin ajaib yang melingkar di jari tangannya, Amat Mude pun dapat memanjat dengan mudah dan cepat sampai ke atas pohon. Ketika ia sedang memetik buah kelapa gading itu, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang sangat lembut menegurnya, “Siapapun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, maka dia akan menjadi suamiku.”&lt;br /&gt;“Siapakah Engkau ini?” tanya Amat Mude.&lt;br /&gt;“Aku adalah Putri Niwer Gading,” jawabnya.&lt;br /&gt;Ketika Amat Mude baru saja turun dari atas pohon sambil menenteng sebutir kelapa gading, tiba-tiba seorang putri cantik jelita berdiri di belakangnya. Alangkah takjubnya ketika ia melihat kecantikan Putri Niwer Gading. Akhirnya, Amat Mude pun mengajak sang Putri pulang ke rumah untuk menikah. Pesta perkawinan mereka pun dirayakan dengan ramai di kediaman Amat Mude.&lt;br /&gt;Usai pesta, Amat Mude ditemani istri dan ibunya segera menyerahkan buah kelapa gading yang diperolehnya kepada Pakciknya. Maka selamatlah ia dari ancaman hukuman mati. Bahkan, berkat ketabahan dan kebaikan hatinya, Raja Muda tiba-tiba menjadi sadar akan kecurangan dan perbuatan jahatnya. Ia juga menyadari bahwa Amat Mude-lah yang berhak menduduki tahta kerajaan Negeri Alas. Akhirnya, atas permintaan Raja Muda, Amat Mude pun dinobatkan menjadi Raja Negeri Alas.&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://dongengshanty.blogspot.com/" class="external free" title="http://dongengshanty.blogspot.com" rel="nofollow"&gt;http://dongengshanty.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-6538302206378595161?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/6538302206378595161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/putra-mahkota-amat-mude.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6538302206378595161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6538302206378595161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/putra-mahkota-amat-mude.html' title='Putra Mahkota Amat Mude'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-6489204049699097907</id><published>2010-02-11T05:12:00.001-08:00</published><updated>2010-02-11T05:12:34.194-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><title type='text'>Beungong Meulu dan Beungong Peukeun</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri di Aceh, hidup dua orang kakak-beradik yang bernama Beungong Meulu dan Beungong Peukeun. Kedua orangtua mereka telah meninggal dunia. Tiap hari Beungong Peukeun mencari udang di danau. Suatu hari Beungong Peukun tidak mendapat seekor udang pun. Saat hendak pulang, dia melihat sebuah benda yang menarik hatinya. Ternyata benda itu sebutir telur.&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, direbusnya telur tadi dan dimakannya. Sungguh aneh, keesokan harinya Beungong Peukeun merasa sangat haus. Bukan hanya itu, tubuhnya pun semakin panjang dan bersisik. Akhirnya, suatu pagi saat bangun dari tidurnya Beungong Peukun telah berubah menjadi seekor naga.&lt;br /&gt;“Mengapa Kakak memakan telur itu? Kini kau menjadi seekor naga,” kata Beungong Meulu dengan terisak menyesali perbuatan kakaknya. Keesokan harinya Beungong Peukeun mengajak adiknya meninggalkan gubuk mereka. Sebelum berangkat, Beungong Peukeun menyuruh adiknya memetik tiga kuntum bunga di belakang gubuk mereka. “Ayo, naiklah ke punggungku dan peganglah bunga itu erat-erat, jangan sampai jatuh,” perintah Beungong Peukeun.&lt;br /&gt;Saat melewati sungai besar, Beungong Peukeun meminum airnya hingga habis. Tiba-tiba muncul seekor naga yang marah karena perbuatan Beungong Peukeun tersebut. Keduanya bertarung sengit. Saat Beungong Peukuen memenangkan pertarungan tersebut sekuntum bunga di tangan Beungong Meulu menjadi layu.&lt;br /&gt;Mereka pun melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan mereka kembali dihadang seekor naga yang besar. Kembali terjadi pertarungan. Tiba-tiba sekuntum bunga di tangan Beungong Meulu menjadi layu. Tahulah dia bahwa sebentar lagi pertarungan akan dimenangkan Beungong Peukeun.&lt;br /&gt;Setelah menang bertarung, kakak-beradik itu kembali melanjutkan perjalanan menyeberangi lautan. Rupanya di tengah perjalanan menyeberangi lautan tersebut, Beungong Peukeun kembali diserang seekor naga. Kali ini naga yang sangat besar. Saat bunga di tangan Beungong Meulu tak kunjung layu, dia mulai khawatir.&lt;br /&gt;Beungong Meulu semakin khawatir ketika Beungong Peukeun tampak mulai kewalahan menghadapi serangan sang Naga. Saat mengetahui dirinya akan kalah, Beungong Peukeun melemparkan adiknya dari punggungnya. Akhirnya Beungong Peukeun terbunuh oleh serangan naga yang sangat besar itu. Sementara itu, Beungong Meulu terlempar dan tersangkut di sebuah pohon milik seorang saudagar kaya yang kemudian menikahinya.&lt;br /&gt;Namun sayang, selama menjadi istri saudagar kaya tersebut, Beungong Meulu tak pernah bicara ataupun tersenyum. Dia selalu diam dan tampak sedih. Bahkan sampai mereka mempunyai seorang anak. Suaminya mencari akal untuk mengetahui penyebab kesedihan istrinya itu. Maka suatu hari suaminya berpura-pura mati sehingga anaknya menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;“O Anakku, ibu tahu bagaimana sedihnya hati bila ditinggal orang yang kita cintai. Ibu dulu kehilangan kakak ibu yang terbunuh oleh seekor naga di lautan. Bahkan hingga kini ibu tidak dapat menghilangkan rasa sedih itu.” Mendengar pengakuan Beungong Meulu tersebut suaminya kemudian bangun. Akhirnya, dia mengetahui penyebab kesedihan Beungong Meulu. Keesokan harinya dia mengajak Beungong Meulu pergi ke lautan, di mana dulu Beungong Peukeun bertarung melawan naga raksasa.&lt;br /&gt;Saat sampai di pantai, Beungong Meulu dan suaminya melihat tulang-tulang berserakan. Beungong Meulu yakin bahwa itu tulang-tulang kakaknya. Maka, dikumpulkannya tulang-tulang tersebut kemudian suaminya membaca doa sambil memercikkan air bunga pada tulang-tulang tersebut. Atas perkenan Tuhan, tiba-tiba terjadi keajaiban. Beungong Peukeun menjelma dan berdiri di hadapan mereka. Sejak saat itu Beungong Peuken tinggal bersama adiknya dan Beungong Meulu tidak lagi membisu.&lt;br /&gt;Suatu hari, Beungong Peukun berjalan-jalan di tepi pantai. Saat itu dia melihat seekor ikan raksasa berwarna kemerahan. Dihujamkannya sebilah pedang ke tubuh ikan tersebut kemudian dicongkelnya mata ikan tersebut. Karena terlalu keras, mata ikan tersebut terpelanting jauh hingga jatuh di halaman seorang penguasa di sebuah negeri. Mata ikan tersebut kemudian berubah menjadi gunung. Sang penguasa merasa gelisah dengan adanya gunung di halamannya. Ia kemudian mengadakan sebuah sayembara. Barang siapa dapat memindahkan gunung tersebut dari halaman rumahnya, dia akan dijadikan penguasa di negeri itu dan dinikahkan dengan anaknya.&lt;br /&gt;Beungong Peukeun yang mendengar sayembara tersebut segera berangkat ke sana. Begitu tiba di tempat yang dimaksud, dia segera mencongkel gunung tersebut dengan pedang saktinya. Dalam sekejap, gunung tersebut dapat dilemparkannya jauh-jauh. Sang penguasa menepati janjinya. Beungong Peukeun diberi kekuasaan memerintah negeri tersebut dan dinikahkan dengan putri penguasa. Demikianlah kisah tentang dua saudara ini. Akhirnya, mereka berdua hidup bahagia.&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://dongengshanty.blogspot.com/" class="external free" title="http://dongengshanty.blogspot.com" rel="nofollow"&gt;http://dongengshanty.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-6489204049699097907?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/6489204049699097907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/beungong-meulu-dan-beungong-peukeun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6489204049699097907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6489204049699097907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/beungong-meulu-dan-beungong-peukeun.html' title='Beungong Meulu dan Beungong Peukeun'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-2000972932037764669</id><published>2010-02-11T05:11:00.002-08:00</published><updated>2010-02-11T05:12:12.784-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><title type='text'>Tujuh Anak Lelaki</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah, di sebuah kampung di daerah Nanggroe Aceh Darussalam, ada sepasang suami-istri yang mempunyai tujuh orang anak laki-laki yang masih kecil. Anak yang paling tua berumur sepuluh tahun, sedangkan yang paling bungsu berumur dua tahun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sepasang suami-istri itu menanam sayur-sayuran untuk dimakan sehari-hari dan sisanya dijual ke pasar. Meskipun serba pas-pasan, kehidupan mereka senantiasa rukun, damai, dan tenteram.&lt;br /&gt;Pada suatu waktu, kampung mereka dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Semua tumbuhan mati karena kekeringan. Penduduk kampung pun mulai kekurangan makanan. Persediaan makanan mereka semakin hari semakin menipis, sementara musim kemarau tak kunjung usai. Akhirnya, seluruh penduduk kampung menderita kelaparan, termasuk keluarga sepasang suami-istri bersama tujuh orang anaknya itu.&lt;br /&gt;Melihat keadaan tersebut, sepasang suami-istri tersebut menjadi panik. Tanaman sayuran yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka tidak lagi tumbuh. Sementara mereka tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali menanam sayur-sayuran di kebun. Mereka sudah berpikir keras mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut, namun tidak menemukan jawabannya. Akhirnya, mereka bersepakat hendak membuang ketujuh anak mereka ke sebuah hutan yang letaknya jauh dari perkampungan.&lt;br /&gt;Pada suatu malam, saat ketujuh anaknya sedang tertidur pulas, keduanya bermusyawarah untuk mencari cara membuang ketujuh anak mereka.&lt;br /&gt;“Bang! Bagaimana caranya agar tidak ketahuan anak-anak?” tanya sang Istri bingung.&lt;br /&gt;“Besok pagi anak-anak kita ajak pergi mencari kayu bakar ke sebuah hutan yang letaknya cukup jauh. Pada saat mereka beristirahat makan siang, kita berpura-pura mencari air minum di sungai,” jelas sang Suami.&lt;br /&gt;“Baik, Bang!” sahut sang Istri sepakat.&lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari, rupanya anak ketiga mereka yang pada waktu itu belum tidur mendengar semua pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, sepasang suami-istri itu mengajak ketujuh putranya ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sesampainya di hutan yang terdekat, sang Ayah berkata kepada mereka:&lt;br /&gt;“Anak-anakku semua! Sebaiknya kita cari hutan yang luas dan banyak pohonnya, supaya kita bisa mendapatkan kayu bakar yang lebih banyak lagi,” ujar sang Ayah.&lt;br /&gt;“Baik, Ayah!” jawab ketujuh anak lelaki itu serentak.&lt;br /&gt;Setelah berjalan jauh, sampailah mereka di sebuah hutan yang amat luas. Alangkah gembiranya mereka, karena di hutan itu terdapat banyak kayu bakar. Mereka pun segera mengumpulkan kayu bakar yang banyak berserakan. Ketika hari menjelang siang, sang Ibu pun mengajak ketujuh anaknya untuk beristirahat melepas lelah setelah hampir setengah hari bekerja.&lt;br /&gt;Pada saat itulah, sepasang suami istri itu hendak mulai menjalankan recananya ingin meninggalkan ketujuh anak mereka di tengah hutan itu.&lt;br /&gt;“Wahai anak-anakku! Kalian semua beristirahatlah di sini dulu. Aku dan ibu kalian ingin mencari sungai di sekitar hutan ini, karena persediaan air minum kita sudah habis,” ujar sang Ayah.&lt;br /&gt;“Baik, Ayah!” jawab ketujuh anak itu serentak.&lt;br /&gt;“Jangan lama-lama ya, Ayah... Ibu...!’” sahut si Bungsu.&lt;br /&gt;“Iya, Anakku!” jawab sang Ibu lalu pergi mengikuti suaminya.&lt;br /&gt;Sementara itu, setelah menunggu beberapa lama dan kedua orangtua mereka belum juga kembali, ketujuh anak itu mulai gelisah. Mereka cemas kalau-kalau kedua orangtua mereka mendapat musibah. Akhirnya, si sulung pun mengajak keenam adiknya untuk pergi menyusul kedua orangtua mereka. Namun, sebelum meninggalkan tempat itu, anak ketiga tiba-tiba angkat bicara.&lt;br /&gt;“Abang! Tidak ada gunanya kita menyusul ayah dan ibu. Mereka sudah pergi meninggalkan kita semua,” kata anak ketiga.&lt;br /&gt;“Apa maksudmu, Dik?” tanya si Sulung.&lt;br /&gt;“Tadi malam, saat kalian sudah tertidur nyenyak, aku mendengar pembicaraan ayah dan ibu. Mereka sengaja meninggalkan kita di tengah hutan ini, karena mereka sudah tidak sanggup lagi menghidupi kita semua akibat kemarau panjang,” jelas anak ketiga.&lt;br /&gt;“Kenapa hal ini baru kamu ceritakan kepada kami?” tanya anak kedua.&lt;br /&gt;“Aku takut ayah dan ibu murka kepadaku, Bang,” jawab anak ketiga.&lt;br /&gt;Akhirnya ketujuh anak itu tidak jadi pergi menyusul kedua orangtuanya, apalagi hari sudah mulai gelap. Mereka pun segera mencari tempat perlindungan dari udara malam. Untungnya, tidak jauh dari tempat mereka berada, ada sebuah pohon besar yang batangnya berlubang seperti gua. Mereka pun beristirahat dan tidur di dalam lubang kayu itu hingga pagi hari.&lt;br /&gt;“Bang! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Ke mana kita harus pergi?” tanya si anak kedua.&lt;br /&gt;“Kalian tunggu di sini! Aku akan memanjat sebuah pohon yang tinggi. Barangkali dari atas pohon itu aku dapat melihat kepulan asap. Jika ada, itu pertanda bahwa di sana ada perkampungan,” kata si Sulung.&lt;br /&gt;Ternyata benar, ketika berada di atas pohon, si Sulung melihat ada kepulan asap dari kejauhan. Ia pun segera turun dari pohon dan mengajak keenam adiknya menuju ke arah kepulan asap tersebut. Setelah berjalan jauh, akhirnya sampailah mereka di sebuah perkampungan. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sebuah rumah yang sangat besar berdiri tegak di pinggir kampung.&lt;br /&gt;“Hei lihatlah! Besar sekali rumah itu,” seru anak keempat.&lt;br /&gt;“Waaahhh... jangan-jangan itu rumah raksasa,” sahut anak keenam.&lt;br /&gt;Baru saja kata-kata itu terlepas dari mulutnya, tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam rumah itu meminta mereka masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, penghuni rumah itu pun keluar. Rupanya, dia adalah raksasa betina.&lt;br /&gt;“Hei, anak manusia! Kalian siapa?” tanya Raksasa Betina itu.&lt;br /&gt;“Kami tersesat, Tuan Raksasa! Orang tua kami meninggalkan kami di tengah hutan,” jawab si Sulung.&lt;br /&gt;Mendengar keterangan itu, tiba-tiba si Raksasa Betina merasa iba kepada mereka. Ia pun segera mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya, lalu menghidangkan makanan dan minuman kepada mereka. Oleh karena sudah kelaparan, ketujuh anak itu menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.&lt;br /&gt;“Habiskan cepat makanan itu, lalu naik ke atas loteng! Kalau tidak, kalian akan dimakan oleh suamiku. Tidak lama lagi ia datang dari berburu,” ujar Raksasa Betina.&lt;br /&gt;Oleh karena takut dimakan oleh Raksasa Jantan, mereka pun segera menghabiskan makanannya lalu bergegas naik ke atas loteng untuk bersembunyi. Tidak lama kemudian, Raksasa Jantan pun pulang dari berburu. Ketika membuka pintu rumahnya, tiba-tiba ia mencium bau makanan enak.&lt;br /&gt;“Waaahhh... sedapnya!” ucap raksasa jantan sambil menghirup bau sedap itu.&lt;br /&gt;“Bu! Sepertinya ada makanan enak di rumah ini. Aku mencium bau manusia. Di mana kamu simpan mereka?” tanya Raksasa Jantan kepada istrinya.&lt;br /&gt;“Aku menyimpan mereka di atas loteng. Tapi mereka masih kecil-kecil. Biarlah kita tunggu mereka sampai agak besar supaya enak dimakan,” jawab Raksasa Betina.&lt;br /&gt;Si Raksasa Jantan pun menuruti perkataan istrinya. Selamatlah ketujuh anak itu dari ancaman Raksasa Jantan. Keesokan harinya, ketika si Raksasa Jantan kembali berburu binatang ke hutan, si Raksasa Betina pun segera menyuruh ketujuh anak lelaki itu pergi. Namun, sebelum mereka pergi, ia membekali mereka makanan seperlunya selama dalam perjalanan. Bahkan, si Raksasa Betina yang baik itu membekali mereka dengan emas dan intan.&lt;br /&gt;“Bawalah emas dan intan ini, semoga bermanfaat untuk masa depan kalian,” kata Raksasa Betina.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Raksasa Jantan! Tuan memang raksasa yang baik hati,” ucap si Sulung seraya berpamitan.&lt;br /&gt;Setelah berjalan jauh menyusuri hutan lebat, menaiki dan menuruni gunung, akhirnya tibalah mereka di tepi pantai. Mereka pun segera membuat perahu kecil lalu berlayar mengarungi lautan luas. Setelah beberapa lama berlayar, tibalah mereka di sebuah negeri yang diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Di negeri itu mereka menjual semua emas dan intan pemberian raksasa kepada seorang saudagar kaya. Hasil penjualan tersebut, mereka gunakan untuk membeli tanah perkebunan. Masing-masing mendapat tanah perkebunan yang cukup luas. Ketujuh bersaudara itu sangat rajin bekerja dan senantiasa saling membantu.&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, mereka pun telah dewasa. Berkat kerja keras selama bertahun-tahun, akhirnya mereka memiliki harta kekayaan yang banyak. Kemudian masing-masing dari mereka membuat rumah yang cukup bagus. Ketujuh lelaki itu pun hidup damai, tenteram dan sejahtera.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, si Bungsu tiba-tiba teringat dan merindukan kedua orangtuanya. Ia pun segera mengundang keenam kakaknya datang ke rumahnya untuk bersama-sama pergi mencari kedua orangtua mereka.&lt;br /&gt;“Maafkan aku, Kakakku semua! Aku mengundang kalian ke sini, karena ingin mengajak kalian untuk pergi mencari ayah dan ibu. Aku sangat merindukan mereka, dan aku yakin, mereka pasti masih hidup,” ungkap si Bungsu kepada saudara-saudaranya.&lt;br /&gt;“Iya, Adikku! Kami juga merasakannya seperti itu. Kami sangat rindu kepada ayah dan ibu yang telah melahirkan kita semua,” tambah anak keenam.&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu! Besok pagi kita bersama-sama pergi mencari mereka. Apakah kalian setuju?” tanya si Sulung.&lt;br /&gt;“Setuju!” jawab keenam adiknya serentak.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, berangkatlah ketujuh orang bersaudara itu mencari kedua orangtua mereka. Setelah berlayar mengarungi lautan luas, tibalah mereka di sebuah pulau. Di pulau itu, mereka berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Sudah puluhan kampung mereka datangi, namun belum juga menemukannya. Hingga pada suatu hari, mereka pun menemukan kedua orangtua mereka di sebuah kampung dalam keadaan menderita. Ketujuh orang bersaudara itu sangat sedih melihat kondisi kedua orangtua mereka. Akhirnya, mereka membawa orangtua mereka ke tempat tinggal mereka untuk hidup dan tinggal bersama di rumah yang bagus.&lt;br /&gt;Sejak itu, kedua orangtua itu berkumpul kembali dan hidup bersama dengan ketujuh orang anaknya. Mereka senantiasa menyibukkan diri beribadah kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Segala keperluannya sudah dipenuhi oleh ketujuh orang anaknya yang sudah cukup kaya.&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://dongengshanty.blogspot.com/" class="external free" title="http://dongengshanty.blogspot.com" rel="nofollow"&gt;http://dongengshanty.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-2000972932037764669?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/2000972932037764669/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/tujuh-anak-lelaki.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/2000972932037764669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/2000972932037764669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/tujuh-anak-lelaki.html' title='Tujuh Anak Lelaki'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-7617084852669105538</id><published>2010-02-11T05:11:00.001-08:00</published><updated>2010-02-11T05:11:38.033-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><title type='text'>Asal Usul Tari Guel</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tersebutlah dua bersaudara putra Sultan Johor, Malaysia. Mereka adalah Muria dan Sengede.&lt;br /&gt;Suatu hari, kakak beradik itu menggembala itik di tepi laut sambil bermain layang-layang. Tiba-tiba datang badai dahsyat sehingga benang layang-layang mereka pun putus. Sekuat tenaga mereka mengejar layang-layang tersebut. Mereka lupa bahwa pada saat itu mereka sedang menggembala itik, hingga itiknya pun pergi entah ke mana.&lt;br /&gt;Setelah gagal menemukan layang-layang mereka, barulah mereka teringat akan itik-itik mereka. Tetapi malang, itik-itik itu tak lagi nampak. Mereka pun pulang dengan ketakutan akan mendapat marah dari orangtua mereka.&lt;br /&gt;Benar juga apa yang mereka pikirkan. Setiba di rumah, mereka dimarahi ayah mereka. Mereka juga disuruh mencari itik-itik itu, dan tak diizinkan kembali sebelum itik-itik yang hilang itu ditemukan kembali.&lt;br /&gt;Berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka berjalan mencari itik mereka, tapi tak membawa hasil hingga akhirnya mereka tiba di Kampung Serule. Dengan tubuh yang lunglai mereka menuju ke sebuah meunasah/langgar dan tertidur lelap. Pagi harinya mereka ditemukan oleh orang kampung dan dibawa menghadap ke istana Raja Serule. Di luar dugaan, mereka malah diangkat anak oleh baginda raja.&lt;br /&gt;Beberapa waktu berlalu, rakyat Serule hidup makmur, aman, dan sentosa. Hal ini dikarenakan oleh kesaktian kedua anak tersebut. Kemakmuran rakyat Serule itu membuat Raja Linge iri dan gusar, sehingga mengancam akan membunuh kedua anak tersebut. Malang bagi Muria, ia berhasil dibunuh dan dimakamkan di tepi Sungai Samarkilang, Aceh Tenggara.&lt;br /&gt;Pada suatu saat, raja-raja kecil berkumpul di istana Sultan Aceh di Kutaraja. Raja-raja kecil itu mempersembahkan cap usur, semacam upeti kepada Sultan Aceh. Saat itu, Cik Serule datang bersama Sangede. Saat itu, Raja Linge juga hadir. Saat Raja Serule masuk ke istana, Sangede menunggu di halaman istana.&lt;br /&gt;Sambil menunggu ayah angkatnya, Sangede menggambar seekor gajah yang berwarna putih. Rupanya lukisan Sangede ini menarik perhatian Putri Sultan yang kemudian meminta Sultan mencarikan seekor gajah putih seperti yang digambar oleh Sangede.&lt;br /&gt;Sangede kemudian menceritakan bahwa gajah putih itu berada di daerah Gayo, padahal dia sebenarnya belum pernah melihatnya. Maka, saat itu juga Sultan memerintahkan Raja Serule dan Raja Linge untuk menangkap gajah putih tersebut guna dipersembahkan kepada Sultan. Raja Serule dan Raja Linge benar-benar kebingungan, bagaimana mungkin mencari sesuatu yang belum pernah dilihatnya.&lt;br /&gt;Sangede menyesal karena bercerita bahwa gajah putih itu ada di Gayo hingga ayah angkatnya mendapat tugas mencarinya. Dalam kebingungan itu, suatu malam Sangede bermimpi bertemu dengan Muria yang memberitahu bahwa gajah putih itu berada di Samarkilang, dan sebenarnya gajah putih itu adalah dirinya yang menjelma saat dibunuh oleh Raja Linge.&lt;br /&gt;Pagi harinya, Sangede dan Raja Serule yang bergelar Muyang Kaya pergi ke Samarkilang seperti perintah dalam mimpi Sangede. Benar juga, setelah beberapa saat mencari, mereka berdua menemukan gajah putih itu sedang berkubang di pinggiran sungai.&lt;br /&gt;Sangede dan Raja Serule Muyang Kaya kemudian dengan hati-hati mengenakan tali di tubuh gajah yang nampak penurut itu. Tetapi saat akan dihela, gajah putih itu lari sekuat tenaga. Raja Serule dan Sangede tak mampu menahannya. Mereka hanya bisa mengejarnya hingga suatu saat gajah itu berhenti di dekat kuburan Muria di Samarkilang.&lt;br /&gt;Anehnya, gajah putih itu berhenti seperti sebongkah batu. Tak bergerak sedikit pun meski Sangede dan Raja Serule mencoba menghelanya. Berbagai cara dicoba oleh Sangede agar gajah putih itu mau beranjak dan menuruti perintahnya untuk diajak pergi ke istana Kutaraja. Tetapi, semuanya sia-sia.&lt;br /&gt;Sangede kehabisan akal. Akhirnya, dia bernyanyi-nyanyi untuk menarik perhatian gajah putih. Sambil bernyanyi, Sangede meliuk-liukkan tubuhnya. Raja Serule ikut-ikutan menari bersama Sangede di depan gajah putih agar mau bangkit dan menuruti perintahnya. Di luar dugaan, gajah putih itu tertarik juga oleh gerakan-gerakan Sangede, dan kemudian bangkit. Sangede terus menari sambil berjalan agar gajah itu mengikuti langkahnya. Akhirnya, gajah itu pun mengikuti Sangede yang terus menari hingga ke istana. Tarian itu disebutnya tarian Guel hingga sekarang.&lt;br /&gt;Sangede menyadari bahwa sesuatu ajakan kepada seseorang atau kepada binatang tidaklah harus dengan cara yang kasar. Dengan sebuah tarian pun akhirnya gajah putih itu menuruti ajakannya.&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://dongengshanty.blogspot.com/" class="external free" title="http://dongengshanty.blogspot.com" rel="nofollow"&gt;http://dongengshanty.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-7617084852669105538?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/7617084852669105538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/asal-usul-tari-guel.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7617084852669105538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7617084852669105538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/asal-usul-tari-guel.html' title='Asal Usul Tari Guel'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-1292675177039404352</id><published>2010-02-11T05:10:00.002-08:00</published><updated>2010-02-11T05:11:03.370-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><title type='text'>Hikayat Cabe Rawit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung antah berantah, hidulah sepasang suami istri. Mereka merupakan sebuah keluarga yang sangat miskin. Rumahnya dari pelepah daun rumbia yang didirikan seperti pagar sangkar puyuh. Atap rumah mereka dari daun rumbia yang dianyam. Tidak ada lantai semen atau papan di rumah tersebut, kecuali tanah yang diratakan dan dipadatkan. Di sana tikar anyaman daun pandan digelar untuk tempat duduk dan istirahat keluarga tersebut.&lt;br /&gt;Demikianlah miskinnya keluarga itu. Rumah mereka pun jauh dari pasar dan keramaian. Namun demikian, suami-istri yang usianya sudah setengah abad itu sangat rajin beribadah.&lt;br /&gt;“Istriku,” kata sang suami suatu malam. “Sebenarnya apakah kesalahan kita sehingga sudah di usia begini tua, kita belum juga dianugerahkan seorang anak pun. Padahal, aku tak pernah menyakiti orang, tak pernah berbuat jahat kepada orang, tak pernah mencuri walaupun kita kadang tak ada beras untuk tanak.”&lt;br /&gt;“Entahlah, suamiku. Kau kan tahu, aku juga selalu beribadah dan memohon kepada Tuhan agar nasib kita ini dapat berubah. Jangankan harta, anak pun kita tak punya. Apa Tuhan terlalu membenci kita karena kita miskin?” keluh sang istri pula. Matanya bercahaya di bawah sinar lampu panyot tanda berusaha menahan tangis.&lt;br /&gt;Malam itu, seusai tahajud, suami-istri tersebut kembali berdoa kepada Tuhan. Keduanya memohon agar dianugerahkan seorang anak. Tanpa sadar, mulut sang suami mengucapkan sumpah, “Kalau aku diberi anak, sebesar cabe rawit pun anak itu akan kurawat dengan kasih sayang.” Entah sadar atau tidak pula, si istri pun mengamini doa suaminya.&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian, si istri mulai merasakan sakit diperutnya. Keduanya tak pernah curiga kalau sakit yang dialami si istri adalah sakit orang mengandung. Tak ada ciri-ciri kalau perut istri sedang mengandung. Si istri hanya merasa sakit dalam perut. Sesekali, ia memang merasakan mual.&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Bulan berganti bulan, pada suatu subuh yang dingin, si istri merasakan sakit dalam perutnya teramat sangat. Bukan main gelisahnya kedua suami-istri tersebut. Hendak pergi berobat, tak tahu harus pergi ke mana dan pakai apa. Tak ada sepeserpun uang tersimpan. Namun, kegelisahan itu tiba-tiba berubah suka tatkala ternyata istrinya melahirkan seorang anak. Senyum sejenak mengambang di wajah keduanya. Akan tetapi, betapa terkejutnya suami-istri itu, ternyata tubuh anak yang baru saja lahir sangat kecil, sebesar cabe rawit.&lt;br /&gt;“Sudahlah istriku, betapa pun dan bagaimana pun keadaannya, anak ini adalah anak kita. Ingatkah kau setahun lalu, saat kita berdoa bersama bahwa kita bersedia merawat anak kita kelak kalau memang Tuhan berkenan, walaupun sebesar cabe rawit?” hibur sang suami. Keduanya lalu tersenyum kembali dan menyadari sudah menjadi ibu dan ayah.&lt;br /&gt;Singkat cerita, si anak pun dipelihara hingga besar. Anak itu perempuan. Kendati sudah berumur remaja, tubuh anak itu tetap kecil, seperti cabe rawit. Demi kehidupan keluarganya, sang ayah bekerja mengambil upah di pasar. Ia membantu mengangkut dagangan orang untuk mendapatkan sedikit bekal makanan yang akan mereka nikmati bersama.&lt;br /&gt;Sahdan, suatu ketika si ayah jatuh sakit, tak lama kemudian meninggal dunia. Sedangkan si ibu, tubuhnya mulai lemas dimakan usia. Bertambahlah duka di keluarga itu sejak kehilangan sang ayah. Kerja si ibu pun hanya menangis. Tak tahan melihat keadaan orangtuanya, si anak yang diberi nama cabe rawit karena tubuhnya memang kecil seperti cabe, berkata pada ibunnya, “Ibu aku akan ke pasar. Aku akan bekerja menggantikan ayah.”&lt;br /&gt;“Jangan anakku, nanti kalau kau terpijak orang, bagaimana? Ibu tak mau terjadi apa-apa pada dirimu,” sahut ibunya.&lt;br /&gt;“Sudahlah, Ibu, yakinlah aku tak kan apa-apa. Aku pasti bisa. Aku kan sudah besar.”&lt;br /&gt;“Anakku, kau satu-satunya harta yang tersisa di rumah ini. Kau satu-satunya milik ibu sekarang. Ibu tak mau kehilangan dirimu,” kata ibu lagi.&lt;br /&gt;“Aku akan mencoba dahulu, Bu. Dengan doa ibu, yakinlah kalau aku tidak akan apa-apa. Nanti, kalau memang aku tidak bisa bekerja, aku akan pulang. Tapi, izinkan aku mencobanya dahulu, Ibu,” bujuk cabe rawit berusaha meyakinkan ibunya.&lt;br /&gt;Cabai rawit terus mendesak ibunya agar diizinkan bekerja ke pasar. Sahdan, sang ibu pun akhirnya memberikan izin kepada cabe rawit. Maka pergilah cabe rawit ke pasar tanpa bekal apa pun.&lt;br /&gt;Belum sampai ke pasar, di perempatan jalan, melintaslah seorang pedagang pisang. Raga pisang pedagang itu nyaris saja menyentuh cabe rawit. “Mugè pisang, mugè pisang, hati-hati, jangan sampai raga pisangmu menghimpit tubuhku yang kecil ini,” kata cabe rawit.&lt;br /&gt;Spontan pedagang pisang menghentikan langkahnya. Ia melihat ke belakang, lalu ke samping, tapi tak dilihatnya seorang pun manusia.&lt;br /&gt;“Mugè pisang, mugè pisang, hati-hati, jangan sampai raga pisangmu menghimpit tubuhku yang kecil ini.” Terdengar kembali suara serupa di telinga pedagang pisang. Ia kembali melihat ke belakang dan ke samping. Tapi, tetap tak ditemukannya sesosok manusia pun. Sampai tiga kali ia mendengar suara dan kalimat yang sama, mugè pisang merasa ketakutan. Akhirnya, dia berlari meninggalkan pisang dagangannya. Ia mengira ada makhluk halus. Padahal, si cabe rawit yang sedang bicara. Karena tubuhnya yang mungil, pedagang pisang itu tidak melihat keberadaan cabe rawit di sana.&lt;br /&gt;Sepeninggalan mugè pisang, pulanglah cabe rawit membawa pisang yang sudah ditinggalkan mugè itu. Sesampainya di rumah, si ibu heran melihat anaknya membawa pisang. “Darimana kau dapatkan pisang-pisang ini, Rawit?” tanya si ibu.&lt;br /&gt;Cabe rawit menceritakan kejadian di jalan sebelum ia sempat sampai ke pasar. “Daripada diambil orang atau dimakan kambing, aku bawa pulang saja pisang-pisang ini, Bu,” katanya.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, si cabe rawit kembali minta izn untuk ke pasar. Namun, di tengah jalan, lewatlah pedagang beras dengan sepedanya. Ketika pedagang beras nyaris mendahului si cabe rawit, ia mendengar sebuah suara. “Hati-hati sedikit pedagang beras, jangan sampai ban sepedamu menggilas tubuhku yang kecil ini. Ibuku pasti menangis nanti,” kata sara itu.&lt;br /&gt;Berhentilah pedagang beras tersebut karena terkejut. Ia melihat ke sekeliling, tapi tak didapatinya seorang manusia pun. Sementara suara itu kembali terdengar. Setelah mendengar suara tersebut berulang-ulang, akhirnya pedagang beras lari pontang-panting ketakutan. Ia mengira ada makhluk halus yang sedang mengintainya. Padahal, itu suara cabe rawit yang tidak kelihatan karena tubuhnya yang teramat mungil.&lt;br /&gt;Sepeninggalan pedagang beras, cabe rawit pulang sambil membawa sedikit beras yang sudah ditinggalkan oleh pedagang tersebut. Sesampainya di rumah, si ibu kembali bertanya. “Tadi, di jalan aku bertemu dengan pedagang beras, Bu. Dia tiba-tiba meninggalkan berasnya begitu saja. Daripada diambil orang lain atau dimakan burung, kuambi sedikit, kubawa pulang untuk kita makan. Bukankah kita sudah tidak memiliki beras lagi?” jawab cabe rawit.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, hal serupa kembali terjadi. Ketika cabe rawit hendak ke pasar, di pertengahan jalan, ia bertemu dengan pedagang ikan. Pedagang ikan itu juga ketakutan saat mendengar ada suara yang menyapanya. Ia lari lintang pukang meninggalkan ikan-ikan dagangannya. Maka pulanglah cabe rawit sembari membawa beberapa ikan semampu ia papah. “Tadi pedagang ikan itu tiba-tiba lari meninggalkan ikan-ikannya. Kita kan sudah lama tidak makan ikan. Aku bawa pulang saja ikan-ikan ini sedikit daripada habis dimakan kucing,” kata cabe rawit kepada ibunya saa sang ibu bertanya darimana ia mendapatkan ikan.&lt;br /&gt;Begitulah hari-hari dilalui cabe rawit. Ia tidak pernah sampai ke pasar. Selalu saja, di perempatan atau pertengahan jalan, dia berpapasan dengan para pedagang. Hatta, keluarga yang dulunya miskin dan jarang makan enak itu menjadi hidup berlimpah harta. Pedagang beras akan meninggalkan berasnya di jalan saat mendengar suara cabe rawit. Pedagang pakaian meninggalkan pakaian dagangannya, pedagang emas pun pernah melakukan hal itu. Heranlah orang-orang sekampung melihat si janda miskin menjadi hidup bergelimang harta.&lt;br /&gt;Orang-orang kampung pun mulai curiga. Didatangilah rumah janda miskin tersebut. “Bagaimana mungkin kau tiba-tiba hidup menjadi kaya sedangkan kami semua tahu, kau tidak memiliki siapa-siapa. Suami pun sudah meniggal,” kata kepala kampung.&lt;br /&gt;Si janda hanya diam. Kepala kampung mengulangi pertanyaanya lagi. Namun, di janda tetap bungkam. Karena kepala kampung dan orang-orang kampung di rumah itu sudah mulai marah, terdengarlan suara dari balik pintu. “Tolong jangan ganggu ibuku. Kalau kepala kampung mau marah, marahilah aku. Kalau kepala kampung mau memukul, pukullah aku,” kata suara tersebut.&lt;br /&gt;Kepala kampung dan orang-orang yang ada di rumah tersebut terkejut mendengar suara itu. Beberapa kali suara itu terdengar dari arah yang sama, dari belakang pintu. Salah seorang penduduk melihat ke sebalik pintu. Namun, tak dijumpainya seorang pun di sana. Sedangkan saat itu, suara yang sama kembali terdengar. “Kalau kalian mau marah, marahilah aku. Kalau kalian mau memukul, pukullah aku,” kata suara itu yang tak lain dan tak bukan adalah milik cabe rawit.&lt;br /&gt;Singkat cerita, ketahuan juga bahwa suara itu dari seorang manusia yang sangat kecil, sebesar cabe. Suasana berubah menjadi tegang. Si janda menjelaskan semuanya. Ia menceritakan tentang sumpah yang pernah ia lafalkan dengan sang suami tentang keinginan punya anak walau sebesar cabe pun. Mahfumlah kepala kampung dan penduduk di sana. Akhirnya, para penduduk sepakat membangun sebuah rumah lebih bagus untuk di janda bersama anaknya. Hidup makmurlah keluarga cabe rawit. Ia tidak lagi harus pergi ke pasar sehingga membuat orang-orang takut. Akan tetapi, setiap penduduk berkenan memberikan keluarga cabe rawit apa pun setiap hari. Ada yang memberikan beras, garam, pakaian, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Ditulis oleh Herman RN berdasarkan tuturan lisan Halimah (80-an), seorang warga Ujung Pasir, Kecamatan Kluet Selatan, Aceh Selatan.&lt;br /&gt;sumber: &lt;a href="http://blog.harian-aceh.com/" class="external free" title="http://blog.harian-aceh.com/" rel="nofollow"&gt;http://blog.harian-aceh.com/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-1292675177039404352?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/1292675177039404352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/hikayat-cabe-rawit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1292675177039404352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/1292675177039404352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/hikayat-cabe-rawit.html' title='Hikayat Cabe Rawit'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-6536107603469263663</id><published>2010-02-11T05:10:00.001-08:00</published><updated>2010-02-11T05:10:38.826-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><title type='text'>Geugasi dan Geugasa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Zaman dahulu kala ada sebuah kampung yang sangat aman dan damai di daerah Aceh. Di sana tidak pernah terjadi pencurian maupun perampokan. Masyarakatnya pun tidak pernah saling bertengkar. Kalau ada masalah, mereka langsung menyelesaikannya secara musyawarah sehingga suasana di sana hidup penuh rukun dan saling tolong menolong.&lt;br /&gt;Di kampung itu, hiduplah seorang ibu dengan anaknya yang masih berusia sepuluh tahun. Si ibu dan anak itu sehari-harinya mencari kayu bakar di hutan yang kemudian kayu itu dijual ke pasar. Dari hasil itu, mereka bisa membeli kebutuhan sehari-hari.&lt;br /&gt;Suatu hari, kampung yang aman itu dikejutkan oleh hilangnya kerbau Mak Yah. Semua masyarakat mencarinya, tapi tak seorang pun yang menemukannya. Kerbau itu hilang bagaikan ditelan rimba. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya sehingga membuat masyarakat bertanya-tanya siapa yang mencuri kerbau itu. Keesokan harinya, tiga ekor kambing Bang Ma’e ikut hilang di tempat pengembalaannya. Di sana yang tinggal hanyalah tulang belulang dan percikan darah di mana-mana. Kejadian ini membuat warga semakin penasaran. Dalam hati mereka bertanya, “Sebenarnya siapa yang telah merusak kedamaian di kampung ini?”&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya, makin banyak warga yang kehilangan binatang ternaknya. Bahkan, salah satu anak Wak Minah juga telah hilang ketika dia bermain hingga membuat wak itu terus menangis sepanjang hari. Masyarakat menebak bahwa yang memakan ternak mereka dan mencuri anak Wak Minah adalah geugasi (raksasa) yang tinggal di hutan sana. Karena tapak-tapak yang tertinggal di daerah itu sangatlah besar.&lt;br /&gt;Masyarakat di kampung itu pun mulai resah. Ketakutan mulai melanda di hati mereka. Mereka pun tidak berani lagi keluar rumah. Ahmad yang tidak tahan dengan keadaan itu memberanikan diri untuk mencari sang pembuat onar.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, dia berpamitan kepada ibunya untuk pergi ke hutan, tetapi sang ibu melarangnya. “Jangan Ahmad, nanti kamu dimakan geugasi,” ucap ibunya gusar.&lt;br /&gt;“Tidak Bu, aku akan menjaga diriku baik-baik. Ibu berdoa saja agar aku selamat.”&lt;br /&gt;Akhirnya ibunya hanya bisa mengangguk pasrah menerima permintaan Ahmad, anaknya yang keras kepala. Kemudian pergilah Ahmad ke hutan seorang diri. Dia hanya membawa bekal makanan dan satu pisau yang diselip di pinggangnya. Ahmad terus berjalan hingga dia sendiri tidak tahu lagi sudah sejauh mana dia berjalan. Keringat mulai membasahi tubuhnya, dia pun beristirahat sebentar di bawah pohon. Dari kejauhan, tampaklah sebuah rumah panggung dan semangat Ahmad muncul kembali. Dia menuju rumah itu.&lt;br /&gt;Rumah panggung itu tidak begitu besar dan juga tidak terlalu kecil. Ahmad mengetuk-ngetuk pintu rumah itu, tapi tidak ada sahutan. Dia pun masuk. Di dalam rumah itu terdapat bermacam kepala binatang dan tulang-belulang yang dijadikan sebagai pajangan. Berbagai jenis tombak dan parang terletak di sudut rumah itu begitu juga dengan barang-barang lainnya.&lt;br /&gt;“Tolong… tolong…..”&lt;br /&gt;Ahmad terkejut mendengar suara rintihan minta tolong yang tiba-tiba itu. Dia pun mencari sumber suara itu dan menemukannnya di salah satu kamar di rumah itu. Ternyata itu adalah suara anak perempuan Wak Minah yang hilang. Anak itu meringkuk di sudut sambil menangis tersedu-sedu. Tahulah Ahmad sekarang kalau itu adalah rumah geugasi yang dia cari. Dia pun menenangkan anak wak Minah dan berjanji akan memulangkannya pada ibunya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang yang berjalan dengan begitu keras. Rasa-rasanya bumi bergoyang ketika tapak-tapak itu menghantam tanah. “Itu pastilah geugasi,” pikir Ahmad. Dia pun memikirkan ide agar mereka selamat.&lt;br /&gt;Geugasi yang baru saja mencari makanan akhirnya tiba di halaman rumahnya. Lalu dia berhenti dan hidungnya naik-turun berkali-kali. “Aku mencium bau manusia….” ucapnya dengan begitu keras. Tiba-tiba terdengar suara-suara tapak yang begitu keras di dalam rumah. Kening geugasi itu berkerut.&lt;br /&gt;“Siapa di dalam?” tanyanya penasaran.&lt;br /&gt;“Geugasa,” jawab Ahmad dengan suara yang keras sambil meloncat-loncat di lantai.&lt;br /&gt;Geugasi berpikir bahwa geugasa itu juga sejenis raksasa. Dia pun bertanya lagi, “Coba kulihat gigimu!”&lt;br /&gt;Ahmad melempar buah pinang. Si geugasi terkejut melihat gigi geugasa lebih besar dari giginya. Dia pun melanjutkan pertanyaannya, “Coba kulihat kumismu!”&lt;br /&gt;Ahmad mengambil satu gumpalan bulu ijuk yang lebat dan melemparnya keluar. Si geugasi lagi-lagi terkejut melihat kumis geugasa yang begitu lebat itu. Dia memegang kumisnya yang hanya setengah dari gumpalan kumis si geugasa itu. Dia pun bertanya lagi, “Coba kulihat tahimu!”&lt;br /&gt;Ahmad pun melempar buah kelapa yang besar dan tua. Si gugasi sangat terkejut melihat tahi geugasa yang begitu besar itu. Dia berpikir, kalau gigi dan tahinya sebesar itu dan kumisnya selebat itu, bagaimanakah besarnya geugasa itu. “Oh, pastilah dia amat sangat besar…. Pastilah aku mati kalau berhadapan dengannya,” ucap geugasi pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;“Aku sangaat lapaarrr…. apakah ada makanan disini?” ucap Ahmad dengan suara yang dikeras-keraskan.&lt;br /&gt;Mendengar itu, badan geugasi langsung gemetar, keringat dingin mulai keluar, dan mukanya menjadi tegang. Jelas sekali dia ketakutan. “Aaarrrgghhhhh…… kenapa tidak ada apa-apa di sini? Lebih baik aku keluar saja. Pasti ada makanan di sana.”&lt;br /&gt;Tubuh geugasi makin bergetar hebat karena mendengar ucapan geugasa. Tanpa menunggu waktu lagi, dia berbalik arah hendak melarikan diri, tapi Ahmad dengan cekatan mengambil tombak dan melemparnya ke arah geugasi. Tombak itu menancap mulus di punggung geugasi hingga tembus ke perutnya. Dia mengerang begitu keras. Ahmad pun mengambil tombak satu lagi dan melemparnya lagi hingga menancap di kepala geugasi yang berambut lebat dan panjang. Geugasi itu pun tersungkur di tanah. Dia mati.&lt;br /&gt;Ahmad dan anak wak Minah turun dan melihat geugasi yang sudah tak bernyawa itu. Lalu mereka pulang dan setiba di sana mereka mengabarkan pada seluruh warga di kampung bahwa mereka telah membunuh geugasi. Semua orang sangat senang, apalagi Wak Minah dan ibu si Ahmad karena melihat anaknya kembali dengan selamat. Akhirnya kampung itu kembali aman dan damai.&lt;br /&gt;Kisah ini ditulis ulang Rahmawati dari lisan Bustamam (57 tahun), warga Pulo Lhee, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://blog.harian-aceh.com/geugasi-dan-geugasa.jsp" class="external free" title="http://blog.harian-aceh.com/geugasi-dan-geugasa.jsp" rel="nofollow"&gt;http://blog.harian-aceh.com/geugasi-dan-geugasa.jsp&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-6536107603469263663?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/6536107603469263663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/geugasi-dan-geugasa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6536107603469263663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/6536107603469263663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/geugasi-dan-geugasa.html' title='Geugasi dan Geugasa'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-2492560847373612625</id><published>2010-02-11T05:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T05:10:14.346-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><title type='text'>Kolang-Kaling</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari seekor ayam sedang mengais-ngais tanah untuk mendapatkan makanan, mungkin saja ia bisa mendapatkan seekor cacing tanpa menunggu majikannya memberikannya makan. Melihat ayamnya kelaparan, sang majikan segera mengambil beberapa biji beras kemudian memberikannya pada si ayam.&lt;br /&gt;Majikannya tersebut adalah seorang kakek. Kakek itu bernama Ibrahim, tapi sering di panggil Kek Him serta kakek itu terkenal dengan suaranya yang besar. Walaupun menurutnya ia berbicara dengan suara kecil, tapi bagi orang lain suaranya itu dapat membangunkan orang yang sedang tidur nyenyak.&lt;br /&gt;Kakek itu tinggal berdua dengan istrinya, sedangkan anak-anaknya semua sudah berkeluarga dan tinggal dirumahnya masing-masing. Selain bertani, kakek itu bekerja mengelola kebun kopi yang ada di belakang rumahnya serta memelihara hewan ternak, mulai dari kerbau, kambing sampai unggas. Di kampungnya kakek itu terkenal rajin karena setiap tahun lumbung padinya selalu terisi penuh. Istri kakek tersebut bernama Fatimah, biasanya dipanggil Nek Mah. Nenek itu sangat cerewet, tapi beliau sangat suka mendongeng. Apalagi, kalau suasana hatinya sedang baik. Kadang-kadang anak-anak kecil suka datang kerumahnya untuk mendengar ceritanya atau sekadar mengambil buah-buahan yang ada di halaman rumah sewaktu pulang dari balai seusai pengajian.&lt;br /&gt;Nek Mah juga sering di panggil Nek Latah. Panggilan itu menjadi nama sapaanya setelah ia menjadi latah yang disebabkan karena terkejut dengan harimau.&lt;br /&gt;Ceritanya begini, suatu malam, kambing di dalam kandang menjerit-jerit histeris. Nek Mah berpikir kalau saja ada pencuri yang akan mencuri kambingnya. Nek Mah yang berani segera mengambil panyot dan turun dari rumah panggungnya. Namun, ketika turun ia melihat banyak bakat harimau, kemudian tanpa berpikir panjang ia segera masuk kedalam rumah dengan tubuh bergetar dan duduk bersimpuh seperti orang ketakutan. Ia menceritakan hal itu kepada kek Him, tapi Kek Him tidak percaya karena tiba-tiba suara jeritan kambingnya berhenti.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Kek Him langsung memeriksa ke dalam kandang, untuk membuktikan perkataan Nek Mah. Mungkin saja tidak ada kambing yang hilang. Namun, Kek Him melihat jejak darah serta bakat harimau dan mengikutinya sampai ke semak-semak. Kemudian ia menemukan tubuh kambingnya sudah terkoyak-koyak, ternyata perkataan istrinya benar. Dari kejadian itulah, Nek Mah menjadi latah.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, anak sulung Nek Mah mengadakan acara khitanan anak lelakinya yang pertama. Kebetulan rumah anaknya itu jauh dari rumah mereka. Nek Mah dan kek Him di ajak menginap, tapi kek Him tidak bisa menginap karena tidak ada yang menjaga dan memberi makan ternak-ternaknya. Akhirnya, pulanglah Kek Him sendiri ke rumah. Setibanya di rumah, sudah waktu salat magrib, ia langsung menunaikan salat. Seusai salat ia langsung makan. Dia membawa gulai dari rumah anaknya. Di samping gulai itu, anaknya juga memmberikan kolang-kaling kesukaannya. Ia bermaksud untuk makan kolang-kaling tersebut setelah salat isya.&lt;br /&gt;Ia berangkat ke balai untuk salat Isya berjamaah. Sewaktu Kek Him pergi ke balai, seorang pencuri sudah mengintip rumah Kek Him yang kosong. Setelah yakin di rumah Kek Him tidak ada orang, dan pencuri itu sangat hapal kalau Kek Him biasanya pulang dari balai agak sedikit larut, masuklah pencuri tadi ke rumah Kek Him.&lt;br /&gt;Namun, hari itu bukan nasib baik si pencuri. Kolang-kaling kesukaan Kek Him masih terngiang-ngiang di kepala sehingga membuat Kek Him tidah betah lama-lama di balai. Setelah memanjatkat doa sejenak, ia meminta permisi kepada imam mesjid untuk segera pulang. Pencuri yang hendak mencuri ayam Kek Him mendengar suara tapak kaki dan derit bukaan pintu rumah, segera sadar bahwa Kek Him telah pulang. Ia bersembunyi di bawah rumah panggung itu. Kek Him yang hanya ditemani panyot itu segera membuka tudung nasinya dan memakan kolang-kaling di dalam panci sambil duduk di atas tikar pandan dan menikmati makanannya. Buah kolang-kaling itu sangat licin, sedangkan Kek Him tidak punya gigi. Dia berusaha untuk mengunyah kolang-kaling itu, tapi tidak bisa. Sambil makan, ia mengumpat-ngumpat karena kolang-kaling yang ia makan berlari ke kanan dan ke kiri.&lt;br /&gt;“Di mana kamu, mau lari kemana, kalau dapat aku makan kamu. Hayo-hayo lari kemana, heuh, heuh..”&lt;br /&gt;Spontan saja pencuri yang ada di bawah kolong rumah terkejut dan lari pontang-panting mendengar suara umpatan Kek Him yang sangat keras itu. Ia mengira umpatan itu ditujukan kepadanya. Sangking ketakutannya, pencuri tadi tidak melihat jalan yang sedang dilaluinya sehingga ia bertubruknya gerombolan remaja yang baru pulang dari balai.&lt;br /&gt;Melihat si pencuri lari tunggang langgang dari rumah Kek Him, para remaja yang tidak mengenal orang itu mulai curiga. Apalagi, lelaki ya menabrak mereka bukan penduduk kampung tersebut. Mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa itu pencuri. Mereka segera menangkap pencuri itu dan membawanya ke balai untuk diinterogasi.&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Kek Him yang tidak tahu apa-apa didatangi oleh remaja mesjid, lalu menanyakan kejadian semalam dan apakah ada barang-barang Kek Him yang hilang. Kek Him yang setengah terkejut itu mengatakan tidak ada barang yang hilang, ia cuma bilang kalau semalam ia mendengar suara gaduh di bawah rumahnya. Tapi, pikirnya mungkin itu cuma babi, tanpa memperdulikan hal itu, ia larut dalam kolang-kalingnya sambil berbicara sendiri-sendiri dan mengumpat-ngumpat karena tidak bisa mengunyah.&lt;br /&gt;Si remaja yang mendengar cerita itu tertawa dan langsung mengerti, mengapa si pencuri kabur dan tidak jadi mencuri. Kemudian, ia segera kembali ke balai lagi untuk menceritakannya kejadian itu pada pak keuchik. Semua orang yang ada di balai itu tertawa mendengar kekonyolan kejadian tersebut dan pencuri itu dilepaskan dengan syarat tidak mengulangi perbuatannya lagi.&lt;br /&gt;Ditulis oleh Fittriyani, Mahasiswa PBSI angkatan 2008 berdasarkan tuturan Ib Ali Yasin&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://blog.harian-aceh.com/kolang-kaling.jsp" class="external free" title="http://blog.harian-aceh.com/kolang-kaling.jsp" rel="nofollow"&gt;http://blog.harian-aceh.com/kolang-kaling.jsp&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-2492560847373612625?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/2492560847373612625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/kolang-kaling.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/2492560847373612625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/2492560847373612625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/kolang-kaling.html' title='Kolang-Kaling'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-939127466357333973</id><published>2010-02-11T05:08:00.000-08:00</published><updated>2010-02-11T05:09:15.387-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aceh'/><title type='text'>Asal mula Danau Laut Tawar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah dulu di Takengon pernah ada sebuah kerajaan, tdk diketahui secara jelas apa nm kerajaannya tapi yg pasti dikerajaan itu ada seorang putri yg bernama Putri Pukes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Pukes mencintai seorang pria dari kerajaan lain tapi hubungan mereka tdk disetujui oleh orang tua Putri Pukes. Tapi sang putri tetap teguh dgn keinginannya sehingga akhirnya terjadilah pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Putri Pukes akan pergi menuju kerajaan suaminya, orang tua yg dari awal hubungan mrk tdk setuju berpesan…"Jika kau sudah pergi meninggalkan kerajaan ini janganlah sekalipun engkau palingkan wajahmu ke belakang "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang putri yang saat itu bimbang antara sayang dgn org tuanya serta cinta pada suaminya ternyata tdk dpt menahan kesedihan akibat kehilangan itu . Serta merta saat perjalanan yang dikawal oleh bbrp prajurit itu sang putri tdk sadar memalingkan wajahnya ke belakang…tiba2 bersamaan dgn itu datanglah petir yg diiringi dgn hujan lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pengawal menganjurkan kepada putri utk berteduh di sebuah gua yang tdk jauh dr tempat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berteduh dan mrk akan melanjutkan perjalanan, para pengawalpun memanggil putri yg berdiri disudut sendirian. Tapi dipanggil berkali2 sang putri tdk menyahut, ternyata setelah didatangi badan sang putri sudah mengeras seperti batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang patung membatu sang putri sudah membesar dibagian bawahnya, tapi msh jelas bentuk sanggul dan perawakan yg mungil dari sang putri. Bagian bawah badannya yg besar katanya diakibatkan air matanya yg sampai skrg kadang2 msh jatuh. Kata sang penjaga jika org yg mengunjungi dan mengetahui kisah putri trus merasa sedih patung sang putri bisa saja tiba2 ikut mengeluarkan air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disana juga ada lubang tempat suami sang putri lari, yg ktnya sampai sekarang arwahnya msh sering menjaga sang putri…begitulah kt sang penjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat hujan deras tadi terjadilah Danau Laut Tawar yang sampai sekarang byk dikunjungi oleh orang. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-939127466357333973?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/939127466357333973/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/asal-mula-danau-laut-tawar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/939127466357333973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/939127466357333973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/asal-mula-danau-laut-tawar.html' title='Asal mula Danau Laut Tawar'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-7622586949465347158</id><published>2010-02-11T05:07:00.002-08:00</published><updated>2010-02-11T05:08:06.187-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Gua Keramat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita Rakyat Rembang&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada zaman dahulu, daerah Rembang Jawa Tengah pernah terjadi kekeringan yang panjang.Sungai-sungai kering. Orang desa berkumpul untuk berunding mencari jalan keluar. Salah satu penduduk mengusulkan agar menemui Kiai Mojo Agung di Tuban. Beliau dikenal sebagai kiai yang saleh.&lt;br /&gt;Akhirnya seluruh penduduk memutuskan untuk memohon bantuan Kiai Mojo Agung. Mereka menyampaikan maksud kedatangan dan Kiai Mojo Agung menyanggupi dan akan datang sendiri ke Rembang.&lt;br /&gt;Pada suatu hari dinantikan, Kiai Mojo Agung datang. Penduduk yang tampak miskin menyambut kedatangan Kiai MojoAgung.Hati Kiai Mojo Agung terharu menyaksikan keadaan penduduk. Lalu ia tancapkan tongkat besi ke tanah. Ia mulai berdoa. Ia berdoa cukup lama. Selesai berdoa, Kiai mengangkat kepalanya memandang berkeliling. Terdengar suaranya berkumandang.&lt;br /&gt;“Akan datang air dan kura-kura.”&lt;br /&gt;Dengan penuh keheranan,rakyat Rembang menyaksikan gunung batu karang tiba-tiba merekah dan dari guamengalir air jernih.Dalam air itu berenang ikan dan kura-kura.Rakyat Rembang berlutut di hadapan kiai.&lt;br /&gt;Rakyat senang dan memanfaatkan air itu.Kiai MojoAgung membuat tandaberupa gambar sebuah gunung pada dinding gua.Hanya air yang keluar dari gua yang boleh dipergunakan.Selesai itu Kiai Mojo Agung memegang tongkatnya lalu pulang ke Tuban.&lt;br /&gt;Hingga saat ini air dalam gua tersebut dianggap keramat oleh penduduk Rembang.Para orangtua menceritakan mukjizat yang dibuat Kiai Mojo Agung demi menolong rakyat Rembang.&lt;/p&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Amanat : Sesama manusia kita harus saling menolong karena setiap orang itu saling membutuhkan.Agar masalah yang dihadapi menjadi ringan karena bantuan dari orang.Apabila kita memberi bantuan kepada oranglain maka apabila kita membutuhkan pertolongan,kita akan diberi pertolongan dari orang lain.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut adalah:&lt;br /&gt;Nilai Religi&lt;br /&gt;Kiai Mojo Agung berdoa kepada ALLAH SWT untuk meminta bantuan agar air datang di daerah Rembang yang sedang mengalami kekeringan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nilai Sosial&lt;br /&gt;Kiai Mojo Agung mau membantu penduduk Rembang dalam menghadapi masalah tentang kekeringan.&lt;br /&gt;Nilai Budaya&lt;br /&gt;Masyarakat Rembang menganggap keramat air dalam gua tersebut hingga sampai saat ini.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;Sumber : http://sunarno.co.cc/id/?p=44&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-7622586949465347158?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/7622586949465347158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/gua-keramat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7622586949465347158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/7622586949465347158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/gua-keramat.html' title='Gua Keramat'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-3977224210902550254</id><published>2010-02-11T05:07:00.001-08:00</published><updated>2010-02-11T05:07:24.300-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatra Barat'/><title type='text'>Legenda Putri Hijau</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menurut legenda, dahulu di Kesultanan Deli Lama, sekira 10 km dari Medan, hidup seorang putri cantik bernama Putri&lt;br /&gt;Hijau. Kecantikan sang putri ini tersebar sampai telinga Sultan Aceh sampai ke ujung utara Pulau Jawa. Sang pangeran&lt;br /&gt;jatuh hati dan ingin melamar sang putri. Sayang, lamarannya ditolak oleh kedua saudara Putri Hijau, yakni Mambang&lt;br /&gt;Yazid dan Mambang Khayali. Penolakan itu menimbulkan kemarahan Sultan Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, lahirlah perang antara Kesultanan Aceh dan Deli. Konon, saat perang itu seorang saudara Putri Hijau menjelma&lt;br /&gt;menjadi ular naga dan seorang lagi menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh. Sisa&lt;br /&gt;“pecahan” meriam itu hingga saat ini ada di tiga tempat, yakni di Istana Maimoon, di Desa Sukanalu&lt;br /&gt;(Tanah Karo) dan di Deli Tua (Deli Serdang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangeran yang seorang lagi yang telah berubah menjadi seekor ular naga itu, mengundurkan diri melalui satu saluran&lt;br /&gt;dan masuk ke dalam Sungai Deli disatu tempat yang berdekatan dengan Jalan Putri Hijau sekarang. Arus sungai&lt;br /&gt;membawanya ke Selat Malaka dari tempat ia meneruskan perjalanannya yang terakhir di ujung Jambo Aye dekat&lt;br /&gt;Lhokseumawe, Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke&lt;br /&gt;Aceh. Ketika kapal sampai di ujung Jambo Aye, Putri Hijau mohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti&lt;br /&gt;diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, harus diserahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur.&lt;br /&gt;Permohonan tuan Putri itu dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, baru saja upacara dimula, tiba-tiba berhembus angin rebut yang maha dahsyat disusul oleh gelombanggelombang&lt;br /&gt;yang sangat tinggi. Dari dalam laut muncul abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga itu dengan&lt;br /&gt;menggunakan rahangnya yang besar itu, diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut.&lt;br /&gt;Lagenda ini sampai sekarang masih terkenal dikalangan orang-orang Deli dan malahan juga dalam masyarakat Melayudi Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SVOS3cEFNcI/AAAAAAAAAJw/eLOBYo0YlLg/s1600-h/meriam+puntung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 358px; height: 234px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SVOS3cEFNcI/AAAAAAAAAJw/eLOBYo0YlLg/s400/meriam+puntung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283728268959495618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di Deli Tua masih terdapat reruntuhan benteng dari Putri yang berasal dari zaman Putri Hijau, sedangkan sisa meriam,&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;penjelmaan abang Putri Hijau, dapat dilihat di halaman Istana Maimoon, Medan hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=23029 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-3977224210902550254?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/3977224210902550254/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/legenda-putri-hijau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3977224210902550254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3977224210902550254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/legenda-putri-hijau.html' title='Legenda Putri Hijau'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SVOS3cEFNcI/AAAAAAAAAJw/eLOBYo0YlLg/s72-c/meriam+puntung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-3274029626811007978</id><published>2010-02-11T05:05:00.002-08:00</published><updated>2010-02-11T05:06:58.174-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jambi'/><title type='text'>Batu Panjang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;(seperti diceritakan ayahandaku untuk pengantar tidurku diwaktu kecil)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Batu panjang sebuah dusun yang terdapat di Desa Sungai Jernih, Kecamatan Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi mempunyai legenda menarik tentang nama dusun tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Alkisah pada zaman dahulu kala, ada seorang&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;putri kecil yang tersisih dari kasih sayang keluarganya.Tiap malam sang putri &lt;span&gt; &lt;/span&gt;kecewa karena permintaannya tak pernah dikabulkan. Dia selalu minta sepotong &lt;span&gt; &lt;/span&gt;ikan yang dibawa oleh kakeknya dari hasil memancing yang sudah di masak untuk santapan makan malam keluarga. Sang putri minta&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;ikan itu ke kakek, namun kakek bilang minta ke nenek.Minta ke&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;nenek, nenek bilang minta ke ayahmu. Minta ke ayah, ayah bilang minta ke ibumu. Minta ke ibu, ibu bilang minta ke abangmu. Minta ke abang, abang bilang minta ke kakakmu. Kemudian si putri kecil menangis tersedu sedu diatas batu didepan rumahnya sambil memandang bulan purnama dalam keadaan sangat lapar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Sambil menangis dibawah cahaya bulan purnama dia menyanyikan sebuah lagu. Setiap selesai menyanyikan sebait lagu maka batu itu tambah tinggi, terus meninggi dan makin tinggi, maka dia menyanyi terus: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Tinggi … tinggilah engkau batu, biar kakek ku senang biar nenekku senang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Tinggi… tinggilah engkau batu biar ayahku senang biar ibuku senang, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Tinggi… tinggilah engkau batu biar abangku senang biar kakakku senang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Akhirnya, sampai tengah malam sang putri benyanyi, tanpa disadarinya ketinggian batu itu mencapai&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;bulan purnama yang bersinar cerah kepadanya seperti memanggilnya pada malam itu dan sang putri menginjakkan kaki ke bulan purnama, sesampai di bulan sang putri menendang batu tersebut dan batu itu roboh memanjang di bukit, maka dinamakanlah batu itu batu panjang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Sang putri mencapai kebahagiannya di bulan dan tersenyum manis dalam kedamaian, maka bagi orang kerinci masa lalu bila memandang bulan purnama, nampak gambar seorang putri yang sedang tersenyum ke bumi dengan cahayanya yang indah.Mengetahui sang putri berada di bulan, terpisah jauh dan tidak akan pernah bertemu lagi, keluarga menangis sedih dan menyesal karena tidak memberikan sang putri sepotong ikan di waktu makan malam itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;http://naizalnorewan.wordpress.com/category/legenda-batu-panjang/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-3274029626811007978?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/3274029626811007978/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/batu-panjang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3274029626811007978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3274029626811007978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/batu-panjang.html' title='Batu Panjang'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-2391697704225933354</id><published>2010-02-11T05:05:00.001-08:00</published><updated>2010-02-11T05:05:34.652-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatra Barat'/><title type='text'>Asal Usul Danau Maninjau</title><content type='html'>Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;* * * * *&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Alkisah, di sebuah daerah di Sumatra Barat ada sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami berupa abu gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan. Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani, karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak istri dan putranya ikut serta bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Sudah lama merendam selasih&lt;br /&gt;Barulah kini mau mengembang&lt;br /&gt;Sudah lama kupendam kasih&lt;br /&gt;Barulah kini bertemu pandang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah lama orang menekat&lt;br /&gt;Membuat baju kebaya lebar&lt;br /&gt;Sudah lama abang terpikat&lt;br /&gt;Hendak bertemu dada berdebar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rupa elok perangaipun cantik&lt;br /&gt;Hidupnya suka berbuat baik&lt;br /&gt;Orang memuji hilir dan mudik&lt;br /&gt;Siapa melihat hati tertarik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut. Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Buah nangka dari seberang&lt;br /&gt;Sedap sekali dibuat sayur&lt;br /&gt;Sudah lama ku nanti abang&lt;br /&gt;Barulah kini dapat menegur”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika roboh kota Melaka&lt;br /&gt;Papan di Jawa saya tegakkan&lt;br /&gt;Jika sungguh Kanda berkata&lt;br /&gt;Badan dan nyawa saya serahkan”&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar merasa bahagia karena cintahnya bersambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin hubungan kasih. Pada mulanya, keduanya berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena khawatir akan menimbulkan fitnah, akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga mereka masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa senang dan bahagia, karena hal tersebut dapat mempererat hubungan kekeluargaan mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran seringkali berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering membantu Bujang Sembilan bekerja di sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan, yaitu adu ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian dalam acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong pertanda acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama tampil bersama seorang lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya saling berhadap-hadapan di tengah arena untuk saling adu ketangkasan. Siapa pun yang menang dalam pertarungan itu, maka dia akan melawan peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil mengalahkan lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke arena gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang mampu mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan langsung menyerang Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. Mulanya, Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, namun semua serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat kemudian, keadaan jadi terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus menyerang Giran dengan jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. Giran pun terdesak dan kesulitan menghindari serangannya. Pada saat yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah tendangan keras kaki kirinya ke arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar, terpaksa menangkisnya dengan kedua tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, sakit...! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di tanah sambil menjerit kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun tidak mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam gelanggang tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni ketika cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, Datuk Limbatang bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Kedatangan orangtua Giran tersebut bukan untuk mengajari mereka cara bercocok tanam atau tata cara adat, melainkan ingin menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik saja?” sambung Kaciak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga kita, kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami merasa senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda yang baik dan rajin,” sambut si Kudun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,” seru Kukuban dengan wajah memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,” sambut Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata mencoreng mukaku di tengah keramaian?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan salah?” tanya Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban dengan ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu. Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si Giran, memikirkan hal yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu berpikir, namun belum juga menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun sepakat bertemu di tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai, untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan mengobati lukamu itu!” ujar Giran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya. Setelah itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati lukanya. Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan dan segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka Sani yang terkena duri,” kata Giran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!” bentak Kukuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan. Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi kesempatan untuk berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah. Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika Giran benar-benar tidak bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar. Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun menjelma menjadi ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat, Indonesia. Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan lama-kelamaan berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama gunung itu kemudian diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau. Sementara nama-nama tokoh yang terlibat dalam peristiwa itu diabadikan menjadi nama nagari di sekitar Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik, yaitu akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat dendam. Dendam telah menjadikan Kukuban tega menfitnah Giran dan Sani telah melakukan perbuatan terlarang. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat dendam dapat mendorong seseorang berbuat aniaya terhadap orang lain, demi membalaskan dendamnya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat dendam ini sangat dipantangkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;siapa tak tahu kesalahan sendiri,&lt;br /&gt;lambat laun hidupnya keji&lt;br /&gt;kalau suka berdendam kesumat,&lt;br /&gt;alamat hidup akan melarat&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Ivan Adillah. Cerita Rakyat Dari Agam (Sumatra Barat). Jakarta: Grasindo. 2004.&lt;br /&gt;photo danau maninjau : http://empimuslion.wordpress.com/2008/07/07/9-keajabain-alam-minangkabau/&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-2391697704225933354?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/2391697704225933354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/asal-usul-danau-maninjau_11.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/2391697704225933354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/2391697704225933354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/asal-usul-danau-maninjau_11.html' title='Asal Usul Danau Maninjau'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8336821548654661231.post-3519472350498471729</id><published>2010-02-11T05:04:00.002-08:00</published><updated>2010-02-11T05:05:05.008-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatra Barat'/><title type='text'>Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Danau Singkarak dengan luas 107,8 m2 merupakan danau terluas kedua setelah Danau Toba di Pulau Sumatra, Indonesia. Danau yang berada di ketinggian 36,5 meter dari permukaan laut ini terletak di dua kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, yaitu Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Menurut cerita, danau yang juga merupakan hulu Sungai Batang Ombilin ini dahulu memang merupakan lautan luas. Namun karena terjadi sebuah peristiwa yang luar biasa, air laut tersebut menyusut. Peristiwa Apakah yang menyebabkan air laut tersebut menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sumatra Barat, hiduplah keluarga Pak Buyung. Ia tinggal di sebuah gubuk di pinggir laut bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil bernama Indra. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Pak Buyung bersama istrinya mengumpulkan hasil-hasil hutan dan menangkap ikan di laut. Setiap pagi mereka pergi ke hutan di Bukit Junjung Sirih untuk mencari manau, rotan, dan damar untuk dijual ke pasar. Jika musim ikan tiba, mereka pergi ke laut menangkap ikan dengan menggunakan pancing, bubu ataupun jala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sudah berumur sepuluh tahun, Indra sering membantu kedua orangtuanya ke hutan maupun ke laut. Betapa senang hati Pak Buyung dan istrinya mempunyai anak yang rajin seperti Indra. Namun, ada satu hal yang membuat mereka risau, karena si Indra memiliki suatu keanehan, yaitu selera makannya amatlah berlebihan. Dalam sekali makan, ia dapat menghabiskan nasi setengah bakul dengan lauk beberapa piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, musim paceklik tiba. Baik hasil hutan maupun hasil laut sangat sulit diperoleh. Untuk itu, keluarga Pak Buyung harus berhemat terutama menahan selera makan. Mereka harus makan apa adanya. Jika tidak ada nasi, mereka makan ubi atau pun keladi (talas). Cukup lama musim paceklik berlangsung, sehingga mereka semakin kesulitan mendapatkan makanan. Hal itu rupanya membuat mereka lebih peduli pada diri sendiri daripada terhadap anaknya. Kesulitan mendapatkan makanan itu juga membuat mereka hampir berputus asa. Mereka sering bermalas-malasan pergi mencari rotan ke hutan dan mencari ikan ke laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah beberapa hari keluarga Pak Buyung hanya makan ubi bakar. Tentu hal itu tidak mengenyangkan perut si Indra. Suatu hari, Indra menangis minta makanan kepada kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, carikan saya makanan! Saya sangat lapar,” keluh Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, anak malas! Kalau kamu lapar carilah sendiri makanan ke hutan atau ke laut sana!” seru ayahnya dengan nada kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak! Bukankah anak kita masih kecil? Tentu dia belum bisa mencari makanan sendiri,` sahut sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, dia memang masih anak-anak. Tapi, dia yang paling banyak makannya,” bantah sang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar bantahan suaminya itu, sang Istri pun diam. Ia kemudian membujuk Indra agar berangkat sendiri ke Bukit Junjung Sirih untuk mencari hasil-hasil hutan di Bukit. Indra pun menuruti nasehat ibunya. Sebelum berangkat ke hutan, Indra terlebih dahulu memberi makan seekor ayam piaraannya yang bernama Taduang. Si Taduang adalah seekor ayam yang pandai. Setiap kali tuannya (si Indra) pulang dari hutan, ia selalu berkokok menyambut kedatangan tuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang, Indra pulang dari hutan tanpa membawa hasil. Keesokan harinya, ayahnya memerintahkannya pergi ke laut untuk memancing ikan. Saat Indra pergi ke laut, ayah dan ibunya hanya tidur-tiduran di gubuk. Tampaknya, mereka benar-benar sudah putus asa menghadapi kesulitan hidup. Keadaan demikian berlangsung selama sebulan, sehingga Indra merasa tubuhnya sangat lelah dan berniat untuk beristirahat beberapa hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, sepulang dari laut mencari ikan, Indra berkata kepada ayahnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah! Badanku terasa sangat letih. Bolehkah saya beristirahat untuk beberapa hari?” pinta Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa katamu? Dasar anak malas! Kamu tidak boleh beristirahat. Besok kamu harus tetap kembali ke laut mencari ikan,” ujar sang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena tidak ingin membatah perintah ayahnya, keesokan harinya Indra pergi ke laut mencari ikan. Ketika Indra berangkat ke laut, secara diam-diam ibunya juga berangkat ke laut. Tapi, ia menuju ke sebuah tanjung, agak jauh dari tempat Indra mencari ikan. Sementara ayahnya pergi ke hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siang, Pak Buyung kembali dari hutan dengan membawa seikat ijuk. Sesampainya di rumah, ia melihat istrinya sedang membersihkan pensi (sejenis kerang berukuran kecil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang apa, Bu?” tanya  Pak Buyung kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang membersihkan pensi, Pak! Tadi ketika hendak mencari ikan di laut, aku melihat banyak warga dari kampung tetangga sedang mencari pensi. Akhirnya aku pun ikut mencari pensi bersama mereka,” jawab istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana cara memasaknya? Bukankah Ibu belum pernah memasak pensi sebelumnya? ” tanya Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang, Pak! Kata seorang warga dari kampung tetangga, daging pensi enak jika dimasak pangek[1],” jelas istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kalau begitu, kita makan enak siang ini,” ucap Pak Buyung sambil mengusap-usap perutnya yang sudah keroncongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membersihkan pensi itu, sang Istri pun segera membuatkan bumbu dan memasaknya. Tak lama kemudian, aroma masakan pangek pun tercium oleh Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, harum sekali aromanya. Istriku memang pintar memasak,” puji Pak Buyung seraya mendekati istrinya yang sedang masak di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, apakah pangek ini cukup kita makan bertiga?” tanya Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja cukup,” jawab istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Ibu sudah lupa kalau si Indra makannya banyak? Pangek ini pasti tidak cukup dia makan sendiri,” kata Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita makan diam-diam, selagi si Indra masih berada di laut,” saran Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, sebentar lagi dia pulang,” kata istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau dia pulang, pasti akan ketahuan.,” ucap Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana Bapak bisa mengetahuinya!” tanya istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika si Taduang berkokok, berarti si Indra telah pulang,” jawab Pak Buyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Istri pun mengangguk-angguk mendengar jawaban suaminya. Keduanya pun menyantap pangek itu dengan lahapnya. Namun, baru makan beberapa suap, tiba-tiba ayam peliharaan Indra berkokok. Mendengar kokok ayam itu, kedua suami-istri itu segera mencuci tangan, lalu membereskan makanan dan menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Ketika Indra masuk ke gubuk, ia melihat kedua orangtuanya sedang duduk-duduk bersantai. Kedua orangtuanya terlihat tenang, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Indra! Mana ikan yang kamu peroleh?” tanya ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Ayah! Hari ini aku tidak memperoleh ikan?” jawab Indra dengan wajah kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kamu pulang kalau belum memperoleh ikan?” tanya ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Ayah! Saya sangat letih dan lapar,” jawab Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, apa yang bisa kamu makan kalau tidak memperoleh ikan?” sang Ayah kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah berusaha, Ayah. Tapi belum berhasil,” jawab Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, Ibu! Adakah sesuatu yang bisa saya makan. Sekedar pengganjal perut,” pinta Indra kepada kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Hari ini tidak ada makanan untuk anak pemalas,” kata ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Ayah! Saya lapar sekali,” keluh Indra sambil memegang perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah! Kamu boleh makan, tapi kamu harus mencuci ijuk ini sampai bersih,” sahut ibunya sambil menyerahkan ijuk yang tadi dibawa suaminya dari hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra pun segera pergi ke laut mencuci ijuk itu karena ingin mendapatkan makanan dari kedua orangtuanya. Ketika Indra berangkat ke laut, kedua orangtuanya kembali melanjutkan acara makan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, meskipun baru kali ini Ibu memasak pangek pensi, tapi rasanya lezat sekali,” sanjung Pak Buyung kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Istri tersenyum mendengar sanjungan suaminya. Kemudian sepasang suami istri itu makan pangek dengan lahapnya. Mereka baru berhenti makan setelah perut mereka benar-benar sudah penuh. Selesai makan, mereka kembali menyembunyikan makanan yang masih tersisa di bawah tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian, si Taduang terdengar berkokok, pertanda tuannya telah kembali dari laut. Ketika masuk ke dalam gubuk, Indra melihat kedua orangtuanya masih sedang duduk bersantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana? Apakah ijuk itu sudah bersih kamu cuci?” tanya ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, Bu,” jawab Indra sambil meletakkan ijuk itu di depan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah! Kenapa masih hitam begini? Kamu harus mencucinya hingga berwarna putih,” ujar ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Bu! Aku sudah berusaha mencucinya berkali-kali, bahkan aku menggosoknya dengan campuran pasir, tapi masih tetap berwarna hitam,” sanggah Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, alasan saja! Cuci lagi ijuk itu ke laut!” seru ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah sempoyongan, Indra pun kembali ke laut. Sesampainya di laut, ia terus berusaha mencuci dan menggosok ijuk itu hingga berkali-kali, tetapi tetap saja berwarna hitam. Rupanya Indra yang masih anak-anak tidak mengetahui jika ijuk itu memang pada dasarnya berwarna hitam. Meskipun ijuk itu berkali-kali dicuci dan digosok, tentu tidak akan pernah berwarna putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang senja, Indra kembali ke gubuknya. Ketika masuk ke ruang tengah gubuknya, ia tidak lagi melihat kedua orangtuanya duduk-duduk. Dengan pelan-pelan, ia melangkah menuju ke ruang dapur. Betapa terkejutnya ia ketika melihat kedua orangtuanya sedang tertidur pulas di ruang dapur. Di sekeliling mereka berserakan piring makan, bakul nasi, dan panci pangek pensi yang telah kosong. Hanya kuah dengan beberapa cuil daging pensi yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sedihnya hati Indra menyaksikan semua itu. Kini ia menyadari bahwa kedua orangtuanya telah menipu dan membohonginya. Namun, sebagai anak yang berbakti, dia tidak ingin marah kepada mereka yang telah melahirkannya. Ia pun berjalan keluar dari gubuknya sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya. Saat berada di luar gubuk, ia langsung menangkap ayam kesayangannya, si Taduang. Kemudian ia duduk di atas batu di samping gubuknya sambil mengusab-usap bulu si Taduang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taduang! Rupanya Ayah dan Ibuku telah menipuku. Untuk apalagi aku tinggal bersama mereka di sini, kalau mereka sudah tidak menyayangiku lagi,” kata Indra kepada ayamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pernyataan Indra, ayam itu pun berkokok berkali-kali, pertanda bahwa ia mengerti perasaan tuannya. Si Taduang kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya. Indra pun mengerti bahwa ayam kesayangannya itu akan mengajaknya pergi meninggalkan kampung itu. Dengan cepat, Indra pun segera berpegangan pada kaki si Taduang. Beberapa saat kemudian, si Taduang terbang ke udara, sementara Indra tetap berpegangan pada kakinya. Saat tubuh Indra terangkat, batu tempat Indra duduk itu juga ikut terangkat. Anehnya, semakin tinggi mereka terbang, batu itu semakin membesar. Akhirnya, si Taduang pun sudah tidak kuat lagi membawa terbang si Indra bersama batu besar itu. Melihat hal itu, Indra pun segera menyentakkan kakinya, sehingga batu besar itu melesat menuju ke bumi dan menghantam salah satu bukit yang ada di sekitar lautan. Hantaman batu itu membentuk sebuah lubang memanjang. Dengan cepat, air laut pun mengalir ke arah lubang itu dan menembus bukit, sehingga membentuk aliran sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, itulah yang menjadi asal mula Sungai Batang Ombilin, yang bermuara ke daerah Riau. Semakin lama air laut itu semakin menyusut, sehingga lautan itu berubah menjadi Danau Singkarak yang hingga kini menjadi kebanggaan masyarakat Solok. Sementara Indra yang diterbangkan oleh ayam kesayangannya, si Taduang, hingga kini tidak diketahui keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SY1Bcix8n1I/AAAAAAAAAKg/Xp8PCHuxE38/s1600-h/danau-singkarak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 402px; height: 275px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SY1Bcix8n1I/AAAAAAAAAKg/Xp8PCHuxE38/s400/danau-singkarak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5299964295113383762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak dari daerah Sumatra Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat suka mementingkan diri sendiri. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Pak Bujang bersama istrinya yang lebih mementingkan diri mereka sendiri dan melalaikan anak mereka yang sedang kelaparan. Akibatnya, mereka pun ditinggal pergi oleh anaknya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerja beramai,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;makan sendiri&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ivan Adilla.  Cerita Rakyat dari Solok (Sumatra Barat). Jakarta: Grasindo. 2005.&lt;br /&gt;Lukisan danau singkarak : SINGKARAK ; ERNST HAECKEL — One of the prints from Ernst Haeckel’s 1905 Wanderbilder (Travel Pictures),&lt;br /&gt;http://empimuslion.wordpress.com/2008/04/09/382/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8336821548654661231-3519472350498471729?l=ceritarakyatindonesia123.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/feeds/3519472350498471729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/asal-mula-sungai-ombilin-dan-danau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3519472350498471729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8336821548654661231/posts/default/3519472350498471729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatindonesia123.blogspot.com/2010/02/asal-mula-sungai-ombilin-dan-danau.html' title='Asal Mula Sungai Ombilin dan Danau Singkarak'/><author><name>Cerita Rakyat I Cerita Daerah I Dongeng nusantara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18029850865667113383</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AT-N4qkxvVs/SY1Bcix8n1I/AAAAAAAAAKg/Xp8PCHuxE38/s72-c/danau-singkarak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry
